Idul Fitri di Tokyo – Jepang

Ini pertamakalinya saya berlebaran idul fitri jauh dari keluarga. Sedari kecil saya memang tinggal dengan orang tua, jadi ketika idul fitri tidak usah mengikuti budaya kebanyakan orang: mudik ke kampung halaman. Tapi, justru dengan kondisi dekat dengan orang tua, saya jadi tidak bisa merasakan sensasi bagaimana kangennya ingin bersilaturahim.  Idul fitri kami jadikan momen silaturahim dengan keluarga-keluarga dekat.

Biasanya, pusaran berkumpulnya keluarga ada di rumah almarhum kakek saya yang juga tinggal di Bandung. Jadi, setiap kali Idul fitri saya hampir tidak pernah mudik, lah wong semua pada datang ke Bandung. Kalaupun harus mudik, itu pun untuk liburan saja, tapi setelah berkeliling ke rumah saudara-saudara di Bandung.

Tahun ini saya harus menikmati suasana idul fitri jauh dari keluarga. Tentu ada suka duka-nya. Dukanya dulu ya, pasti sudah umum lah, sepertinya saya tidak perlu mengutarakannya—homesick. Suka-nya, secara diksi bukan berarti saya “suka” dengan kondisi ini, tapi setidaknya ini jadi tantangan positif untuk saya pribadi. Yaitu saya jadi bisa belajar untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang tua. Belajar untuk mengurus semuanya di atas kaki saya sendiri.

Mengingat-ngingat budaya Indonesia pada saat Ramadan dan Idul Fitri membuat saya agak homesick, soalnya saya membayangkan bahwa Ramadan dan Idul Fitri adalah momen-momen keluarga. Pada waktu itulah, banyak momen yang bisa merekatkan kembali silaturahim. Tapi, di Jepang sini pun saya memiliki keluarga baru, yaitu mereka—orang Indonesia—yang sama-sama berada di perantauan dan jauh dari keluarga.

Kalau sedang berada di negeri orang dan bertemu dengan sesama orang Indonesia, terasa seperti ada “ikatan”, karena sama-sama berasal dari negeri yang sama. Inginnya langsung menyapa saja, meskipun tidak kenal. Apalagi melihat orang yang beratribut muslim, dari Indonesia pula, benar-benar serasa harus menyapa—sekali lagi meskipun tidak kenal. “Dari Indonesia?“, biasanya suka bertanya begitu dulu, setelah menjawab ya, kemudian obrolan pun berlanjut.

Menjelang Idul Fitri, di tanah air biasanya sedang ramai-ramainya dengan arus mudik. Karena saya tidak mudik, biasanya saya dan teman suka berkeliling masjid untuk itikaf. Ini yang memberi kesan tersendiri bagi saya. Berhubung malam-malam terakhir Ramadan di Jepang juga bertepatan dengan awal natsu yasumi (libur musim panas), setelah minta ijin sensei, saya coba untuk jalan-jalan—dengan 18kippu—dan menyambangi masjid-masjid di Jepang—masjid Nagoya dan masjid Kobe. Dan merasakan suasana berlebaran di KBRI Tokyo. Enaknya, momen Idul Fitri di Jepang tidak perlu bersusah-susah dengan kemacetan karena arus mudik dan arus balik.

Betapa rasa senang meliputi begitu melihat masjid di negeri dengan muslim minoritas ini. Beda rasanya jika melihat masjid ketika di Indonesia, benar-benar terasa seperti menemukan oase yang luarnya menyejukkan dan di dalamnya menghangatkan dengan keramahan orang-orangnya. Saya singgah di masjid Nagoya dan masjid Kobe.

Berfoto di depan Masjid Nagoya (kiri) dan Masjid Kobe (kanan – masjid tertua di Jepang)

Saya tiba di Tokyo saat malam takbiran, bedanya di Jepang sini tidak ada suara takbir yang menggema dari menara-menara. Suasana Idul Fitri tidak begitu terasa. Saya jadi teringat ketika di tanah air, betapa malam takbiran adalah malam hari raya. Malam di mana setiap muslim bergembira karena menyambut lembaran baru setelah Ramadan dan momen bersilaturahim. Tapi, di Jepang sini, saya bertakbir lirih di tengah kerumunan orang-orang di stasiun Tokyo. Orang-orang Jepang itu mana tahu bahwa esok adalah hari raya umat muslim. Mereka tetap saja dengan rutinitas mereka yang kaku: bekerja siang malam.

Momen Idul Fitri di Tokyo berpusar di daerah KBRI Tokyo, sholat ied di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) dan kemudian halal-bihalal di KBRI Meguro. Ternyata banyak sekali orang Indonesia yang sepertinya sengaja datang dari luar Tokyo. Dan suasana di KBRI sudah seperti rumah sendiri dan di negeri sendiri. Sayangnya, kalau sudah kumpul antar sesama orang Indonesia, kebiasaan-kebiasaan jelek orang Indonesia suka muncul lagi: tidak mau antre, buang sampah sembarangan, dsb.

Suasana sholat ied di Balai Indonesia (SRIT)

Sekolah Republik Indonesia Tokyo (disingkat SRIT) – sekolah bagi anak-anak Indonesia di Tokyo

Antrean pembagian zakat😀 (ralat: open house KBRI Tokyo)

Silaturahim dengan keluarga, terutama orang tua, tetap bisa dilakukan dengan menggunakan fasilitas internet: skype dan email. Meskipun begitu, tetap saja silaturahim dengan fasilitas teknologi informasi tersebut tidak dapat menggantikan kontak fisik. Budaya sungkem dan cium tangan kepada orang tua adalah momen berharga. Manusia tetap perlu bertemu muka secara langsung untuk saling menyapa dan mempertautkan emosi. Karena bagaimanapun, manusia adalah makhluk emosi dan sosial, bukan robot yang bertindak secara kaku.

Seperti kebiasaan di tanah air, setelah sholat ied dan makan-makan, kami lanjutkan untuk silaturahim keliling. Bedanya, suasananya biasa saja. Hanya kami saja orang Indonesia—dan sesama muslim—yang merasakan sedang berhari raya. Kesamaannya, momen Idul Fitri adalah momen makan-makan😀. Alhamdulillah, berkah silaturahim Ramadan dan Idul Fitri membuat saya tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk makan dan menginap selama 6 hari. Silaturahim melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Setelah itu kami lanjut dengan jalan-jalan lagi.

Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H, taqobalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin😀, salam dari Jepang

3 thoughts on “Idul Fitri di Tokyo – Jepang

  1. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah | lazionews.info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s