Mensyukuri Fasilitas

Sudah lewat setengah tahun saya berada di Jepang sebagai mahasiswa membuat saya merenung tentang rasa syukur kita terhadap fasilitas yang ada. Apapun yang membuat hidup kita lebih nyaman, lebih bisa belajar banyak, lebih bisa berkembang; itulah fasilitas untuk kita. Namun, kemudian saya berpikir; sayang sekali kalau fasilitas penunjang ini tidak membuat saya (kita) menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya yakin kalau masing-masing kita diberi rezeki berupa fasilitas; yang mana fasilitas itu adalah karunia Allah untuk menjadikan kita lebih baik. Dapat fasilitas beasiswa, sekolah ke luar negeri, bertemu hal-hal baru, berkenalan dengan teman dan budaya baru; harusnya kita malu kalau semua fasilitas penunjang itu tidak membuat kita lebih baik.

Anda juga tentu punya fasilitasnya masing-masing: pekerjaan yang layak; gaji bulanan yang tinggi; kondisi tempat kerja yang nyaman; badan sehat; makanan mencukupi; harta tercukupi; itulah fasilitas penunjang hidup kita—bahkan dalam sebuah hadits, “Tiga sebab kebahagiaan anak Adam: (1) Istri yang baik; (2) Rumah yang bagus; (3) Kendaraan yang bagus” (H.R Imam Ahmad).

Rasa khawatir pun timbul bilamana kesempatan ini tidak menghasilkan manfaat dan inspirasi apa-apa untuk lingkungan sekitar. Hingga sudah tiba waktunya kembali ke tanah air; ternyata masih banyak hal yang tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Penyesalan selalu datang belakangan, tapi kesempatan tidak akan datang dua kali.

Atas dasar kekhawatiran itu, saya suka bertanya ke para senpai terkait cerita mereka ketika studi di Jepang. Terkait hal-hal yang sebaiknya jangan dilewatkan; tentang kerjaan yang mesti dimaksimalkan; tentang pertemanan yang mesti dijalin, dsb. Intinya adalah agar saya tidak membawa penyesalan ketika sudah waktunya kembali ke tanah air nanti.

Maka, saya senang mencoba hal-hal baru. Apapun yang saya anggap bisa mendatangkan wawasan dan pengalaman baru, saya tidak pernah ragu untuk berpartisipasi. Mencoba ini itu, jalan-jalan kesana kemari, melihat tempat-tempat baru, bertemu wajah-wajah baru, belajar nihonggo, dsb. Intinya, apa yang bisa saya lakukan, sebisa mungkin saya lakukan.

Keluarga, teman-teman, dan lingkungan kita di tanah air pasti bertanya dan menagih: apa saja yang sudah diperoleh semasa di Jepang? Saya dan kita tentu semua berharap bisa memberi banyak jawaban dan bukti atas pertanyaan ini. Kita tidak ingin diri kita stagnan, padahal kita sudah dapat kesempatan dan fasilitas yang tidak diperoleh sebagian orang.

Tentu kita ingin menuju perubahan yang lebih baik. Dan tentu parameter “lebih baik” ini kembali ke standar masing-masing. Meskipun sifat dan watak sulit untuk diubah, tapi semestinya pemikiran dan sikap bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dengan fasilitas yang ada kini, tentu kita tidak ingin abai. Kita ingin bisa memaksimalkan dengan segenap usaha untuk mensyukuri fasilitas yang Allah berikan.

Mohon doanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s