Budaya Malu Orang Jepang

Dalam buku karya Ruth Bennedict—The Chrysanthemum and the Sword, disebutkan bahwa orang Jepang lebih menganut budaya malu (shame culture); sedangkan orang-orang Barat lebih menganut paham budaya dosa (sin culture). Maksudnya ialah, sebelum berbuat, orang Barat mempertimbangkan masalah-masalah moral sebagaimana yang diajarkan agama.

Pun bagi seorang muslim, sebelum berbuat, maka ia mempertimbangkan dulu mana perbuatan yang mendatangkan dosa atau pahala; bermanfaat atau tidak; pantas dan layak atau tidak; baik dan benar atau tidak; dan norma-norma yang ada.

Perasaan demikian konon tak terdapat pada orang Jepang yang notabene tidak mengenal agama. Orang Jepang menganggap agama hanyalah budaya saja. Lihat saja, shrine (jinja) dan temple (tera) lebih banyak berfungsi sebagai objek wisata ketimbang tempat ibadah. Beberapa diantaranya Kinkakuji dan Kiyomizudera (Kyoto), Sensoji (Tokyo) .

Yang menjadi pertimbangan orang Jepang sebelum berbuat adalah apakah perbuatan itu akan menyebabkan ia mendapat malu atau tidak. Tak mengenal rasa dosa. Orang Jepang (meskipun tidak bisa digeneralisasi) lebih memerhatikan bagaimana anggapan orang lain kepadanya dari segi sosial. Sebisa mungkin menghindari sikap yang memalukan (awkward moment).

Usaha untuk menghidarkan rasa malu tersebut adalah dengan jalan menyesuaikan diri dengan orang lain—mengikuti mainstream. Melihat tetangganya rajin membersihkan rumah, maka ia pun ikut rajin. Dia akan malu sendiri jika rumahnya kotor sedangkan rumah semua tetangganya bersih. Orang Jepang juga lebih memilih untuk berseragam ketika ke sekolah atau tempat kerja. Para sarariman (salary man—pekerja kantoran) juga menyamakan pakaiannya dengan rekannya. Karena ia akan malu jika tidak sama dengan sesamanya.

Ketika berada dalam lingkungan orang-orang Jepang, seorang gai-jin (orang asing) juga akan ikut “menganut” paham budaya malu. Malu melanggar peraturan karena merasa dilihat orang Jepang; malu buang sampah sembarangan karena saat mabuk pun orang Jepang masih membuang sampah di tempatnya; malu untuk terlambat karena orang Jepang terkenal tepat waktu; malu kalau tidak mengantri; menjaga suara karena orang Jepang tidak suka keributan, dsb. Perilaku kita akan ikut terjaga karena berada dalam lingkungan orang yang juga menjaga perilakunya.

Tapi, dalam satu kondisi dimana tidak ada orang Jepang, misalnya saat berkumpul dengan teman-teman non-Japanese—yang tidak terbiasa menganut budaya malu; kadang budaya malu tersebut luntur. Keberadaan orang Jepang dijadikan fungsi kontrol. Ini juga yang saya khawatirkan ketika pulang ke Indonesia nanti. Ketika sistem dan lingkungan tidak mendukung untuk menjaga budaya malu; maka akan sulit untuk berjuang sendirian.

Maka, carilah lingkungan yang sama-sama (setidaknya) memiliki rasa malu. Malu untuk korupsi karena melihat sekelilingnya adalah orang-orang bersih; malu menjadi benalu karena sekelilingnya orang-orang produktif; malu berkeluh kesah karena sekelilingnya adalah orang-orang yang tulus; malu terlambat karena teman-temannya selalu tepat waktu dsb. Intinya, milikilah fungsi kontrol yang akan selalu menjaga dan membuat kita merasa terawasi dalam bersikap dan berbuat.

Maka, benarlah hadits Rasulullah saw bahwa malu adalah salah satu cabang dari Iman (CMIIW). Tindakan/perilaku seseorang masih bisa terkendali jika masih memiliki rasa malu di dalam dirinya. Jangan sampai mengaku beriman, tapi berbuat seolah tidak tahu malu—berbuat sekehendak gundulmu!

Lagi-lagi, saya banyak belajar dari spirit orang Jepang.

2 thoughts on “Budaya Malu Orang Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s