Menikmati Berbagai Event dan Jalan-jalan di Jepang

Otak kita terdiri dari belahan kiri dan kanan. Otak kiri biasa kita isi dengan hal-hal yang berbau eksak, sedangkan otak kanan perlu juga kita isi dengan imajinasi. Agar keduanya seimbang, maka setidaknya lakukanlah refreshing di tengah rutinitas kita berkutat dengan pekerjaan sehari-hari. Dan hati-hati terhadap rutinitas, karena rutinitas bisa membunuh kreativitas kita. Berikut saya ingin berbagi pengalaman bagaimana menikmati refreshing ala Jepang, yaitu menikmati berbagai event dan jalan-jalan.

Menikmati event ala Jepang

Hal ini tidak boleh sampai terlewat bagi Anda yang sedang tinggal di Jepang. Apa pasal? Karena setiap event di Jepang biasanya menampilkan atraksi khusus yang hanya ada di Jepang. Dan setiap event tersebut biasanya bergantung juga pada musim. Misalnya saja, pada musim semi (haru), ada event hanami (hana = Bunga, mi = melihat). Jadi, hanami artinya melihat bunga-bunga sakura yang sedang bermekaran.

Pada musim panas (natsu), biasanya ada event hanabi (hana = bunga, bi = api—diambil dari kanji api). Jadi, hanabi artinya festival kembang api. Hanabi bukanlah festival kembang api biasa, karena orang-orang Jepang sangat menunggu festival ini. Biasanya, orang Jepang memakai kimono dan segera mencari lapak (spot) terbaik untuk melihat hanabi sedekat mungkin. Biasanya juga, hanabi berlangsung di pinggir sungai besar atau area yang dekat dengan perairan besar.

Sedangkan untuk musim gugur (aki) dan musim dingin (fuyu), saya belum bisa memberikan banyak komentar karena saya baru merasakan dua musim di Jepang, sejak bulan April 2012 kemarin, hehe …

Sedangkan untuk event yang tidak bergantung musim, di Jepang pun banyak event yang jangan sampai dilewatkan. Lagi-lagi, event ini kebanyakan menampilkan atraksi yang benar-benar hanya ada di Jepang. Misal saja matsuri (semacam festival), dimana orang-orang memakai pakaian adat Jepang dan memainkan alat musik Jepang. Untuk di domisili saya, Kanazawa, bulan Mei kemarin ada hyakumangoku matsuri. Jangan sampai melewatkan kesempatan mencoba hal-hal baru di event-event ini.

Jika tidak tahu event yang akan berlangsung, sebaiknya segera cari tahu di internet. Di setiap kota biasanya jenis event-nya berbeda-beda. Atau bisa jadi, event-nya sama tapi jadwalnya berbeda di setiap kota. Jadi, kalau ketinggalan event di kota sendiri (misal karena sibuk akademik), kita bisa mengecek jadwal event yang sama di kota terdekat untuk menonton langsung. Tapi, tidak perlu khawatir, sesama anggota organisasi PPIJ (per Komsat) biasanya dengan senang hati akan saling bertukar informasi.

Jadi, jangan abaikan milis ataupun Grup FB sesama anggota PPIJ (per Komsat), biar nanti bisa terus ter-update informasi. Dan lebih seru lagi, kita bisa berangkat bersama ke tempat event. Seru bukan?

Hanami PPI Ishikawa

Menikmat jalan-jalan di Jepang

Selama saya di Jepang, saya berprinsip bahwa untuk urusan bayar sewa apato, listrik, gas, telepon, dan makan, harus bisa ditekan seminimal mungkin. Tapi, kalau untuk urusan jalan-jalan dan apapun selama itu mendatangkan wawasan dan pengalaman baru, saya sudah tidak perhitungan lagi. Selama itu masih dalam batas wajar pengeluaran. Jujur saja, pengeluaran terbesar beasiswa saya alokasikan untuk jalan-jalan. Selebihnya saya tabung. Maka dari itu, untuk menghemat sektor konsumsi, saya biasa masak sendiri dan membawa bento. Untuk transportasi, saya selalu menggunakan sepeda—jangan tanya jadwal bis karena saya tidak tahu.

Mumpung sedang berada di Jepang. Eksplor segala hal apapun yang akan mendatangkan wawasan dan pengalaman baru untuk kita. Jelajahi setiap objek wisata, susuri setiap gang-gang jalan, nikmati segala suasananya, dan rasakan kedekatan emosi dengan orang-orang Jepang. Jalan-jalan tidak mesti ke luar kota, bahkan di dalam kota pun bisa menyuguhkan pengalaman yang unik. Tapi, berambisi-lah untuk bisa menjamah setiap kota di Jepang.

