#4 Ramadan Terindah di Gunung Fuji, Jepang

Selama di Jepang ini, sebenarnya saya telah menuliskan nama-nama tempat yang wajib dikunjungi. Istilahnya yang menjadi landmark-nya Jepang harus saya singgahi. Hingga tersebutlah satu nama: Gunung Fuji. Tapi, sejujurnya tidak terbayang bagaimana saya bisa ke tempat yang satu ini. Mengingat lokasinya yang tidak familiar dan yang terbayang adalah cuacanya yang tidak mendukung.

Saya masih ingat ketika berdiskusi tentang ini dengan teman lab saya; bahwa kami ingin juga mendaki gunung Fuji, tapi tidak terbayang bagaimana caranya. Hingga hampir saja saya menghapus nama Gunung tertinggi di Jepang ini dari daftar tempat wajib dikunjungi. Dan kemudian, saya mencari-cari lagi tempat yang menjadi landmark-nya Jepang.

Hingga kemudian, di suatu hari kelas nihonggo, sensei menanyakan seputar hal yang ingin dilakukan. Terlontarlah kalimat fuji san ni noboritai desu (saya ingin mendaki gunung Fuji). Dan ternyata, kalimat tersebut bersambut baik karena sensei saya juga punya rencana yang sama di natsu yasumi (liburan musim panas) ini. Oke, terbukalah jalan, kemudian tinggal menghimpun orang agar perjalanan ini dapat terlaksana.

Awalnya, saya ragu karena pendakian ini bertepatan dengan bulan Ramadan 1433H. Maklum, kondisi cuaca terbaik pendakian untuk umum berkisar di bulan Juli – Agustus, saat musim panas. Tapi, setelah didiskusikan kemudian ditetapkan bahwa pendakian dimulai malam hari setelah berbuka puasa. Alhamdulillah, syukurlah. Nanti kami bisa sekalian sahur di puncak sambil menunggu subuh dan matahari terbit. Setelah fajar, kami bisa turun kembali dan segera pulang.

Oke, saya pikir tidak ada masalah. Selama ini kita suka beranggapan bahwa puasa itu malah bikin lemas, dan kita inginnya memanjakan diri sendiri dengan tidak melakukan aktivitas berlebih. Tapi, bukankah justru kemenangan demi kemenangan itu justru lahir saat bulan Ramadan? Sebutlah kemerdekaan RI dan perang badar. Maka, kemudian saya tekadkan bahwa saya juga Insya Allah bisa tetap berpuasa meskipun saya mendaki Gunung Fuji.

Kami—rombongan Indonesia, Jepang, dan asing lainnya—berkumpul dari Kanazawa untuk kemudian berangkat ke wilayah Kawaguchiko Station di prefektur Yamanashi. Jarak tempuh perjalanan sekitar 8 jam, begitu sampai tanpa menunggu lama kami langsung berbuka puasa dan sholat berjamaah. Kemudian memeriksa kembali persiapan kami menuju pendakian.

Bangunan berlatarkan Gunung Fuji yang tertutup kabut

Pendakian dimulai jam 20.30 JST, cuacanya bagus; tidak terlalu dingin tapi angin dan kabutnya yang agak kurang bersahabat, membuat mata perih. Sebenarnya, setiap orang bisa mendaki Gunung Fuji, mulai dari kodomo (anak-anak) sampai obaasan (orang tua). Karena sudah dibuatkan track pendakiannya. Hanya saja, stamina yang bagus tetap saja perlu karena pendakian ini memakan waktu lama. Rombongan kami hampir memakan waktu 8 jam, sudah termasuk transit, istirahat, dan menunggu teman yang kewalahan.

Waktu start juga sudah diperhitungkan agar kami bisa menyaksikan sunrise dari puncak. Banyak pelajaran dari pendakian, terutama tentang kesetiakawanan dan kepedulian. Betapa tidak, semakin banyak orang maka semakin banyak keinginan. Tapi, tidak setiap keinginan bisa terlaksana karena harus melihat kondisi teman kita juga. Ketika kita ingin cepat sampai puncak, kita juga harus peduli pada teman yang kewalahan dan dengan sabar mendampinginya.

Benar-benar harus sabar dan berempati pada kondisi teman. Dan kondisi seperjuangan seperti ini biasanya membuat kita bisa lebih “meraba” secara mendalam; apa yang teman kita rasakan dan juga apa yang seharusnya kita perbuat. Benar-benar filosofis. Dan setelah berjalan hampir lebih dari 5 jam, kami istirahat di setiap pos yang ditemui. Asal tahu saja, harga makanan dan minuman semakin ke atas semakin naik harganya. Begitu juga dengan toilet, saya baru menemukan toilet berbayar di Jepang ini.

