Pindahan Apato

Jadi ceritanya per tanggal 1 Oktober 2012 ini saya resmi pindah apato ke KU Int’l House. Ini karena masa berlaku (period of residence) di apato saya yang dulu (Wakunami) sudah habis, sepertinya ini memang kebijakan baru pihak kampus. Selain murah (sewa apato ¥10.000, gas + listrik ±¥5.000), di tempat ini (Wakunami) biasanya jadi persinggahan pertama mahasiswa internasional yang datang ke Kanazawa. Tapi, mulai saat ini, Wakunami tidak diperuntukkan lagi bagi mahasiswa internasional.

Sebenarnya, pihak kampus juga sudah membuat apato baru (Daiwa House) di dekat kampus, jadi mungkin nanti mahasiswa internasional yang datang akan dilimpahkan ke tempat ini. Secara biaya, tempat baru ini lebih mahal. Tapi, lokasinya lebih dekat kampus dan bergaya lebih modern. Keuntungannya saat musim dingin nanti tidak perlu ongkos transport. Tapi, posisinya kurang strategis dengan supermarket.

Konsep Wakunami adalah sharing room, jadi dalam satu apato ada tiga kamar, dan itu kami bagi antar sesama mahasiswa Indonesia (sticky rice! hehe). Dapur, kamar mandi, listrik, dan gas kami pakai secara bersama-sama. Jadi, keuntungannya adalah bisa saling berbagi, termasuk soal bayar tagihan dan belanja kebutuhan. Tapi, sewa apato tetaplah dihitung per satu orang.

Interior wakunami: kamar (lesehan gaya Jepang), dapur, dan kamar mandi

Apato yang sekarang saya tempati bersifat single room, syukurnya bayar sewanya lebih murah sedikit dan lokasinya dekat kampus (ngesot jalan 5 menit). Karena Int’l House ini milik kampus, jadi diperuntukkan bagi mahasiswa asing (international students) yang studi di Kanazawa University. Mudah-mudahan tidak menjadi golongan sticky rice lagi, hehe. Berharap bisa lebih berkembang (secara kemampuan bahasa) dan pergaulan.

Gedung Int’l House tampak depan

Pintu masuk, pakai ‘resident card scan system’

Parkiran sepeda selalu ada sebagai grand design pembangunan apato

Interior KU Int’l House: dapur & kamar mandi berhadap-hadapan, meja belajar dan tempat tidur

Tips pindahan apato

Pertama, Pastikan kita telah berkemas sejak sebulan dari kepindahan. Ini untuk memilah barang-barang yang masih berguna atau tidak. Kalau pun ada barang yang tidak terpakai lagi, segera buang. Mengingat di Jepang prosedur membuang sampah ditentukan berdasarkan jenis sampah dan harinya. Jadi, ini mengantisipasi kalau tidak ada waktu membuang sampah, padahal kita harus segera moving out.

Sekiranya masih ada barang berguna tapi tidak akan kita pakai (atau kelebihan), itu bisa diwariskan kepada sesama teman PPI. Seperti alat masak, jaket, heater, dan semisal perabot rumah tangga lain. Ingat, jangan mewariskan sampah! Kalau sekiranya tidak bisa dipakai lagi, sebaiknya buang saja, jangan diwariskan!

Saat masuk ke Wakunami, kami mendapat banyak warisan di apato yang kami tempati. Syukur itu bisa menambal kekurangan. Tapi, banyak juga barang yang tidak bisa terpakai lagi, dan akhirnya itu jadi sampah. Buanglah apa yang mesti dibuang, jangan diwariskan.

Kedua, Saat beres-beres dan memilah barang, memang ada saat kita merasa sayang membuang barang. Bisa dipakai inilah, untuk dipakai itulah, ada saja alasan untuk tidak jadi membuang (padahal seharusnya dibuang). Coba tanyakan kepada diri sendiri, apa saat barang itu kita simpan sudah kita pergunakan? Kalau jawabannya tidak, segera buang saja. Jangan menimbun barang yang tidak terpakai karena akan jadi beban bagi kita saat harus membuangnya nanti.

Ketiga, Jangan berlebihan mengambil barang warisan. Mengingat status kita di perantauan hanya sementara, jadi suatu saat nanti kita harus membuang atau mewariskan lagi barang yang kita punya. Repotnya kalau barang kita itu sudah tidak terpakai lagi, diwariskan pun tidak mungkin, maka itu harus dibuang. Dan membuang barang di Jepang cukup merepotkan (harus sesuai jenis dan hari), apalagi barang elektronik, kita harus membayar (beli bayar, buang juga bayar, hehe).

Kalau barang yang masih bisa dipakai, kita wariskan. Hanya, proses ‘lelang’―tanpa bayar―nya yang harus cepat-cepat. Mengingat kita harus segera pindah, dan barang itu sudah harus dipindahkan juga. Syukur kalau barang warisan itu cepat laku. Tapi, kadang barang warisan itu tidak laku-laku, sehingga harus dibuang juga (jika tidak dibutuhkan lagi), dan harus mengikuti prosedur jenis dan harinya.

Keempat, Perbaharui informasi administrasi. Segera informasikan pihak pos terkait dengan alamat baru kita melalui web ini. Ini untuk memudahkan kita menerima surat, tagihan, ataupun barang kiriman. Karena web tersebut berbahasa Jepang, tanyakan tutor jika butuh bantuan. Jangan lupa memperbaharui alamat di Alien Registration Card/Residence Card kita.

One thought on “Pindahan Apato

  1. septyaningdyah

    “Nice New Apato… “Bagus ummi tempatnya”. Begitu komentar anak saya yg paling besar..Dia senang banget liat foto2 kondisi di Jepang…semoga makin banyak foto2 y,.supaya bisa menginspirasi saya , terutama anak saya supaya punya cita2 yang tinggi.. aamin.. Semangat!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s