“Made in Indonesia”

Siapapun yang pernah merasakan pelayanan publik di Jepang pasti merasakan kemudahan. Karena bagaimanapun, efisiensi selalu menjadi perhatian di samping memberikan kemudahan bagi publik/pengguna jasanya.

Menurut Nishibori Eizaburo (Kyoto University), bahwa peningkatan efisiensi dan kemudahan pelayanan dalam masyarakat Jepang itu bukanlah pengaruh dari budaya Barat yang masuk pada masa Restorasi Meiji di tahun 1868. Tapi, semua itu bersumber pada konsep budaya malu orang-orang Jepang.

Orang Jepang merasa malu kalau kinerjanya kurang baik. Sebaliknya, mereka akan bangga jika kualitas pekerjaan mereka bagus; seperti produksi barang, pelayanan publik dan jasa. Konsep budaya malu ini juga yang menyebabkan tumbuhnya kesadaran untuk selalu mengontrol kualitas (Quality Control) hasil pekerjaan. Dengan demikian, kualitas selalu terjaga dan ditingkatkan.

Orang Jepang mengenal istilah “ii toko tori (いいとこ取り)”: hanya mengambil yang terbaik. Ini jadi alasan eksportir sulit bernegosiasi karena “rewelnya” pihak Jepang dalam mengontrol kualitas barang. Mereka tidak mau menerima barang cacat sedikitpun juga, mereka sangat perfeksionis dalam hal ini. Termasuk juga barang-barang yang diimpor dari negara lain.

Beberapa pengusaha Eropa memberikan lisensi kepada perusahaan Jepang untuk memproduksi barang mereka untuk dijual di Jepang; yang juga mereka akui bahwa kualitas barang yang dibuat di Jepang jauh lebih baik ketimbang diproduksi di negaranya sendiri.

Tentu ini memberikan konsekuensi logis: harga barang menjadi lebih mahal. Mungkin karena prinsip “ii toko tori” dalam menjaga kualitas ini, beberapa kota di Jepang (Tokyo, Osaka, Nagoya) masuk dalam kategori kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia; terutama dalam 3 sektor: transportasi, housing, dan pendidikan.

Dalam sebuah tulisan, pernah seorang menteri menjawab pertanyaan wartawan terkait mengapa harga-harga barang di Jepang lebih mahal. Kemudian jawaban menteri tersebut, “Tapi Anda harus tahu bahwa apa yang Anda beli di Jepang itu adalah yang terbaik di dunia. Para produsen di seluruh dunia mengirimkan hasil terbaiknya ke sini, termasuk hasil pertanian.”

Sewaktu masuk ke toko olahraga, saya lihat kostum pemain bola MU asal Jepang, Shinji Kagawa bernomor punggung 26. Setelah melihat harganya, yaitu sekitar 16.000 Yen, WOW. Ternyata setelah saya lihat bagian lehernya, tertulis “made in Indonesia”.

Pikiran saya mengawang sejenak; mungkin kainnya dari Cigondewah-machi, dijahit dan disablon di jalan Suci, Bandung-shi, Jawa Barat-ken. Jadi, jangan anggap remeh produk negeri kita sendiri, karena itu bisa dihargai sangat mahal di negeri orang dan masuk dalam kategori menteri tadi: terbaik di dunia.

Kostum MU made in Indonesia, dihargai mahal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s