#2: Berempati Kepada Mayoritas

Sebagai negara dengan berpenduduk muslim terbanyak, sudah sepatutnya Indonesia bersyukur. Karena dengan posisi seperti itu, justru (seharusnya) bisa saling menguatkan dalam hal ibadah. Bisa saling mengingatkan satu sama lain dan mengajak pada kebaikan bersama. Tapi, dengan posisi itu pula tantangan justru datang dari sesama umat muslim sendiri. Sebagai mayoritas, setiap tindak tanduk yang dilakukan akan menjadi penilaian bagi orang lain.

Jepang bukanlah negara muslim. Jadi, jangan bayangkan suasana Ramadan di sini sama seperti di tanah air. Yaitu ketika tayangan terebi (televisi) dan kesehariannya diubah layaknya nuansa agamis. Dan saya rasa masih banyak penyesuaian lain yang sengaja dilakukan di bulan Ramadan ini. Tapi, di Jepang lain. Untuk menyambut 1 Ramadan saja, kami disini terus memantau berita di tanah air tentang penentuan 1 Ramadan. Dan juga terus memantau berita perkembangan negara muslim terdekat, yaitu Malaysia—konon mengacu juga pada Indonesia.

Jika dalam negara mayoritas muslim, nuansa Ramadan pastilah terasa. Dan biasanya ada rasa saling senasib seperjuangan, kemudian muncul rasa empati karena persamaan-persamaan itu tadi. Ukhuwah (persaudaraan) juga muncul karena ada rasa senasib seperjuangan. Jangankan dalam komunitas besar, dalam organisasi pun yang notabene sebagai komunitas kecil, kita akan lebih cepat akrab pada orang yang senasib seperjuangan dengan kita. Atas dasar kesamaan-kesamaan, kemudian timbul empati.

Ramadan di tengah musim panas (natsu)

Tapi, sebagai muslim minoritas di negeri orang, saya justru merasakan ikatan ukhuwah itu lebih terasa. Karena merasakan adanya kesamaan-kesamaan itu tadi. Sama-sama merasakan perjuangan puasa di tengah orang-orang yang tidak puasa. Sama-sama berjuang untuk siang hari yang panjang, dsb. Jika di negeri mayoritas muslim, kita inginnya dihargai sebagai orang yang berpuasa. Shokudo (restoran) harus tutup di siang hari lah, hiburan malam harus ditutup lah, dan masih banyak keinginan kita lainnya untuk  dihargai.

Di Jepang sini, justru yang berlaku sebaliknya. Kita harus menyadari bahwa kita adalah muslim minoritas, jadi kita lah yang harus menghargai orang yang tidak berpuasa. Kalau di Indonesia, mungkin, makan secara terang-terangan di siang hari bulan Ramadan adalah hal yang tabu. Tapi, suasana Ramadan di Jepang tidak diketahui oleh orang-orang lokal. Meski ada beberapa, cukup banyak juga, yang tahu tentang Ramadan dan kewajiban berpuasanya.

Shokudo tetap buka sepanjang siang Ramadan

Shokudo (restoran) tetap buka, orang Jepang tetap berlalu lalang dengan makanannya dan pakaian musim panasnya. Ada juga teman Japanese saya yang  makan dan minum di depan saya. Oke, tidak masalah. Saya justru tidak enak kalau bilang kepada mereka bahwa saya sedang berpuasa, jadi tolong untuk tidak makan-minum di depan saya. Saya menyadari betul posisi saya, jadi saya biarkan saja dia.

Lagipula, sudah bukan seharusnya lagi kita masih tergoda dengan makanan dan minuman di bulan Ramadan ini. Ramadan ini menjadi ajang pembelajaran bagi muslim minoritas untuk berempati kepada mayoritas (non muslim). Dan setiap muslim menjadi agen untuk mengenalkan Islam kepada orang-orang Jepang, dan seringkali mesti belajar kepada mereka tentang kepatuhan dan loyalitas pada norma.  Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita kejar untuk mewarnai Ramadan ini.

Salam Ramadan dari Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s