Sticky Rice: Menghambat Kemampuan Berbahasa

Bukan, bukan… Kita tidak sedang bicara makanan disini. Saya dapat istilah baru ini dari tulisan teman saya. Yah, lumayan menambah perbendaharaan istilah para perantau. Jujur saja, saya memang baru tahu istilah ini, tapi sebenarnya apa yang dimaksudkan istilah ini sering saya rasakan saat di tanah perantauan ini. Ya, sticky rice adalah istilah untuk mereka (international students) yang bergaul dengan teman-teman dari negaranya sendiri.

Memang, kita merasa nyaman dengan lingkungan yang se-daerah dengan kita. Jangankan saat di luar negeri, saat di Indonesia pun kita akan lebih mudah akrab dengan orang yang se-daerah. Orang Sunda akan cepat akrab dengan orang Sunda lagi, orang Batak akan cepat nyambung dengan orang Batak lagi; dan seterusnya. Karena dengan begitu, kita punya kesamaan atmosfer dan tidak canggung bergaul. Serasa ada ‘ikatan’ kedaerahan.

Itu juga yang sering saya rasakan disini. Bergaul dengan teman dari daerah sendiri melulu. Sampai-sampai saya merasa ini seperti pindahan lingkungan Indonesia ke Jepang. Duh, saya sadar juga kondisi seperti ini tidak bagus. Merasa nyaman dalam lingkungan sendiri, sampai-sampai saya lupa untuk memasuki ‘dunia luar’.

Menurut saya, cukup sulit juga untuk menghindari kondisi sticky rice ini. Soalnya, acara-acara biasanya diadakan oleh PPI setempat, dan yang datang juga pastinya orang-orang Indonesia lagi. Jalan-jalan biasanya dengan teman Indonesia juga, bahkan untuk acara International Festival pun masih berkumpul dengan orang-orang Indonesia. Ujung-ujungnya, ya seperti di Indonesia, tidak usah jauh-jauh ke Jepang.

Meskipun namanya International Festival, tetap bergaul dengan Indonesians dan pake bahasa Indonesia (Doh!)

Lama-kelamaan ini tidak baik juga, soalnya wawasan kita terhadap dunia luar (negara lain) tidak akan berkembang. Diskusi dengan orang asing sangat minim, bahkan malah nantinya kemampuan bahasa Inggris atau Jepang juga stagnan. Kalau mau latihan bahasa Inggris, saya sarankan untuk tidak memilih Jepang. Ya memang bahasa Inggris bukanlah bahasa utama. Untuk mengakali ini, saya punya beberapa tips:

1. Ikuti acara bertajuk ‘International …’

Ya, dari nama acaranya sudah tentu yang ikut adalah mahasiswa internasional. Ikuti saja, tujuannya supaya kamu bisa berinteraksi dengan teman dari negara lain dan bisa speak up. Jangan jadi jago kandang yang hanya bergaul dengan teman-teman se-Indonesia. Saya pernah ikut Study Tour for International Students dan itu membuka wawasan saya tentang kultur orang dari negara lain.

Saat study tour, menyempatkan berfoto dengan orang berkimono di Kiyomizudera, Kyoto. Serasa di Jepang, ya?

Saya mengobrol tentang agama dengan orang Vietnam. Obrolan itu dimulai ketika ia duduk satu meja dengan saya ketika jam makan siang. Saya perhatikan ia hanya makan sayuran (vegetarian), lalu saya tanya, ternyata ia seorang Budha. Kemudian diskusi berlanjut tentang Islam; dan tentang makanan halal dan haram. Ternyata ia bingung dengan istilah Muslim (orang) dan Islam (agama).

Dan ketika saya tanya mengapa teman-temannya makan daging, ternyata mereka bukan penganut Budha. Padahal, saya kira Vietnamese sebagian besar penganut Budha. Ini membuka wawasan saya. Ternyata pandangan orang Jepang pun sama terhadap Indonesia dan muslim. Mereka kira, orang Indonesia adalah muslim, dan ketika mereka melihat orang Indonesia meminum bir kontan saja mereka kaget! Mengapa orang Indonesia minum bir? Lalu, ia akhirnya mengerti juga bahwa tidak semua orang Indonesia menganut Islam. Itu juga yang saya pikir ketika melihat teman-teman Vietnamese makan daging.

Ini juga akan membuka jaringan yang luas untuk kamu sendiri dan tentu kemampuan berbahasa.

2. Jalan-jalan (sendirian)

Cobalah untuk jalan-jalan sendirian. Ini untuk menghindari rasa ketergantungan kita terhadap teman. Biasanya, kita selalu berlindung di balik punggung teman saat berinteraksi dengan orang asing, menganggap teman kita yang menjadi penyambung lidah. Atau saat kamu sedang berinteraksi dengan orang asing, biasanya teman kamu akan selalu menimpali; entah itu mengoreksi atau mendominasi obrolan (dia ingin ikut ngobrol juga). Maka, yang terjadi adalah saling berebut dan menimpali dialog.

