Grand Design untuk Kaum Difabel

Masih terinspirasi tentang grand design (GD). Saya menyadari bahwa Jepang ini dibangun di atas GD yang rapi dan terintegrasi. Bahkan untuk hal-hal yang kadang luput dari perhatian mayoritas, semuanya telah memiliki sistem yang baik. Dalam hal ini, adanya perhatian serius pemerintah Jepang terhadap kaum difabel, yang mana mereka adalah orang-orang yang diberi “ke-khusus-an” sehingga ada beberapa hal yang tidak bisa mereka lakukan dibandingkan dengan orang normal.

Kalau di Indonesia, sekiranya fasilitas untuk kaum difabel tersebut tidak memadai, tapi setidaknya orang Indonesia itu ramah-ramah (katanya sih), sehingga ada yang bisa membantu. Namun, negeri sekelas Jepang, yang mana orang-orangnya cenderung individualis amat diragukan dapat membantu kaum difabel jika sedang berada di tempat umum. Maka, dalam setiap GD pembangunan, pastilah pemerintah Jepang selalu memerhatikan infrastruktur untuk kaum difabel.

Bagi kaum difabel, (mungkin) kadang-kadang mereka merasa tersingkirkan dari sistem—mengingat infrastruktur pusat keramaian (public service) di Indonesia tidak semuanya memfasilitasi kaum difabel. Atau sistem tidak berpihak pada mereka. Namun, hebatnya Jepang selalu menyiapkan GD pembangunan yang tetap memerhatikan kaum difabel. Sehingga bagi para tuna netra, disediakan bagi mereka jalur kuning bergerigi (beton timbul) di pusat-pusat keramaian.

Sewaktu pertama kali datang ke Jepang, saya sama sekali tidak tahu fungsi dari jalur kuning bergerigi itu. Saya pikir itu semacam rel untuk koper beroda, karena posisi roda koper saya cocok dengan jalur kuning tersebut. Maka, saya menggeret koper saya di atas jalur kuning bergerigi itu, hehe... Benar-benar bentuk kekonyolan saya sebagai pendatang yang masih merasakan culture shock.

Jalur kuning bergerigi bukanlah jalur koper😀

Lalu, di tangga berjalan (esukareeta) dan panel elevator (erebeeta) difasilitasi dengan huruf braille, sehingga mereka dapat tetap menggunakannya meskipun sedang tidak diantar. Di dalam elevator, panelnya pun dibedakan dengan mengatur letak posisinya, tujuannya agar masih dapat diraih. Dan selalu ada cermin di elevator. Jangan salah! Fungsi utama cermin itu untuk pengguna kursi roda ketika akan keluar elevator. Karena mereka (pengguna kursi roda) sulit untuk memutar balik di dalam elevator, jadi mereka keluar mundur dengan cara melihat cermin.

Di kendaraan umum pun, selalu ada spot khusus bagi kaum difabel. Di bis, selalu ada space kosong untuk kursi roda dan bis tersebut diset rendah (non-step bus) untuk memudahkan naik-turun penumpang, sedangkan di kereta selalu ada kursi yang namanya priority seat bagi ibu hamil, orang tua, dan tentu saja kaum difabel.

Di stasiun, mereka tinggal menghubungi petugas stasiun untuk memfasilitasi mereka naik-turun densha. Petugas akan bergegas menyediakan semacam papan lipat seluncuran bagi pengguna kursi roda. Dan informasi tentang adanya penumpang difabel akan sambung-menyambung ke stasiun yang akan dituju, dimanapun penumpang difabel ini akan turun, petugas stasiun akan siap dengan papan lipat seluncurannya.

Hampir di setiap pusat keramaian selalu ada fasilitas untuk kaum difabel; toilet khusus, tempat parkir khusus, hingga tombol penyeberangan khusus. Semua diset sebegitu rapinya dan sudah ada GD-nya. Kaum difabel menjadi prioritas utama di pusat keramaian. Bukan karena berpikir bahwa presentase kaum difabel sangat kecil, sehingga pemerintah abai untuk hal yang satu ini. Tapi, kewajiban pemerintah untuk melayani rakyatnya secara totalitas yang harus diutamakan. Karena pemimpin itu pelayan, dan tugas pelayan adalah melayani.

Toilet khusus untuk kaum difabel

Tempat parkir khusus dan jalur kuning bergerigi ada dimana-mana

Bahkan untuk menyeberang jalan pun diberi fasilitas khusus

Hmmm, menarik ya …

2 thoughts on “Grand Design untuk Kaum Difabel

  1. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah | bijak.net | bijak.net | inspirasi.me

  2. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah | inspirasi.me | bijak.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s