#1: Hajimete – Ramadan Pertama di Jepang

Segala sesuatu itu mesti ada pengalaman pertamanya. Dan disitu tempat bagi kita untuk belajar lebih banyak dalam mengenali medan baru tersebut. Maklum, karena kita belum punya pengalaman tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika menghadapi suatu masalah tertentu. Yang ada hanyalah referensi dari orang lain terkait masalah tersebut dan solusinya. Namun, tetap saja beda cara penanganannya.

Termasuk untuk urusan Ramadan di perantauan, yang mana ini jadi pengalaman pertama saya (hajimete). Sedikit banyak, medan Ramadan ini sudah bisa saya bayangkan karena sebelumnya saya sudah melakukan pemanasan dengan shaum sunah. Tapi, tetap saja masih ada yang terasa hilang, karena saya kini tengah jauh dari keluarga, dan tentunya kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia saat Ramadan.

Lalu, apa yang menjadi pembeda antara Ramadan di Indonesia dan di Jepang?

1.    Atmosfer Ramadan

Satu hal ini tentu saja berbeda, yang mana Jepang bukanlah negara muslim. Jadi, saat-saat akan memasuki bulan Ramadan pun terasa kurang pengondisiannya. Beda halnya dengan di Indonesia, ketika akan masuk Ramadan hampir pasti ada tayangan dan iklan-iklan yang khas Ramadan. Dari situ otomatis kita bisa terkondisikan bahwa kita akan segera memasuki bulan Ramadan.

Yang saya ingat, biasanya saat akan masuk bulan Ramadan, iklan dan tayangannya Bang Dedy Mizwar pasti sering muncul di TV. Ditambah lagi dengan acara-acara sahur, kultum, dan berbuka. Tapi, di Jepang tidak ada tayangan seperti itu. Kecuali kalau kita sering memantengi streaming TV Indonesia.

Dan biasanya tempat-tempat hiburan ditutup. Restoran dan tempat makan biasanya tutup juga, kalaupun ada yang buka biasanya tidak secara blak-blakan karena menghormati yang berpuasa, dan juga sekolah-sekolah diliburkan. Tapi, di sini semua berjalan sebagaimana mestinya, tetap beraktivitas seperti biasa. Tidak ada restoran yang ditutup (pada siang hari), dan bahkan aktivitas belajar berjalan seperti biasa.

Yang paling dirindukan saat bulan Ramadan adalah beramai-ramai sholat Tarawih di masjid. Momen ini jadi pengikat silaturahim dengan para tetangga. Di sini pun, kami sholat Tarawih bersama orang Mesir, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia. Waktu isya sekitar jam 21.05, jadi kami baru selesai tarawih sekitar jam 22.30 dan harus bersiap-siap sahur sebelum jam 03.00 dinihari. Malam yang pendek bukan?

Ramadan juga jadi momen untuk mengisi jiwa kita dengan nutrisi. Jiwa ini membutuhkan nutrisi, dan nutrisi tersebut adalah ilmu. Kalau di Indonesia, sumber-sumber ilmu banyak: mulai dari pengajian, ceramah, kultum, dan tulisan-tulisan. Kalau di sini kami harus berinisiatif sendiri. Tapi, Alhamdulillah dengan adanya internet, mencari ilmu terasa lebih mudah.

2.    Waktu Berpuasa

Kalau di Indonesia mungkin sedang tertidur lelap, kami di sini sudah mulai sahur dan bergegas untuk masuk waktu sholat subuh pada jam 03.10-an. Dan waktu berbuka sekitar jam 19.10-an, jadi waktu berpuasa kami kurang lebih 16 jam. Tapi, perbedaan waktu ini sudah saya latih dengan shaum sunah sebelumnya. Jadi, tidak terlalu berat (terbiasa).

Yang unik, Ramadan 1433 H ini bertepatan dengan musim panas (natsu). Dan puncak musim panas (sekitar 35 – 38oC) nanti diperkirakan tanggal belasan Agustus. Ini artinya kami harus berpuasa di tengah musim panas dengan waktu sekitar 16 jam-an. Kalau lapar insya Allah masih bisa ditahan, yang mungkin menjadi tantangan adalah haus dan dehidrasi. Jadi, harus banyak minum ketika sahur.

Tahun Hijriah (Muharam – Dzulhijah) dan Masehi (Januari – Desember) terpaut 11 hari. Jadi, pada suatu waktu tertentu Ramadan akan bervariasi, dilihat dari segi musim dan waktu berpuasanya. Kalau saat ini (Ramadan 1433 H) kita berpuasa pada saat musim panas dan berpuasa 16 jam. Suatu saat kita akan berpuasa di musim dingin (fuyu) dan berpuasa sekitar 12 jam (waktu subuh 05.30, magrib 17.30). Itulah nilai lebihnya hidup di perantauan, kita bisa merasakan Ramadan yang bervariasi. Kalau di Indonesia, waktu dan musimnya tidak berubah sama sekali.

Memang puasa Ramadan di musim dingin lebih pendek, tapi karena cuaca dingin sehingga membuat kita cepat lapar. Sedangkan di musim panas, kita tidak cepat lapar tapi waktunya lebih lama. Betapa Allah Maha Adil. Variasi waktu Ramadan di perantauan pun jadi bukti keadilan Allah. Sebagai muslim minoritas, kita disuguhi dengan tantangan yang bervariasi karena harus menghadapi lingkungan, musim, dan waktu yang berbeda. Sedangkan di Indonesia, semua berjalan stabil, dan banyak orang Islamnya.

Tapi, yang pasti Allah tidak akan menyulitkan hamba-hamba-Nya yang berusaha beribadah kepada-Nya. Baik di musim apapun dan di lingkungan yang bagaimanapun, selama niat kita kuat karena Allah, niscaya Allah akan memberi kita kemudahan.

***

Sebagai seorang muslim di Jepang, Ramadan ini bisa menjadi ladang amal bagi kita untuk mengenalkan Islam. Orang Jepang suka bertanya, kenapa tidak makan dan minum? Karena ini bulan Ramadan, maka saya harus berpuasa (danjiki-sinakerebanarimasen). Bagi orang Jepang yang belum pernah mendengar tentang Ramadan dan kewajiban berpuasa, maka reaksinya pastilah kaget. Taihen desune (berat ya?), daijoubu desuka? (apa kamu baik-baik saja?)

Tapi, ternyata beberapa orang Jepang yang saya temui itu tahu tentang Ramadan ini: Sensei nihonggo, staf di International office, dan beberapa teman Japanese. Begitu saya ceritakan tentang Ramadan dan kewajiban berpuasanya, mereka mengangguk takzim tanda memaklumkan. Wakatta katanya. Saya paham. Dan mereka juga paham bahwa saya tidak boleh makan dan minum di siang hari. Setidaknya, mereka tidak akan mengajak makan atau berbicara tentang makanan. Itu yang nampak di luar bagi mereka. Bagi kita yang muslim, Ramadan ini jadi momentum berharga yang bukan sekedar menahan makan dan minum saja. Selamat Ramadan. ラマダンおめでとうございます。

One thought on “#1: Hajimete – Ramadan Pertama di Jepang

  1. siscaamellya

    Sangat menginspirasi sekali.. Menulislah Selagi Kita Masih Bisa Berkarya..🙂 Semangat..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s