Konsep Orang Jepang Menyatu Dengan Alam

Menarik kalau kita perhatikan tata kota dan lanskap kota-kota di Jepang. Hampir semuanya dibangun dengan grand design yang baik; maka jangan heran kalau tata kota di setiap wilayah itu hampir mirip. Satu hal yang paling kentara adalah grand design untuk kaum difabel, pejalan kaki, dan pesepeda. Mereka tetap menjadi perhatian utama.

Juga bagaimana orang Jepang menjadikan sungai sebagai bagian dari tata kota mereka. Di Jepang, pemukiman penduduk di-set menghadap ke sungai; sebaliknya, di Indonesia pemukiman penduduk membelakangi sungai. Dengan begitu, orang Jepang merasa memiliki tanggung jawab terhadap apa yang berada di depan rumahnya. Mereka tidak rela jika sungai di depan rumahnya terkotori; ada rasa memiliki.

Di Jepang, kebersihan air sungai dijaga sampai aliran sungai di pusat kota sekalipun. Karena kebersihannya itu, sungai dijadikan sebagai sumber inspirasi dan refreshing. Sedangkan di kita, sungai dijadikan sebagai tempat buang kotoran; susah mendapat inspirasi sehingga mudah tumbuh kejenuhan sosial.

Orang Jepang pandai menghargai alam karena ajaran nenek moyang mereka (shinto) yang mengajarkan untuk memberi penghormatan kepada alam. Misalnya, pohon besar tidak boleh ditebang sembarangan karena ada Dewa (Kami) yang bersemayam di dalamnya. Maka, dalam grand design pembangunan, sebisa mungkin mereka tidak merusak alam.

Dengan konsep kepercayaan yang “sederhana” ini, bisa dibilang mereka cukup sukses menjaga kelestarian alamnya. Saat ini tempat yang bisa dihuni sekitar 30% dari luas daratan Jepang yang ada. Selebihnya, sekitar 70% masih dibiarkan berupa gunung dan bukit. Mengingat kontur Jepang yang berbukit-bukit, jalan raya atau kereta dibangun dengan tidak menggunduli bukit. Tapi, mereka membuat tonneru (tunnel) menembus bukit.

Jika akan ke Tokyo dengan kereta, maka di daerah Shizuoka-ken akan banyak sekali tunnel, mengingat di daerah tersebut terdapat rangkaian pegunungan Gunung Fuji. Malah ada stasiun di dalam tunnel. Tunnel-nya lebih panjang daripada tunnel yang berada di daerah Gombong, Jawa tengah, jika akan ke Jogja lewat jalur selatan KA dari Jawa Barat.

Di Indonesia, jalan raya atau kereta lebih banyak dibuat melingkari bukit dan meliuk-liuk di pegunungan. Dengan begitu, akan banyak pohon yang ditebang. Orang Jepang tidak menghendaki ini, selain karena high cost, mereka menganggap cara tersebut akan banyak merusak pohon dan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s