Tips Jalan-jalan di Jepang

Dari judul tulisan ini kesannya adalah saya sudah menjangkau setiap sudut Jepang dan mengetahui seluk-beluknya. Padahal, baru hanya beberapa kota saja yang sudah saya singgahi. Dan pengalaman yang saya dapat tentunya tidak dapat di generalisasi untuk seluruh kawasan Jepang. Tapi, setidaknya kalimat ‘di Jepang’ di sini sebagai representasi saja. Berikut tips jalan-jalan di Jepang berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri.

1. Menyangkut ibadah

Sebagai seorang muslim, tentunya ada kewajiban sholat 5 waktu yang tidak boleh ditinggalkan, meskipun sedang dalam perjalanan. Tapi, kendalanya adalah kita sedang berada di negeri yang minoritas muslim. Mau sholat dimana? Masjid susah ditemui, mushala pun jangan anggap seperti di Indonesia—di tempat-tempat umum biasanya ada.

Maka, di Jepang ini, mendirikan sholat di taman-taman, di pinggir sungai, dan tempat-tempat terbuka sudah menjadi biasa. Dengan bermodalkan aplikasi arah penunjuk kiblat dari handphone, kemudian dirikanlah sholat di tempat-tempat yang memungkinkan. Lalu bagaimana dengan wudhu-nya?

Karakteristik toilet di Jepang bersifat kering, jadi jangan anggap ada tempat berwudhu. Bahkan untuk beristinja (dengan air) pun—setelah buang air kecil, kita harus mengakalinya sendiri. Budaya ini tentu berbeda dengan Indonesia. Umat muslim di Jepang nampaknya sudah mahfum bahwa wudhu biasa dilakukan di wastafel.

Pernah saya punya pengalaman ketika berwudhu di wastafel toilet umum; ketika akan membasuh kaki, saya menaikkan kaki ke wastafel, kemudian ada petugas kebersihan yang memergoki saya dan ia memarahi saya. Katanya, itu hanya untuk mencuci tangan. Ya sudah, saya tunggui sebentar, kemudian saya basuh kaki saya setelah dia lewat. Jadi, perhatikan juga kondisi di toilet tersebut, bagaimana pun juga kita berada di negeri orang yang berbeda budaya dengan Indonesia.

Kadang, kita merasa risih untuk mendirikan sholat di tempat terbuka—seperti taman. Memang, pada kenyataannya, banyak lirikan mata heran dari orang-orang Jepang. Tapi, lama-kelamaan akan terbiasa juga. Kita juga harus membiasakan diri untuk mendirikan sholat di tempat terbuka seperti itu. Toh, orang yang melihat juga tidak mengenal kita. Dan selalu persiapkan alas untuk sholat setiap kali kita bepergian jauh.

Bagi wanita, setidaknya bisa ikut dalam rombongan laki-laki. Karena kalau beramai-ramai, perasaan risih kita akan sedikit berkurang. Tapi, kalau dalam kondisi tidak ada laki-laki, untuk mendirikan sholat di tempat tertutup—seperti di fitting room toko pakaian.

Bagi yang kesulitan mencari tempat sholat, bisa mencari fitting room di toko pakaian. Jangan lupa juga membawa 1 stel baju/celana sebagai alibi saja. Ambil wudhu di toilet terdekat. Mengenai kerisihan tadi, sebenarnya akan ada waktu dimana kita harus menunjukkan cara berislam. Show them about Islam, because we are agents of Islam.

Di tempat umum, sholat bisa tetap didirikan dengan mencari fitting room.

Di tempat umum, sholat bisa tetap didirikan dengan mencari fitting room.

2. Menyangkut makanan halal

Tentunya hal ini tidak dapat diabaikan. Selama perut kita menuntut haknya, kita harus memenuhinya meskipun dalam perjalanan. Hanya masalahnya, kita tidak dapat dengan mudah menemukan pedagang makanan halal di perjalanan. Tidak seperti di Indonesia, ketika lapar di perjalanan, kita bisa dengan leluasa memilih mau makan apa. Banyak PKL yang selalu standby.

