Budaya Pamali

Sewaktu kecil memang saya suka mendengar istilah ‘pamali’ sebagai senjata yang ampuh agar kita mau mendengar nasihat orang tua. Apalagi saya berasal dari tanah Sunda yang notabene beradat santun dan lemah lembut. Jadi, budaya pamali tersebut biasanya digunakan agar kita tetap menjaga norma kesantunan terhadap orang lain.

Misalnya, pamali kalau duduk di pintu, nanti bisa susah dapat jodoh (nyongcot jodoh)—jangan menghalangi orang lewat. Kemudian, ada lagi kalau makan harus dihabiskan, jika tidak maka nasinya akan menangis—jangan mubazir. Terus jangan membuka payung di dalam rumah karena akan terjadi sesuatu yang buruk di dalam rumah—karena payung biasanya digunakan untuk memayungi keranda jenazah.

Saking polosnya saya waktu itu, ya saya menurut saja. Kemudian, seiring tumbuh dan berkembangnya saya, akhirnya saya menyadari bahwa istilah pamali tersebut ternyata tidak masuk akal. Logika saya akhirnya menolak relevansi antara sebab dan akibatnya. Namun, sebenarnya dibalik istilah pamali itu terkandung pesan yang mungkin akan sulit diterima ketika saya kecil dulu. Dan barangkali itu metode orang jaman dulu supaya anak-anak mereka mau mendengarkan nasihat.

Lantas kemudian saya berpikir, apa untuk menuruti nasihat harus ditakut-takuti dulu? Jika dalam konteks hari ini: apa untuk mematuhi hukum harus diancam dulu? Dan terbukti budaya pamali itu sukses menjaga kita dari perilaku yang melanggar norma. Hingga hari ini, ada juga yang masih memercayai budaya pamali ini. Apalagi di daerah pedalaman yang jarang bersinggungan dengan dunia luar. Bahkan budaya pamali lebih ditakuti daripada hukum tertulis yang berlaku. Dan tidak menutup kemungkinan kalau hukum adat setempat berangkat dari budaya pamali ini.

Di Jepang, meskipun perkembangan teknologinya semakin canggih, uniknya orang Jepang masih memegang norma/adat mereka. Mereka masih mempertahankan prinsip/nilai-nilai setempat; buktinya orang Jepang punya bahasa sendiri, kebudayaan sendiri, kebiasaan yang khas, style yang berbeda, dan semua yang berbau khas Jepang. Termasuk juga untuk urusan hukum adat. Itu juga yang menjadikan Jepang bisa menjadi negara yang tertib dan taat hukum.

Prinsip orang Jepang adalah ‘pamali’ menyusahkan dan setiap perilaku pasti dinilai orang lain. Berangkat dari dua prinsip ini; maka dalam berperilaku, orang Jepang selalu menjaga sikapnya. Bahkan saat menyadari dirinya mengahalangi jalan orang lain pun sampai membungkuk-bungkuk dan mengucapkan ‘sumimasen’ yang mendalam. Karena orang Jepang juga percaya reinkarnasi; bahwa perilaku mereka di dunia akan berbalik saat mereka reinkarnasi—kehidupan setelah kematian.

Dalam beberapa kasus memang budaya pamali lebih kuat daripada hukum tertulis itu sendiri. Karena orang akan cenderung untuk patuh jika ditakut-takuti. Kalau begitu, apa perlu kita membuat aturan adat “Korupsi itu pamali!”; “Suap itu pamali!”; “Tawuran itu pamali!”, “Terorisme itu pamali!”; dsb? Karena bagimanapun, jika hukum tertulis sudah tumpul; maka norma/adat atau sanksi sosial mestilah berlaku.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s