Jujur saja ini tidak saya sukai; ketika saya berdialog, biasanya suka ada suara-suara ‘gaib’ yang memotong pembicaraan. Jadinya dialog saya tidak tuntas. Kalau untuk tujuan diskusi saya rasa ini wajar-wajar saja. Tapi, kalau kamu juga ingin berlatih bahasa Inggris atau Jepang, sebaiknya kamu face to face secara langsung. Dalam konteks ini, saya sarankan untuk jalan-jalan sendiri.

Jalan-jalan ke Wajima, Noto Peninsula melihat tradisi pernikahan ala Jepang. Tapi, ini tidak sendirian, hehe …

Ini pernah saya praktekkan ketika pulang dari Tokyo menuju Kanazawa dan saat jalan-jalan ke Kobe. Bukan bermaksud autis, tapi saya memang ingin mandiri. Saya ingin menghadapi masalah saya sendiri. Dalam konteks ini, saya ingin mandiri bahasa. Tidak mengandalkan teman. Kalau dengan teman nantinya akan saling mengandalkan lagi.

Ini juga bisa kamu coba saat berbelanja, di kampus, di kereta, atau di bis. Bukan menghindari pergaulan, tapi untuk melatih kamu berani mandiri untuk urusan bahasa. Kamu bisa berdialog dengan orang-orang di sekitar kamu; sekedar basa-basi atau obrolan yang bisa melatih kemampuan bahasa kamu.

3. Carilah orang bule

Alasan ini sebenarnya berangkat dari pengalaman saya mengobrol dengan orang non-bule, maksudnya orang yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris. Seperti Vietnamese, Japanese, Chinese, dsb. Saya merasa—entah sugesti atau bukan—kalau mengobrol dengan mereka, bahasa Inggris saya juga terasa tidak mengalir (beuh, cem udah jago aja). Tapi, kalau dengan bule biasanya akan mengalir.

Itulah alasannya mengapa lembaga bahasa Inggris selalu mendatangkan orang bule (native speaker) sebagai pengajarnya. Karena memang itu akan men-stimulus kita untuk berani speak up. Kita akan mengikuti logat dan gaya bicaranya bule tadi, dan tentu kita sedikit-demi sedikit memperbaiki tata bahasa kita.

Kalau dengan orang non-bule, memang kita tetap speak up, tapi ada logat-logat yang membuat pengucapan (pronounciation) menjadi kurang jelas. Seperti orang Vietnamese yang logat bahasa Inggrisnya agak beda; dan orang Jepang yang kurang dalam bahasa Inggris. Maka, kalau benar-benar ingin sekalian belajar bahasa Inggris, Jepang bukanlah pilihan. Mungkin Eropa atau Amerika lebih tepat (ya iyalah, bahasa utamanya English).

4. Ikutilah kelas bahasa

Berhubung saya sedang di Jepang, jadi kelas bahasa yang dimaksud adalah kelas nihonggo. Beruntung kampus saya ada program intensif bahasa Jepang, malah bisa dibilang SKS-nya lebih dari mata kuliah wajib, hehe. Berat memang, karena harus konsisten mengikuti kelas dari Senin sampai Jumat pagi—selama 5 bulan, mengerjakan shukudai (PR)-nya, dan menghapal atarashii kotoba (kosakata baru). Tapi, setelah terlewati senangnya bukan main. Berlelah-lelah dahulu, bersenang-senang kemudian.

Terus sejauh mana kemampuan bahasa Jepang saya sekarang? Jouzu ni natta (jadi jago kah)? Hmm, mada-mada desu (belum). Kalau untuk percakapan sederhana dan basa-basi insya Allah bisa. Tapi, kalau sudah masuk diskusi atau dengar orang ngobrol masih suka ada yang tidak dimengerti (missunderstanding). Kalau nonton dorama juga masih suka ada grammar yang agak beda dengan yang diajarkan di kelas, padahal artinya sama. Hmm, belajar selama 5 bulan ternyata belumlah apa-apa.

Saya iriiiii dengan orang Indonesia yang jago bahasa Jepang. Kelihatannya kok enak banget bisa ngobrol secara cas cis cus dengan orang Jepang. Tidak perlu mikir lama, tidak terbata-bata, dan tanpa “euuh..”. Kadang suka minder juga lihat yang seperti itu dan merasa bahwa ternyata belajar 5 bulan memang belumlah apa-apa. Saya masih kalah dengan anak (5-10 tahun) orang Indonesia (campuran Jepang) yang sudah fasih bahasa Jepang. Memang, anak-anak orang asing di Jepang hampir dipastikan lancar berbahasa Jepang.

Insya Allah saya akan ikut lagi kelas bahasa untuk fall semester besok. Sayang kalau tidak dilanjutkan, mudah-mudahan kemampuan bahasa Jepang—dan juga english—saya semakin meningkat (Mohon doanya). Karena siapa tahu ada takdir kembali lagi ke Jepang suatu saat nanti, jadi menyicil bahasa dari sekarang.

***

If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his own language, that goes to his heart. — Nelson Mandela

One thought on “Sticky Rice: Menghambat Kemampuan Berbahasa

  1. Pingback: Pindahan Apato | .rizaldwiprayogo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s