Sejauh ini, syukur alhamdulillah saya sudah menjamah tujuh kota besar di Jepang: Gifu, Fukui, Tonami dan Kurobe (Toyama-ken), Osaka, Nagoya, Kyoto, Kobe, Tokyo. Dan setiap kota memberikan pengalaman yang unik untuk saya. Mulai dari pengalaman kecewa, takjub, hingga merasa kampungan pun pernah saya rasakan. Ya, kecewa karena objek yang dituju tidak seperti yang gencar di promosi; takjub karena bisa mencapai objek yang selama ini diimpikan; hingga merasa seperti ‘Kabayan saba kota’: anak desa yang datang ke kota besar.

Universal Studios Japan – Osaka

Sejauh pengalaman saya, Jepang sangat baik manajemen pariwisatanya. Semuanya terintegrasi dengan baik sesuai dengan jadwal transportasi ke objek wisata. Informasi tersedia lengkap di web japan-guide.com. Tapi, lain Jepang lain Indonesia, kalau untuk objek wisata alam, Indonesia tetaplah yang juara. Tinggal dibenahi saja manajemennya.

Untuk jalan-jalan ke luar kota sebaiknya dibuat itinerary secara detail. Termasuk transportasi, rencana pengeluaran, tempat menginap, jadwal kereta, dan cadangan uang. Maklum, bagi yang belum pengalaman, agak sulit bagi kita untuk menerka-nerka harga atau pengeluaran tak terduga. Lagipula, ini di negeri orang yang tidak sembarang orang boleh numpang menginap. Dan lagi, orang Jepang agak canggung jika ketemu orang asing.

Idealnya, kita bisa menikmati semua objek wisata dengan budget terendah bukan? Ya, saya juga sependapat. Maka, variabel yang harus diperhatikan adalah waktu dan tempat. Pada saat natsu yasumi (liburan musim panas), biasanya tersedia seishun 18 kippu (baca: seishun juuhachi kippu) seharga 11.500 Yen dan bisa digunakan untuk berkeliling Jepang selama 5 kali pakai (1 hari = 1 kali pakai) untuk satu orang. Atau bisa juga udunan 5 orang untuk menggunakan selama 1 hari. Moda transportasi yang digunakan adalah densha (kereta)—kelas ekonomi.

Ini biasanya yang menjadi andalan para siswa dan mahasiswa di Jepang, termasuk saya. Maklum, ongkos transportasi di Jepang tergolong mahal. Maka, pakai kesempatan ini untuk menjelajah. Cuma, konsekuensinya adalah kita akan sering berganti-ganti kereta (nori-kae — transfer), jadi harus sigap dan jangan sampai tertidur sewaktu akan berganti kereta. Dan jangan lupa, saya selalu mengecek web hyperdia.com untuk memantau jadwal kereta. Jangan sampai telat barang sedetik pun karena kereta tidak akan pernah menunggu.

Bagi yang masih awam dengan huruf-huruf kanji, hiragana, dan katakana, sebaiknya tidak pergi sendiri karena akan menyusahkan diri sendiri dan kemudian bisa jadi menyusahkan orang lain karena nyasar. Setidaknya, coba dulu bepergian hingga punya pengalaman, baru kemudian bisa jalan-jalan sendiri. Atau bisa juga jalan-jalan dengan bis yang akan mengantar langsung ke tempat tujuan tanpa berganti-ganti bis dan tentunya lebih nyaman—konsekuensinya lebih mahal.

Saya punya tips bagi Anda yang mungkin masih bingung tentang sistem transportasi di Jepang, terutama densha. Satu hal yang perlu diperhatikan, sistem transportasi di Jepang sangatlah terintegrasi. Jadwal densha yang satu dan lainnya saling terhubung. Maka, keterlambatan adalah hal yang ‘haram’ karena akan mengganggu sistem keseluruhan. Usahakan kita juga selalu berpacu dengan waktu dan jangan remehkan toleransi keterlambatan.

Jika kita masih bingung akan naik densha apa, jenisnya bagaimana, bahkan mungkin tujuannya masih samar karena ditulis dengan huruf kanji, maka pastikan kita selalu melihat jadwal keberangkatannya. Insya Allah pasti tidak akan meleset. Saya pun begitu, ketika saya bingung naik densha line berapa dan jenisnya bagaimana, maka saya cocokkan saja jadwalnya dengan yang saya catat dari hyperdia.com, kemudian saya bergegas ke densha yang dimaksud. Dan tidak meleset! Begitulah ‘ajaib’-nya penghargaan terhadap waktu di Jepang.

Itulah sebabnya, mengapa orang luar negeri—terutama Jepang, ketika berjalan mereka amat bergegas. Karena mereka berpacu dengan waktu dan sistem. Orang Jepang itu lebih sibuk membangun sistem dan kemudian membiarkan sistem (mesin) yang bekerja hingga tidak menyisakan toleransi terhadap kesalahan dan keterlambatan. Beda halnya jika sistem dijalankan oleh manusia yang masih amat toleransi dengan kesalahan dan keterlambatan.