Jika perjalanan tidak lebih dari 2 hari, kita bisa membawa bekal (bento) sendiri dari rumah. Setidaknya, itu bisa mengganjal perut kita selama perjalanan dan mengantisipasi jika sulit menemukan makanan halal di tempat tujuan. Sekiranya harus membeli, pastikan juga untuk memeriksa komposisi makanan yang akan kita beli, kenali kanji-kanji yang dicurigai. Bagi yang menggunakan iPhone, ada aplikasi ハラール (Haraaru – Halal) yang bisa menjadi referensi. Atau tautan Serijaya. Tanya juga para senpai (senior) terkait referensi makanan-makanan halal dan tempatnya.

Restoran halal di kompleks Masjid Kobe – Kobe

Ada pengalaman yang mungkin membuat saya lebih berhati-hati. Sewaktu saya ikut study tour dari kampus, panitia memang sudah memfasilitasi muslim yang ikut dengan menyediakan makanan halal. Saat registrasi, kami disuruh mengisi form khusus tentang makanan yang boleh dan tidak. Perhatian panitia sangat saya hargai.

Pada jam makan di hotel, kami disuguhi prasmanan dan ditulisi makanan mana saja yang diperuntukkan untuk muslim. Pada kenyataan di lapangan, mungkin karena ketidaktahuan pihak hotel, saya menemukan ada makanan yang ditulisi untuk muslim tapi malah mengandung babi—setelah saya tanya kokinya. Jadi, tanyakan lebih lanjut kepada kokinya untuk memastikan bahan-bahannya aman.

Apa pendapat teman-teman muslim tentang sajian makanan ini?

3. Belajar bahasa

Pernah saya ceritakan juga bahwa orang Jepang tetap menggunakan bahasa lokal mereka meskipun kepada orang asing. Bahkan, untuk acara ‘Study Tour for International Students’ pun, sang pemandu dengan tanpa rasa bersalahnya membuat kami sukses terbengong-bengong. Katanya untuk international students, doushite eigo de sukawanai? tapi kok tidak menggunakan international language?

Setidaknya, kondisi-kondisi seperti itu yang memaksa kita untuk belajar bahasa Jepang. Dan itu akan memudahkan kita sendiri jika suatu saat harus bepergian sendirian. Belajar bahasa juga akan mengurangi rasa ketergantungan kita terhadap teman, kita bisa lebih mandiri. Banyak nama tempat dan keterangan yang ditulis dengan kanji, hiragana, dan katakana.

Jika di kota-kota besar, biasanya terdapat keterangan dalam bahasa Inggris. Di bis dan kereta, biasanya ada translasi bahasa Inggris, serta di stasiun. Tapi, jika suatu saat kita harus nori kae (transfer) di stasiun kecil, antisipasilah jika tidak terdapat keterangan dalam bahasa Inggris. Positifnya, kita bisa berlatih bahasa—Inggris dan Jepang—saat bepergian.

4. Persiapkan rencana dan jadwal

Bagusnya Jepang adalah memiliki sistem yang terintegrasi dan rapi untuk sistem transportasinya. Jadi, pastikan kita telah membuat jadwal (itinerary) untuk perjalanan kita. Cek web hyperdia.com untuk memastikan jadwal densha (kereta) dan juga cek web japan-guide.com untuk melihat objek wisata yang akan dituju. Pastikan setiap kegiatan memiliki catatan waktu yang tepat, jangan mengira-ngira karena acuan kita adalah jadwal transportasi publik yang selalu tepat waktu.

