Jelajah Masjid di Jepang (1)

Lapor! Laporan terkait penggalangan dana untuk masjid Kanazawa, Alhamdulillah tim yang berangkat ke Masjid Yokohama (Jumat, 30 Nov 2012) mendapatkan 420.000 Yen. Senang juga bisa melihat masjid-masjid di Jepang ini, mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa melihat masjid tanpa harus jauh-jauh meninggalkan Kanazawa. Mudah-mudahan berkenan kalau saya bercerita sedikit tentang masjid-masjid di Jepang. Begini ceritanya …

—-

Barangkali kita sudah pada tahu bahwa masjid yang pertama kali dibangun di Jepang adalah masjid Kobe (神戸ムスリムモスク) pada tahun 1935. Pertanyaannya, kenapa tidak dibangun di Nara (奈良) sebagai ibukota pertama, atau Kyoto (京都) sebagai ibukota selanjutnya? Atau malah bukan di Tokyo (東京)?

Secara bahasa Kobe ditulis dengan kanji ‘kami’ 神 (Tuhan) dan ’to’ 戸 (pintu), jadi artinya pintu Tuhan. Selain itu, mengingat lokasi Kobe yang berbatasan dengan laut secara langsung, maka Kobe juga menjadi pintu kedatangan orang asing melalui jalur perdagangan. Melalui jalur ini juga orang Turki datang dan kemudian membangun masjid Kobe (1935). Baru tiga tahun kemudian, didirikanlah masjid Jami di Tokyo.

Bagi yang sudah pernah ke Kobe, kita bisa melihat simbol-simbol agama begitu terasa. Ada gereja yang lumayan banyak; ada ‘jinja’ 神社 (kuil)—Ikuta Shrine—yang juga ditulis dengan kanji Tuhan. Padahal, Jepang adalah negara sekuler yang tidak mencampur-adukkan agama dalam konstitusi mereka. Hal ini dimaksudkan supaya jangan sampai Jepang mengulangi kesalahan yang sama pada masa sebelum perang.

Ketika agama Shinto (神道)—secara bahasa artinya jalan Tuhan—dianggap sebagai agama resmi, maka ini mendorong tumbuhnya pemujaan terhadap Tenno Heika sebagai keturunan dewa-dewa. Hal itu dianggap sebagai penyebab utama Jepang menjadi agresif dalam mengalahkan negara-negara di sekitarnya dengan ambisi menegakkan Asia Timur Raya.

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Jenderal McArthur dari Amerika sebagai Komandan tertinggi pendudukan sekutu di Jepang kemudian menolak konsep konstitusi yang dibuat oleh pihak Jepang karena dianggap tak ada bedanya dengan konstitusi sebelumnya. Kemudian diberlakukan konstitusi pada 3 Mei 1947, yang isinya Kaisar tidak lagi dianggap sebagai keturunan Amaterasu Omikami—dewa tertinggi dalam kepercayaan Jepang, tapi hanya sebagai lambang negara dan persatuan rakyat saja.

Itulah sejarahnya Jepang menjadi negara Sekuler. Mengapa nama Kobe sebagai pintu Tuhan ada, karena pada masa itu (sebelum pembuatan konstitusi pada 1947) Jepang masih menganut prinsip Ketuhanan. Hanya saja, pada masa sekarang-sekarang ini, agama tidak dicampur-adukkan dalam urusan kenegaraan.

Pada masa perang dunia II itu juga menjadi catatan sejarah bagi masjid Kobe karena tidak hancur saat di-bom atom sekutu, gambarannya ada pada film ‘Grave of the Fireflies’. Dan juga tidak hancur saat gempa bumi 1995.

Di depan masjid Kobe, masjid pertama di Jepang

Di depan masjid Kobe, masjid pertama di Jepang

Bagi yang sudah ke masjid Kobe, disana kita akan menemui salah satu alim ulama (Imam Gamal Kalaf) yang fasih 3 bahasa (English, Arabic, Nihonggo). Tidak heran kalau alim ulama menguasai English dan Arabic; tapi menguasai Nihonggo? Orang Jepang mengenal kotowaza (peribahasa): gou ni itte wa, gou ni shitagae; yang artinya kurang lebih sama dengan “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Bagaimanapun dakwah tetap harus dilancarkan ke orang-orang Jepang sekalipun, salahsatunya dengan menguasai bahasa mereka. Karena konsep dakwah menurut Syeikh Hussein Yee adalah mengajak kepada orang yang not yet muslim; sedangkan kepada sesama muslim adalah nasihat.

Hal yang sama juga saya temui di Masjid Yokohama kemarin; salah satu alim ulama yang saya temui menguasai 3 bahasa (English, Arabic, Nihonggo) sebagai alat menyampaikan dakwah—sekalipun kepada orang Jepang. Dan beliau mendoakan supaya Masjid Kanazawa segera terealisasi. Namun, ada PR untuk kita semua ketika Masjid Kanazawa sudah terealisasi nanti.

Saya jadi teringat nasihat Syaikh Mohsen (dari Ibaraki) yang pernah memberikan ceramah di acara IMS 24 Juni 2012: “Memiliki masjid sendiri tapi tidak punya alim ulama adalah masalah, karena ketika ada orang yang datang dan meminta diajarkan Islam, maka setiap muslim akan mendeskripsikan Islam sesuai dengan opini masing-masing, bukan menurut Al-Quran dan Sunah”.

Minna san, otsukare sama desu.

Masjid Jami Yokohama, menjelang sholat Jumat

Masjid Jami Yokohama, menjelang sholat Jumat

6 thoughts on “Jelajah Masjid di Jepang (1)

    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Saya ga tau persis apa orang Jepang cuma makan ikan aja atau makan yang lain juga, saya malah baru tau kabarnya dari kamu, gan. Film itu sebenernya ngegambarin sejarah pemboman Jepang saat perang dunia II, ga nampilin masjid Kobe secara langsung. Kan film itu dibuatnya setelah Jepang jd negara sekuler, jadi simbol2 agama sebisa mungkin ga dicampur-adukkan.

      Ternyata saya juga baru tau bahwa yang dibom itu sebagian besar kota2 di Jepang. Cuma, dulu di sekolah kan sejarah yang diajarinnya cuma Hiroshima dan Nagasaki, padahal ternyata sebagian besar kota2 lain juga hancur. Itu juga yang jadi cikal bakal Indonesia merdeka pada tahun itu.

      Reply
  1. enda

    aduh jdi bngun klou kejepang slat jumatnya susah cri masjidnya….. itu jga klo boleh di izinin sma bosnya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s