#3 Insya Allah

Kadang-kadang kita terlalu merasa yakin dan optimis bisa mengerjakan suatu hal tertentu dan menjanjikan hasil sesuai dengan yang kita yakini tersebut. Namun, sebagai seorang muslim, hendaknya kita selalu melibatkan Allah sebelum segala sesuatu. Karena bagaimanapun, kita tidak pernah mengetahui kejadian yang akan datang, bahkan kejadian sedetik kemudian. Maka, hendaknya kita ucapkan Insya Allah jika akan menghadapi situasi yang berada di luar kehendak kita.

Pengucapan Insya Allah ini juga menjadi pertanda bahwa kita tunduk pada ketetapan Allah. Tapi, jika tidak, kita seperti orang sombong yang tengah melangkahi takdir Allah. Bahkan, Nabi Muhammad saw pun pernah mendapat teguran dari Allah ketika beliau terlupa mengucapkan kalimat ‘insya Allah’ sewaktu Nabi berdialog dengan utusan dari suku Quraisy yang bernama An Nadhar bin Al Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith.

Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan Insya Allah. Tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya.

Kemudian turun ayat dalam Q.S Al Kahfi [18]: 23-24, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” Ayat ini sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula ketika Nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Insya Allah berarti jika Allah menghendaki. Namun, makna Insya Allah itu sendiri sering disalahartikan sebagai kata ‘mungkin’. Maklum, sebagai orang yang berbudaya timur identik dengan budaya ramahnya. Sehingga saking ramahnya, kemudian menjadi seperti basa-basi dan paling tidak enak mengatakan ‘tidak’. Maka, pengucapan Insya Allah itu kemudian menjadi alasan.

Padahal sebenarnya tidak, pengucapan Insya Allah itu harus disertai tekad di dalam hati untuk menyanggupi, tapi toh kemudian kita tidak mengetahui apa yang bakal terjadi kemudian. Sesuai dengan janji kita atau tidak? Yang jelas, apa yang terjadi kemudian itu di luar kuasa dan kehendak kita. Dan hati-hati jika kita sampai menyanggupi janji tanpa mengucapkan Insya Allah, bisa terjadi apapun di kemudian hari dan kita termasuk orang munafik karena tidak menepati janji (ini yang sering diremehkan).

Teman saya suatu ketika pernah meng-SMS untuk bermain futsal, kemudian saya jawab “Insya Allah”. Tapi, kemudian dia membalas lagi, “Insya Allah-nya lebih ke iya atau gak?”. Saya langsung geli membaca SMS itu, langsung saya jawab lagi, “Insya Allah iya”. Jadi, mungkin baiknya kita menambahkan kata positif setelah Insya Allah untuk menepis kesalahpahaman.

Bagaimana kita mengucapkan Insya Allah kepada orang non-muslim? Ketika datang ke Jepang, saya awalnya juga bingung untuk membuat janji kepada orang Jepang. Ya, hanya orang Jepang, karena mereka notabene tidak beragama. Jadi, ketika saya ucapkan sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan Tuhan, mereka tidak akan mengerti. Maka, saya ucapkan dalam hati saja kata Insya Allah tersebut. Tapi, rasanya tidak ada masalah ketika kita membuat janji dengan non-muslim dan non-Japanese.  Kita bisa mengucapkan ‘God willing’ dan kemudian mengucapkan Insya Allah di dalam hati.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s