Nagoya Port Aquarium – Nagoya

Untuk variabel tempat, sebaiknya kita menyesuaikan dengan kemampuan diri kita (fisik dan keuangan). Jangan terlalu memaksakan ingin mengunjungi semua tempat jika fisik kurang mendukung. Pun jika keuangan tidak memungkinkan, jangan terlalu memaksakan diri. Selalu cek keberadaan teman-teman kita di kota yang ingin dikunjungi, ini bisa jadi penghematan pengeluaran untuk tempat menginap, hehe😀. Dan jangan lupa, bawakan omiyage (oleh-oleh) untuk teman yang akan kita datangi dan menginap di sana. Ini juga bentuk keberkahan dari silaturahim bukan?

Sewaktu saya ke Kobe, saya belum ada ‘tumpangan’ di sana. Berhubung waktu itu bulan Ramadan, jadi saya niatkan itikaf di masjid Kobe. Dan kemudian saya bertemu banyak teman-teman Indonesia di sana. Ini juga saya niatkan sekalian silaturahim, karena kita selalu merasa ada ikatan dengan sesama orang Indonesia di perantauan. Setelah itikaf semalam di masjid Kobe, teman ngobrol saya semalam mengajak main ke apato besok paginya. Coba bayangkan, bagaimana orang yang baru dikenal bisa diajak main ke rumah? Ini berkah silaturahim, apalagi ini di perantauan dan pasti merasa ada ikatan itu tadi.

Dan jangan kira tuan rumah adalah orang yang serba tahu tentang kondisi kotanya. Teman yang saya kunjungi sewaktu di Osaka malah baru punya kesempatan jalan-jalan setelah saya dan beberapa teman yang lain datang ke Osaka dan minta dia untuk jadi guide-nya. Ada lagi kenalan saya di Kobe yang malah belum pernah kemana-mana, katanya sih sibuk dengan pekerjaannya sehari-hari. Maklum, dia berstatus sebagai pekerja di perusahaan Jepang yang notabene sangat strict terhadap jadwal libur.

Selain melakukan perjalanan sendiri, pihak kampus biasanya juga mengadakan study tour, field trip, atau apapun bentuknya. Yang pasti, itu jauh lebih murah karena disubsidi oleh kampus. Maka, pantau juga informasi tentang kampus yang biasanya mengirimkan informasi lewat email. Tapi, konsekuensinya kita tidak bebas memilih tempat yang mau dituju. Kita harus manut pada aturan penyelenggara perjalanan.

***

Jangan dikira jalan-jalan hanya sebatas pada mengunjungi tempat-tempat tertentu, mengambil gambar di sana, kemudian puncaknya adalah mengunggahnya (upload) ke media sosial. Bukan, bukan itu. Perjalanan adalah pembelajaran. Ya, saya meyakini benar bahwa perjalanan adalah pembelajaran. Wahana dimana kita bertemu dengan medan yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, kemudian kita jelajahi hingga kemudian kita menemukan suatu wawasan dan pengalaman baru.

Memang kita mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk perjalanan kita, tapi bukankah kita juga mendapatkan banyak (pembelajaran dan pengalaman) dari perjalanan tersebut? Bolehlah kita mengatakan bahwa teman kita tidak mengeluarkan sepeser pun uang untuk melakukan perjalanan, tapi apakah yang dia dapatkan (pengalaman dan pembelajaran) juga sebanding?

Jalan-jalan itu untuk menghadirkan rasa kebersyukuran dan keagungan Allah melalui ciptaan dan nikmat-Nya. Setidaknya dalam perjalanan membuat kita bisa bersyukur dan ada momen tertentu dimana kita mendapat hikmah dan saat itu juga kita berdoa kepada Allah. Dan rasa itu hadir dengan getaran yang beda, karena hadir setelah merasakan sensasi perjalanan.

Kita dapat nilai lebih karena sudah mengunjungi tempat-tempat baru, bertemu hal-hal baru, menemui kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, belajar tentang pengalaman unik, dan masih banyak lagi. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajah, mumpung punya kesempatan sedang berada di negeri orang. Raih sebanyak mungkin hikmah di perjalanan, rengkup semua pembelajaran, dekap setiap pengalaman, hingga kemudian itu bisa kita jadikan manfaat dalam perjalanan hidup kita selanjutnya.
Ja, ryokoushimashoo … (let’s travel the world—Japan).

Night view at Odaiba, Tokyo. Very romantic.

2 thoughts on “Menikmati Berbagai Event dan Jalan-jalan di Jepang

  1. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah | bijak.net | inspirasi.me

  2. Pingback: zaelani.tcm: Cerita Hikmah | lazionews.info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s