Rata-rata orang yang mendaki adalah gaikokujin (orang asing), meski banyak juga nihonjin (orang Jepang). Saya juga heran, kenapa sebegitu antusiasnya orang mendaki Gunung Fuji? Padahal, secara pemandangan bisa dibilang biasa-biasa saja, kondisinya pun sedang gersang—jika fuyu (winter) tertutup salju. Apa sebegitunyakah orang-orang memperjuangkan prestise? Memperjuangkan untuk sampai ke titik tertinggi se-Jepang: Fuji, kemudian membagi pengalaman tersebut kepada orang-orang?

Ya, setidaknya ini juga bisa menguatkan motivasi. Saya lihat jam sudah menunjukkan 02.30 JST, waktunya sahur! Kami membuka bento dan menghabiskan semua perbekalan makanan. Hitung-hitung mengurangi beban tas juga. Benar-benar pengalaman yang unik! Di Ramadan 1433 H ini, jadi catatan sejarah untuk diri saya sendiri, buka puasa dan sahur di Gunung Fuji, di tengah orang-orang yang tidak berpuasa—bahkan yang tidak tahu tentang Ramadan.

Tidak terasa, ternyata sudah hampir 7 jam kami mendaki tapi puncaknya belum terlihat juga. Menurut palang informasi yang kami baca, Mt. Fuji summit tinggal 600 meter. Tapi, tertulis juga catatan waktu tempuhnya adalah sekitar 1 jam lagi. Kami pikir 600 meter itu tidak jauh tapi kenapa masih lama? Tapi baru kami mengerti karena semakin ke atas, jalur pendakian semakin kecil dan tidak “berbentuk” lagi. Cukup berbahaya juga karena di pinggir-pinggirnya lereng curam, ditambah kabut dan angin dingin. Track menuju puncak memang mengantre.

Waktu sudah hampir masuk waktu shubuh, kami mencari tempat terbaik untuk sholat. Awalnya, kami niatkan untuk sholat di puncak saja, mengingat tempatnya juga pasti luas. Namun, ternyata waktu tidak bisa diprediksi, kami tidak bisa mencapai puncak lebih awal. Jadi, kami sholat subuh di tengah perjalanan ke puncak. Setelah sholat, lalu kemudian kami bergegas menuju puncak untuk mengejar momen sunrise. Beruntung kami bisa sampai tepat waktu. Alhamdulillah.

at Mt. Fuji Summit (3.776 m)

Kami tidak bisa berlama-lama di puncak, mengingat kami ditunggu rombongan untuk berkumpul jam 09.30 dan angin juga tidak bersahabat. Rasanya bangga juga bisa mencapai titik tertinggi se-Jepang, awalnya momen ini tidak bisa kami bayangkan hingga akhirnya terlaksana juga. Setiap ada keinginan yang kuat, insya Allah di situ selalu terbuka jalan bagi yang mau berusaha. Memang saya belum pernah mencapai Mahameru—titik tertinggi se-Jawa, dan juga Puncak Rinjani di Lombok. Tapi, saya sudah mencapai puncak Gunung Fuji—Gunung tertinggi se-Jepang, hehehe … dan di bulan Ramadan pula.

Saat turun, kami terpisah-pisah menjadi beberapa kelompok. Mengingat kondisi badan orang berbeda-beda, jadi saya dan beberapa teman turun duluan untuk mengejar waktu: 09.30 JST on time! Jalanan turun lebih melelahkan, karena menahan beban yang lebih berat dan kaki lemas sisa-sisa pendakian. Pemandangan sekeliling tengah gersang, jadi sebenarnya pemandangannya tidak terlalu bagus. Saya jadi teringat ketika mendaki Bromo dulu, banyak yang bisa dilihat di sekeliling karena pemandangannya bagus luar biasa. Bagaimanapun kondisi alam di negeri orang, alam Indonesia tetaplah yang terindah.

Jadi, ini menguatkan hipotesis saya di awal; kenapa orang sebegitu antusiasnya mendaki Gunung Fuji? Kalau karena pemandangan mungkin bukan, tapi lebih kepada prestise. Ya, prestise, karena telah mendaki Gunung tertinggi dan paling terkenal se-Jepang. Tapi, setidaknya ada motivasi lain untuk saya, yaitu membuat catatan sejarah diri saya sendiri di momen Ramadan kali ini. Saya juga ingin membuktikan bahwa Ramadan bukanlah alasan kita tidak bisa produktif apalagi sampai mengasihani diri sendiri untuk tidak melakukan aktivitas fisik berlebih. Ramadan, Fuji san, ganbareba dekiru! (jika berjuang pasti bisa, insya Allah).

Fuji san, nobotta koto ga arimasu! yatta!

Our group (Photo taken by Irina Melnikova, thanks!)

 

4 thoughts on “#4 Ramadan Terindah di Gunung Fuji, Jepang

  1. Pingback: Tips Jalan-jalan di Jepang | .rizaldwiprayogo

  2. abu ikhsan

    Mantap mas rizal.
    puasa tapi masih kuat ndaki fuji san.
    Agustus ini rame kah ke fuji san?
    Thank

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s