Kemandirian Lansia Jepang

Siapa sangka, ternyata Jepang adalah negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia (lihat web ini). Tapi, dibalik itu, semakin ke sini jumlah kelahiran juga semakin berkurang sehingga komposisi penduduk banyak didominasi oleh para lansia. Rata-rata, usia lansia bisa mencapai 82 tahun yang mana masuk dalam kategori elderly population (65+). Di Indonesia, usia pensiun terhitung dari 55+, sehingga kemudian dikatakan sebagai usia tidak produktif.

Di Jepang sendiri memiliki aturan bahwa usia menikah wanita 25+ dan laki-laki 27+ (lha, kita mah ingin menyegerakan). Dan belum tentu juga pada usia tersebut ada keinginan menikah. Jika pun ada keinginan, belum tentu juga ada keinginan untuk cepat memiliki anak. Sehingga angka kelahiran di Jepang terhitung lambat, malah pemerintah sampai membayar (mengongkosi) orang yang melahirkan, semua dijamin. Tertarik?

Stereotipe orang Jepang dikenal sebagai pekerja keras. Saking sibuknya mereka dengan urusan karir, sampai-sampai mereka ‘lupa’ atau ‘melupakan’ pernikahan. Karena bagi mereka, karir yang utama. Sebagai orang Indonesia, kita tentu berpikir bahwa ujung-ujungnya karir adalah untuk keluarga kita juga, bukan begitu?

Kalau dilihat dari komposisi penduduk, perlahan-lahan membentuk piramida terbalik (lihat web ini). Ini artinya, komposisi lansia sudah terlalu banyak dibanding usia muda (produktif). Ini berimbas menambah beban anggaran pemerintah untuk memberikan jaminan sosial bagi para lansia. Tidak hanya itu, pajak penghasilan usia produktif juga semakin meningkat karena digunakan untuk mensubsidi kehidupan para lansia yang dibayarkan lewat tunjangan pensiunnya (nenkin).

Tapi, meskipun hidup dengan subsidi seperti itu, lansia Jepang ‘tidak mengenal pensiun’. Bagi mereka (para lansia), bekerja tetaplah menjadi sebuah spirit yang tidak dapat dihilangkan. Meski hanya sekedar berkebun dan bercocok tanam. Di daerah saya, Kanazawa, saya sering melihat para lansia sedang bercocok tanam. Namun, bedanya, ‘petani’ di sini selalu bawa mobil sendiri, hehe. Cukup makmur untuk sekelas petani kan?

Spirit ‘tangan di atas’ memang melekat kuat pada orang Jepang. Meskipun sudah memasuki masa pensiun, tapi mereka tidak mau menjadi beban bagi orang lain. Bahkan terhadap anaknya sendiri. Kehidupan orang tua dan anak otomatis terpisah ketika anak mereka menikah. Maka, tidak sedikit juga para lansia yang kehidupannya serasa hampa (sabishii – kesepian).

Di Jepang, para lansia hidup secara mandiri, jalan-jalan sendiri. Jika merasa kesepian, mereka akan mengajak anjing-anjing mereka yang juga dianggap sebagai anggota keluarga. Jika sudah renta berjalan, mereka menggunakan tongkat sendiri; mendorong pegangan tangannya sendiri. Masih ada yang kuat berolahraga; bermain golf dan sepeda. Bahkan, untuk melepas rasa kesepian, mereka mencari pekerjaan tambahan.

Obaasan (nenek) yang bekerja jadi penjual souvenir di Kobe Port Tower – Kobe

Berangkat dari komposisi penduduk lansia yang banyak ini, pemerintah Jepang sengaja membuat satu hari khusus yang diperuntukkan bagi orang tua dan ini terhitung sebagai hari libur. Adalah 敬老の日 (Keirō no hi), yaitu hari penghormatan lansia yang diperingati pada hari senin minggu ke-3 bulan September. Ini dimaksudkan untuk memerhatikan kesejahteraan para lansia di Jepang.

Bagi mereka, bekerja supaya tidak menjadi beban bagi orang lain. Menjadi petugas kebersihan; pelayan loket karcis; petugas keamanan; menyeberangkan jalan; sopir taksi. Maka, tidak perlu heran jika pekerjaan pelayanan publik di Jepang rata-rata diisi oleh para lansia. Paling minimal mereka menjadi volunteer untuk acara-acara sosial. Besar sekali semangat mereka; dilihat dari badannya juga masih segar dan suka berolahraga.

Ojiisan (kakek) yang rajin bekerja sosial menjadi petugas kebersihan di Fukui. Bekerja adalah spirit sampai mati

Di Indonesia, begitu memasuki usia pensiun itu tandanya sudah benar-benar berhenti bekerja. Kerja secara formal mungkin berhenti, tapi berkarya bisa tetap lanjut. Biasanya, orang mengejar menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena hari tua mereka terjamin oleh tunjangan pensiun. Dan semakin tua usia, itu tandanya pasokan rezeki lewat jalan diri sendiri (dari bekerja; mencari nafkah) akan berkurang. Rezeki akan mengalir dari sekeliling mereka: anak-anak, tetangga, saudara.

Angka usia harapan hidup orang Indonesia tergolong rendah (lihat web ini), maka masa setelah pensiun adalah benar-benar ‘pensiun’. Maksudnya, mereka tidak punya fisik yang bugar lagi untuk berkarya atau tetap bekerja tambahan sebagaimana para lansia Jepang. Mereka hanya mengandalkan tunjangan pensiun saja, itu pun kalau mereka berstatus PNS.

Namun, bagaimanapun juga, budaya Jepang dan Indonesia tidak bisa disamakan. Indonesia mayoritas berpenduduk muslim yang mana dalam ajaran Islam punya aturan agama dan adat/norma bahwa kita juga harus berbakti dan menyantuni orang tua. Kita tentu senang melihat orang tua kita tetap berkarya saat usia lanjutnya, tapi ini waktunya kita yang berkarya untuk orang tua. Dan alangkah lebih bahagianya jika seorang anak mampu membahagiakan kedua orang tuanya lewat hasil keringatnya sendiri.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Q.S Al-Isra [17]: 23-24

3 thoughts on “Kemandirian Lansia Jepang

  1. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah | bijak.net | bijak.net | inspirasi … | inspirasi.me

  2. TITO SUTARTO

    lansia jepang ingin hidup mandiri, tidak sUKA JADI BEBAN ANAK2NYA, PATUT JUGA DICONTOH LANSIA INDONESIA.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s