Orientasi Impian Kita

Memiliki impian saja tidak cukup, tapi juga harus dikuatkan dengan visi yang akan mengarahkan langkah kita dalam bertindak (action). Dari visi ini juga yang nanti akan menjawab pertanyaan batin, “mau kemana kita?”; “untuk apa kita melakukan ini?”; dsb. Seperti filosofi sholat, sebelum mendirikan sholat (action), kita harus menentukan dulu arah kiblat sebagai syarat sah sholat—menetapkan arah sebagai visi.

Impian memang identik dengan idealisme. Apalagi bagi seorang pemuda, pasti banyak sekali yang ingin dicapai dan direalisasikan. Dalam keberjalanannya, selalu ada hal di kiri-kanannya yang tampak menarik sehingga selalu membuat lupa dari tujuan semula. Ada situasi dimana ingin melakukan ini itu, mencoba ini itu yang kadang diluar dari impian besarnya.

Sudah menjadi mainstream bahwa setelah lulus inginnya mencari kerja. Setelah itu menikah, punya anak, hidup mapan, lalu mati. Sudah sampai disitu. Memilih untuk mencari kondisi teraman dan ternyaman bagi diri sendiri. Kondisi mainstream seperti ini pun pernah saya alami, sampai pada suatu ketika saat merenung bahwa saya terlalu egois dengan impian-impian saya.

Ya, pernahkah merasa bahwa selama ini ternyata impian yang kita bangun hanya berkutat pada diri sendiri? Kuliah, bekerja, menikah, berkeluarga; sudahkah menyisipkan impian untuk orang lain dalam agenda hidup kita? Bahwa impian yang kita bangun adalah untuk kebermanfaatan orang lain juga, tidak hanya ingin berkutat pada lingkaran diri dan keluarga.

Apakah cukup impian membuat kita lebih bersemangat dalam hidup? Belum tentu, tergantung dari besarnya cakupan lingkaran impian kita. Jika hanya berkutat pada lingkaran diri sendiri, impian akan terasa hambar. Setelah tercapai biasanya rasa puas itu tidak seberapa—hanya dinikmati sendiri. Coba bayangkan jika kita telah berhasil mewujudkan impian untuk orang lain—paling tidak untuk keluarga kita, maka yang turut berbahagia pun pasti banyak. Saat kita berbagi kebahagiaan, maka kebahagiaan kita pasti bertambah.

Melanjutkan sekolah ke luar negeri adalah salah satu impian saya. Ini bisa dibilang impian untuk diri saya sendiri sekaligus untuk keluarga. Ketika impian ini terlaksana, betapa keluarga pun ikut senang. Dan terbukti, kebahagiaan saya jadi bertambah karena orang tua saya—dan keluarga—ikut bangga dengan impian saya ini. Tapi, pertanyaan selanjutnya selalu hadir; setelah ini apa yang bisa kamu perbuat atau apa impian untuk lingkunganmu?

Ya, saya menyadari bahwa bermimpi itu tidak boleh berhenti ketika satu impian telah tercapai. Selalu ada tanggung jawab yang hadir setelah pencapaian-pencapaian. “Untuk apa kamu melakukan ini?”; “Untuk siapa kontribusimu?”; “Siapakan pemetik manfaat dari impian kamu bila terwujud?”; setidaknya pertanyaan-pertanyaan ini harus selalu hadir dalam diri kita. Karena selalu ada orang dibalik kesuksesan dan yang mendoakan kita dalam meraih impian. Maka, mari kita balas jasa mereka dengan memasukkannya dalam pencapaian impian kita.

Bahkan saat berdoa pun kita tidak boleh egois hanya mendoakan kesuksesan diri kita sendiri. Ketika kita mendoakan orang lain, maka saat itu juga malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk diri kita. Masukkan impian kita dalam doa, dan pastikan selalu menyertakan orang-orang di sekitar kita dalam berdoa. Setiap doa yang terpanjat secara istiqomah (konsisten) akan masuk ke alam bawah sadar kita dan akan menjadi tenaga penggerak untuk melakukan action.

Bangunlah pagi-pagi, berdoalah di awal hari. Karena biasanya ide-ide cemerlang muncul di pagi hari dan tak jarang kita menemukan inspirasi/impian baru yang ingin kita wujudkan dalam hidup. Saat matahari sepenggalan naik, sholat dhuha-lah dan berdoa. Ini akan menyegarkan refleksi kita tentang impian-impian kita. Berdoalah tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar kita. Jangan pelit mendoakan orang lain karena malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk kita.

Kata guru saya: jangan berdoa minta naik haji sendiri, tapi berdoalah menghajikan orang lain (terutama orang tua)—Alhamdulillah, sebagian beasiswa saya sudah dikirim ke orang tua untuk mendaftar haji.  Jangan berdoa untuk kesuksesan diri sendiri, tapi berdoa juga lah untuk kesuksesan impian orang lain. Karena Allah akan mengabulkan doa bagi yang mendoakan dulu baru kemudian yang didoakan. Jangan hanya berdoa untuk hal yang bersifat jangka pendek dan sementara, tapi berdoa juga lah untuk masa depan dan akhirat.

Bahkan seorang mukmin itu harus visioner yang punya visi panjang sampai kehidupan akhirat. Dunia sebagai kendaraan untuk memuluskan visinya di akhirat kelak. Kendaraan itu bisa berwujud profesi, pekerjaan, posisi dalam masyarakat, jabatan, status, dll. Masihkah kita bermimpi untuk diri kita sendiri? Ini menjadi introspeksi bagi saya untuk merevisi lagi mimpi-mimpi saya. Re-visi: memperbaiki niat atas visi.

Justru dengan berbagi, kehidupan kita akan lebih bermakna. Mari kita sama-sama ajak keluarga, masyarakat, dan negeri kita masuk dalam impian-impian kita. Agar impian kita tidak melulu dipenuhi dengan hal-hal yang berbau duniawi dan hanya berkutat pada lingkaran diri sendiri. Agar kita juga kembali kepada definisi sukses ala Rasulullah saw, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.”

*Mohon doanya agar yang menulis ini juga bisa mewujudkan impian-impiannya untuk kebermanfaatan orang banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s