Grand Design, Sistem, dan Kemandirian Energi

Saya sampai pada kesimpulan bahwa orang-orang Jepang itu lebih sibuk membangun sistem, dan kemudian membiarkan sistem (mesin) itu bekerja mengatur semuanya. Dan setiap elemen yang berada dalam sistem tersebut manut pada aturan sistem yang dibuat secara kaku, tidak seperti diatur oleh manusia yang notebene banyak toleransi terhadap kesalahan.

Ya, bisa dibilang setiap hal yang bisa dikerjakan oleh mesin (sistem) ya dikerjakan oleh mesin. Tidak perlu memakai tenaga manusia lagi. Sering saya temui alat pelayanan publik yang bekerja secara otomatis, mulai dari penjualan kippu (tiket), jidohanbaiki (vending machine), bahkan sedetail toire (toilet) pun dirancang sedemikian otomatisnya—sampai saya bingung mencari putaran kerannya.

Ini yang saya salut dari orang-orang Jepang, karena mereka tidak hanya berpikir bagaimana menyelesaikan pekerjaan untuk 1-2 tahun ke depan, tapi juga supaya bisa berkelanjutan. Maka dari itu, membangun sistem adalah bagian dari proyek sustainability tadi. Dan proses membangun sistem juga sebagai bentuk upaya menciptakan keteraturan yang berkelanjutan. Kemudian kita sebut saja sebagai grand design. Ya, landasan awal kita ketika ingin membangun sebuah sistem.

Saya berikan ilustrasi untuk grand design ini, terutama tentang sistem transportasi—denshadi Jepang. Dari pengalaman saya hilir-mudik di Jepang dengan densha, saya benar-benar merasakan sebuah sistem transportasi yang rapi, terintegrasi, dan nyaman. Bahkan ide tulisan ini pun muncul ketika saya sedang jalan-jalan.

Salah satu model densha di Jepang – JR Hokuriku Line

Sulit logika saya menerima, bagaimana bisa jadwal kereta sebegitu banyaknya tidak ada yang terlambat barang semenit pun? Konon, katanya jika sampai terlambat dua menit saja, maka rusaklah semua sistem dan jadwal. Soalnya, antar jadwal yang satu dan lainnya saling terintegrasi. Tidak ada kata toleransi keterlambatan. Tidak ada istilah menunggu penumpang, jika sudah waktunya maka densha akan berangkat meskipun gerbongnya kosong penumpang.

Dan yang membuat saya kagum, sewaktu saya menggunakan 18 kippu (baca: juuhachi kippu) yang mana harus melakukan transfer antar densha, jadwal kedatangan densha yang satu sudah sangat diatur sedemikian rapinya dengan jadwal keberangkatan densha yang lain. Jadi, jarak waktu ketika saya turun dari densha ke waktu saya naik densha lagi sudah diperhitungkan. Termasuk lamanya berjalan dari line ke line.

Jadwal yang tidak mengenal jam karet

Sulit dibayangkan sudah berapa kali trial-error yang dilakukan untuk menemukan titik kesetimbangan dalam sistem transportasi ini. Luar biasa bukan? Dan sistem yang dijalankan dengan mesin akan lebih bisa mengurangi kecurangan-kecurangan dan mempermudah pekerjaan manusia. Lantas, kalau mesin yang bekerja, manusianya kerja apa? Ya manusianya sibuk bekerjalah membangun sistem. Benar?

Kemandirian energi

Berbicara tentang grand design, tentu erat kaitannya dengan sumber energi untuk menjalankan sistem tersebut. Saya menyebutkan di atas bahwa jika sudah waktunya, maka densha akan berangkat meskipun gebongnya kosong penumpang. Tidak ada istilah menunggu penumpang. Ya, itu memang benar. Lantas, kemudian logika kita berpikir: apa tidak rugi? Mengingat transportasi di Indonesia akrab dengan istilah menunggu penumpang (ngetem) sampai penuh, baru kemudian berangkat.

Ya, awalnya pun saya berpikir seperti itu. Namun, jangan samakan sistem di Indonesia dengan di Jepang. Maklum, Indonesia menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi terbesar. Maka, kita bisa beranggapan bahwa suatu saat sumber energi itu pasti akan habis. Kemudian, kita menghemat-hemat dengan jalan yang tidak wajar—ngetem dll. Alhasil, sistem yang ingin dibangun tidak bisa terlaksana karena ada hambatan sumber energi tadi. Dan ini berdampak sistemik. Awalnya kita idealis ingin disiplin dan tepat waktu, tapi berakhir realistis karena faktor lain.

Pemerintah Indonesia pun sedang mengkampanyekan hemat energi. Ini lantaran sumber energi terbesar kita berasal dari bahan bakar fosil yang suatu saat akan habis. Ini artinya, kita belum bisa membangun kemandirian energi. Imbasnya, kita belum bisa membangun grand design secara utuh, karena ujung-ujungnya terkendala sumber energi.

Sedangkan Jepang menggunakan Nuklir sebagai sumber energi terbesarnya (sampai 2012, belum ada kabar terbaru semenjak tsunami 2011). Jadi, sistem yang berjalan di Jepang menggunakan energi dari Nuklir. Densha menggunakan listrik dari tenaga Nuklir, lampu-lampu kota menggunakan tenaga Nuklir, industri, hingga pertokoan. Jadi, apa perlu mereka memikirkan tentang penghematan energi? Jikapun perlu, tentu itu berkaitan dengan tagihan listrik individu.

Jadi, orang-orang Jepang lebih memikirkan bagaimana supaya sistem tetap berjalan meskipun sedang ‘ditinggal’. Mereka memiliki kemandirian energi, maka sudah sepantasnya mereka juga berlaku sesuai dengan yang mereka inginkan dalam sistem mereka. Ini yang membuat sistem transportasi di Jepang terintegrasi sedemikian rapinya, dan tentu saja untuk sistem-sistem yang lainnya.

Dugaan awal saya sebagai awam, bahwa grand design baru bisa kita jalankan secara ideal jika sudah punya kemandirian energi. Artinya, sistem tidak akan tersendat-sendat hanya karena bahan bakar habis atau daya tidak kuat, dan semacamnya. Mohon analisis saya ini dikoreksi sekiranya tidak tepat atau tidak memiliki landasan yang kuat. Ini hanyalah hipotesis, diskusi saya persilakan.

5 thoughts on “Grand Design, Sistem, dan Kemandirian Energi

  1. jera

    alus euy jal , yah koment saya mudah2an suatu saat nanti indonesia bisa mempunyai alat transportasi masal seperti di jepang

    Reply
  2. Pingback: Cerita Hikmah: Semut Dan Lalat | BlackDragon™+© | inspirasi.me

  3. Pingback: Penghargaan Orang Jepang Terhadap Waktu | .rizaldwiprayogo

  4. Pingback: Cerita Hikmah: Semut Dan Lalat | BlackDragon™+© | bijak.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s