Payung & Orang Jepang

Akhir-akhir ini frekuensi hujan di daerah saya, Kanazawa, meningkat tajam. Hampir setiap hari hujan, langit Kanazawa juga sering berawan tebal dan gelap. Tapi, syukurnya suhu udara jadi lebih nyaman dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya. Dan konon, hujan yang berkepanjangan jadi pertanda bahwa musim akan segera berganti; dari natsu (musim panas) ke aki (musim gugur).

Bagi orang Jepang, ramalan cuaca menjadi satu acara yang ditunggu-tunggu di televisi, dan ini menjadi penentu apakah hari itu akan membawa payung atau tidak. Dan bisa ditebak, jika sudah melihat banyak orang Jepang hilir-mudik membawa payung (傘—kasa), itu pertanda bahwa hari itu bakal turun hujan. Bagi orang Indonesia, saya rasa ramalan cuaca tidak terlalu dipentingkan karena seringkali ramalannya meleset. Dan bagi saya, jika akan turun hujan, ya hujan-lah.

Saya tidak terlalu perhatian dengan ramalan cuaca, karena setiap hari saya selalu menyimpan payung lipat di tas. Tapi, masalahnya adalah saya setiap hari pakai sepeda ke kampus, jadi payung juga sebenarnya tidak terlalu terpakai. Saya hanya melihat orang-orang Jepang saja—yang membawa payung—untuk mengetahui ramalan cuaca hari itu. Tapi, belakangan berhubung cuaca memang sering hujan, saya selalu siap jas hujan dan mencantolkan payung di sepeda.

Payung selalu menyatu dengan sepeda

Menyangkut kebiasaan orang Jepang dan payung-nya, sampai-sampai di beberapa tempat tertentu terdapat fasilitas untuk ‘parkir’ payung. Di stasiun-stasiun, biasanya ada loker tempat penyimpanan barang dan kita diminta untuk memasukkan koin untuk bisa menguncinya. Tidak hanya loker, ternyata di beberapa tempat, seperti museum dan public service, terdapat juga semacan loker untuk menyimpan payung dan kita diminta untuk memasukkan koin untuk bisa menguncinya.

Uniknya, di beberapa tempat, koin yang telah kita masukkan di loker ternyata bisa diambil lagi saat kita membuka kunci loker. Ini menjadi semacam jaminan. Namun, ada juga loker yang menelan koin itu. Di mesin-mesin ATM, biasanya disediakan semacan gantungan atau wadah kotak untuk menyimpan payung. Bahkan di supermarket sekalipun, ada tempat untuk menyimpan payung. Maklum, di Jepang sini tidak mengenal istilah loket penitipan barang seperti yang lazim kita temui di tempat-tempat umum di Indonesia.

ATM dan tempat menyimpan payung – melihat kebutuhan publik

Berbicara tentang payung di Jepang, tentu langsung teringat dengan payung bening yang kerap jadi oleh-oleh. Saya tidak tahu persis, apa payung bening ini tersedia di Indonesia juga atau tidak. Tapi, payung bening termasuk payung yang murah. Bisa kita beli di 105 Yen Shop (baca: hyakugo eng shop), dan biasanya kualitasnya juga dipertanyakan. Secara umum, harga payung tergolong mahal. Tapi, tenang saja, karena ada China yang membuat segalanya bisa terbeli—made in China, hehe

Payung-payung di sebelah ruangan lab saya

One thought on “Payung & Orang Jepang

  1. rezky batari

    Bismillah

    Payung bening begitu ada kok dijual di Indonesia, sayangnya cepat karatan..🙂 dan kurang populer, maklum payung bukan cuma dipakai saat hujan tapi cuaca panas pun berguna, nah kalo bening jadi kurang berguna kelihatannya..

    Nice post.. Jadi tambah pengetahuan lagi. d(^__^)b

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s