Penghargaan Orang Jepang Terhadap Waktu

Di tempat-tempat umum, hampir sebagian dari kita mungkin pernah ditanya, “sekarang jam berapa?”. Kalau memakai jam analog (jarum jam), mungkin kita akan membulatkan menitnya. Misal sekarang jam 11.27, maka kita akan jawab, “setengah dua belas-an”. Nah, akhiran –an itu pasti muncul. Kalau menggunakan jam digital, kita akan menjawab secara akurat tanpa pembulatan atau akhiran –an.

Uniknya, di Indonesia akan memiliki banyak versi dari pertanyaan, “sekarang jam berapa?” ini. Bisa jadi jawabannya akan berbeda-beda ketika kita bertanya kepada lebih dari satu orang. Misalnya di jam tangan saya menunjukkan jam 11.30, tapi di handphone teman tercatat jam 11.33, lalu di jam tangan dosen jam 11.28. Malah ketika di kelas, sampai ada istilah ‘jangan terlambat, acuannya jam tangan dosen’.

Terasa unik memang, karena orang Indonesia terbiasa menyetel waktu sesuai dengan kemauannya sendiri, tanpa acuan yang jelas. Coba saja ketika Anda membeli handphone atau jam tangan baru, kemudian petugas tokonya akan menyetel waktu pada handphone atau jam tangan Anda sesuai dengan catatan waktu yang ada di toko tersebut. Tentu saja, catatan waktu ini pasti akan sangat bervariasi. Padahal, seharusnya penentuan waktu harus mengacu pada standar yang telah ditentukan bukan? Misalnya mengacu pada GMT (Greenwich Mean Time)

Ada pula yang sengaja menyetel waktunya lebih 5 sampai 10 menit dari yang seharusnya, tujuannya sih supaya kemudian bisa mengantisipasi keterlambatan. Jadi, jeda 5 sampai 10 menit itu digunakan seandainya terjadi keterlambatan. Hmm, toleransi keterlambatan? Entah kenapa istilah ini—toleransi keterlambatan—bisa muncul. Padahal, kalau kita berada dalam sistem yang dijalankan oleh mesin (baca tulisan ini), kita tidak akan mengenal istilah ini. Karena mesin bekerja secara kaku, tidak seperti manusia yang masih memaklumi keterlambatan.

Yang membuat saya kagum dengan Jepang, semua catatan waktu disesuaikan (disamakan) dengan waktu standard (Japan Standard Time – JST). Konsekuensinya, jam biologis manusia, kegiatannya, hingga roda kehidupan pun harus manut pada sistem yang telah dibuat. Misalnya, kuliah masuk jam 08.45, jadwal keberangkatan bis jam 08.15, ini artinya kita harus sudah standby jam 08.05. Jadwal yang satu dan lainnya saling terintegrasi, karena kita sudah masuk dalam sistem. Ini juga sebenarnya membantu membentuk pola hidup dan kedisiplinan.

Sewaktu saya membeli handphone di Jepang, catatan waktu di handphone saya sudah diset secara otomatis—menggunakan internet. Begitu teman saya beli handphone juga, catatan waktu di handphone saya dan teman saya itu ternyata juga sama. Kemarin saya baru membeli tokei (jam tangan), ketika dipajang semua jam tangan diset dengan catatan waktu yang sama. Luar biasa! Kalau di Indonesia, setelah membeli baru kemudian akan di-oprek oleh petugas tokonya dan catatan waktunya diset sesuai dengan catatan waktunya sendiri, hehe …

Kobe Flower Clock – Time is not money anymore, but sword!

Yang menarik lagi adalah sistem transportasi yang mutlak membutuhkan catatan waktu yang akurat. Coba bayangkan jika catatan waktu di Jepang tidak mengacu pada waktu standar (Japan Standard Time – JST). Pasti sistem transportasi akan kacau, penumpang akan punya acuan masing-masing terhadap jadwal kedatangan dan keberangkatan. Sedangkan pihak stasiun juga punya acuan waktunya sendiri. Kacau balau!

Semua catatan waktu pada sistem transportasi berjalan sangat baik. Sejauh pengalaman saya, tidak ada catatan waktu yang meleset. Tidak pernah terlambat meski 1 menit—kecuali ada kecelakaan atau ada orang yang bunuh diri, tapi pernah beberapa kali tiba 1 menit lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Bukan main salutnya! Dan dari pengalaman, kalau kita tidak tahu akan naik kereta dan line yang mana, maka lihat saja jadwal keberangkatan yang tertera pada timetable. Tidak akan meleset!

Timetable di web hyperdia.com, tidak pernah meleset!

Hebatnya Jepang ini selalu punya grand design (GD) ketika akan membangun sistem. Hingga sampai menyamakan catatan waktu. Ditambah lagi, Jepang merupakan negara yang membentang dari utara (Hokkaido) hingga ke selatan (Okinawa), maka hanya memiliki satu daerah waktu saja. Tidak seperti Indonesia yang memiliki tiga daerah waktu, belakangan juga muncul kabar bahwa Indonesia akan membuat satu daerah waktu saja—WITA (Waktu Indonesia Bagian Tengah).

Kapan ya Indonesia bisa se-disiplin ini? Apakah ada yang salah dengan sistem perwaktuan di Indonesia? Ataukah kesalahan ada pada orang-orangnya? Di Jepang, terlambat 5 menit saja sudah meminta maaf sambil membungkuk-bungkuk, “osokunatte sumimasen (maaf terlambat)atau ”お待たせしました (omataseshimashita – maaf telah menunggu)”. Di Indonesia, telat 30 menit juga masih bisa cengengesan dan tidak memberikan konfirmasi apapun, seolah tidak terjadi apa-apa.

Kalau di Indonesia bisa mengadopsi sistem perwaktuan seperti di Jepang, maka tidak ada lagi cerita jam karet, dimana setiap orang punya acuan waktunya sendiri. Tidak ada istilah mengacu pada jam tangannya si A, si B, atau si C. Semua harusnya bisa menghargai waktu. Karena kita ini sudah kadung punya moto ‘Time is money’, jadi dipikirnya waktu bisa dibeli dengan uang. Padahal, nyatanya waktu yang telah lewat tidak bisa dibeli dengan uang.

Atau kita ganti saja dengan pepatah Arab, ‘Waktu adalah pedang, jika kita tidak pandai menggunakan pedang itu, niscaya pedang tersebut akan menebas diri kita sendiri’. Lebih mengancam bukan? Ketimbang diasumsikan sebagai uang yang masih bisa dicari ketika kehilangan. Barangkali, orang jepang belum tahu surat Al-Ashr dan tafsirnya (tentang menghargai waktu), tapi kok rasanya mereka sudah mengamalkan ya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s