Jangan abaikan juga ramalan cuaca karena itu akan sangat membantu persiapan. Jika cuaca akan hujan, bawa saja payung lipat agar praktis dan jaket. Sesuaikan perlengkapan dengan kondisi musim dan pastikan hanya membawa yang diperlukan saja. Jika berniat untuk membeli baju di objek wisata, jangan membawa baju terlalu banyak dari rumah. Isi tas kita bisa diisi dengan makanan. Agar praktis, pakai saja plastic wrap (bisa langsung dibuang) untuk makanan seperti roti, agar kotak bento-nya tidak mempersempit isi tas kita.

Pastikan juga penginapan di objek tujuan sudah ada. Jangan mengandalkan sesuatu yang belum jelas. Jika kita akan bepergian ke tempat yang tidak ada teman atau saudara, kita harus segera memesan hotel. Kalau ada teman, kita bisa menumpang di tempat teman, hehe. Jika bepergian di musim semi, gugur, dan dingin, cuaca malam—tentu saja—sangat dingin, maka jangan biarkan kita menggigil kedinginan karena berputar-putar mencari hotel malam-malam.

Oh ya, terkait tempat penginapan, jangan mengandalkan masjid untuk dijadikan tempat menginap. Masjid-masjid di Jepang tidak seperti di Indonesia yang buka sepanjang waktu. Kadang setelah sholat Isya masjid akan ditutup dan tidak boleh ada yang menginap (kecuali bulan Ramadan untuk itikaf) dan akan dibuka lagi saat waktu sholat subuh. Maka, bagi yang beranggapan bisa menginap di masjid ketika bepergian di Jepang, segera ubah cara pandang!

Jika berencana bepergian jauh dan berhari-hari bersama teman, pastikan rencana dan jadwal disusun dan disepakati bersama. Ini penting! Pastikan juga untuk berkomitmen terhadap rencana yang telah dibuat. Jangan sampai di tengah perjalanan, ada keinginan masing-masing yang tidak sesuai rencana semula. Ini berpotensi menimbulkan ‘gesekan’. Pastikan juga saling bantu agar rencana dan jadwal yang telah dibuat bisa terlaksana. Saran saya, jangan terlalu banyak. Dua sampai empat orang sudah cukup, kalau berlebih khawatirnya akan semakin banyak versi. Semakin banyak kepala, semakin banyak keinginan yang berbeda.

5. Pantau informasi dan jadwal traveling murah

Biasanya akan ada 青春18きっぷ (baca: seishun juhachi kippu) di natsu, fuyu, dan haru yasumi. Informasi lengkap ada di tautan di atas. Pastikan kita sudah menyusun rencana dan jadwal pada waktu-waktu tersebut. Dan yang pasti, kita harus menabung saat akan mendekati liburan. Selain untuk jalan-jalan, juga untuk membeli omiyage (oleh-oleh) di tempat tujuan.

Sebenarnya, ada lagi alternatif jalan-jalan murah. Biasanya, pihak kampus akan mengadakan study tour dengan biaya murah. Maka, pantau terus informasi dari pihak kampus. Selain jalan-jalan, kita juga bisa sambil belajar. Kalau study tour, biasanya akan banyak mahasiswa asing yang ikut, jadi sebenarnya keuntungannya banyak.

Study tour for International Students, but she still speaks in Japanese language. Why? – at Kiyomizudera, Kyoto

Saya bersyukur bisa ikut study tour kemarin (24-25 Sep ‘12), selain jalan-jalan dan makan-makan, enaknya kita bisa sambil belajar dan mengenal teman-teman baru dari negara lain. Sewaktu saya ke Gunung Fuji juga sebenarnya ajakan dari pihak kampus, jadi pantau terus informasi kampus yang biasanya dikirim lewat email. Untuk urusan biaya memang relatif, tapi selama kita mengkonversinya ke dalam rupiah pasti akan terasa mahal. Coba ukur dari beasiswa yang didapat dan dari pengalaman yang akan didapat. I think it is reasonable, isn’t it?

Selamat berkelana …

Follow Twitter saya di @rizaldpra

One thought on “Tips Jalan-jalan di Jepang

  1. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah | inspirasi.me | bijak.net | inspirasi.me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s