Jelajah Masjid di Jepang (2)

Lapor! Yen Army melaporkan bahwa dana yang terkumpul dalam misi perjalanan ke masjid-masjid kawasan Tokyo adalah 1.200.000 Yen. Misi belum selesai, karena cerita baru akan dimulai. Begini ceritanya …

Dulu ceritanya saya pernah shalat Jumat di masjid Kobe; ini menjadi rangkaian perjalanan menghabiskan jatah seishun 18 kippu musim panas. Terhitung sudah tiga kali saya datang ke masjid Kobe dalam momen yang berlainan. Ini karena sejarah masjid Kobe yang benar-benar membuat saya rindu ingin datang lagi.

Bagaimana masjid yang tidak hancur saat dibom sekutu dan gempa hanshin 1995; kalau kita tahu sejarahnya, melihat masjid Kobe dan masjid-masjid lainnya pasti beda rasanya. Tidak akan sama takjubnya, apalagi bisa melihat masjid di negara sekuler macam Jepang ini.

Jamaah yang datang sebagian besar dari kawasan Asia: Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh; juga ada muslim Eropa dan Mesir. Kalau mau tahu cara membedakan mana orang Indonesia dan yang bukan, lihat saja posisi duduk tahiyatul akhirnya, hehe. Juga ada saya temui beberapa orang saja dari kalangan Japanese muslim.

Saat di Masjid Yokohama, justru saya tidak melihat seorang Japanese muslim satu pun. Kebanyakan dari Asia Selatan; seperti Pakistan, Bangladesh. Orang Indonesia yang saya temui hanya beberapa, itupun saya tahu dengan melihat posisi duduk tahiyatul akhirnya😀. Beda halnya dengan Masjid Hira di Chiba Jumat kemarin, justru disitu banyak komunitas orang Indonesianya. Sebagian yang lain berasal dari Pakistan, Bangladesh, dan Mesir.

Kalau kita perhatikan, kebanyakan jamaah itu bukanlah orang Jepang yang notabene sebagai penduduk pribumi. Bahkan, orang Jepangnya hanya satu-dua saja. Ini menunjukkan bahwa dakwah Islam belum secara intensif ditujukan kepada mereka. Orang Jepang menganggap agama Islam itu agama untuk orang asing.

Apalagi seorang Japanese awam yang sering mendengar kabar peperangan antar sesama negara Islam, jelas sudah membuat mereka bingung. Dan juga persaingan (bahkan gesekan) antar berbagai aliran Islam dari berbagai negeri dalam melakukan syiar Islam tidaklah menggambarkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Konon, agama Islam masuk ke Jepang pada akhir abad ke-19 dan kemudian mulai membangun masjid Kobe pada tahun 1935. Tapi, jumlah orang Jepang yang memeluk agama Islam belum bertambah secara signifikan. Barangkali ada yang pernah dengar nama Abdullah Taqy Takazawa; beliau adalah 1 dari 13 juta penduduk Tokyo yang menjadi Imam dari kalangan Japanese.

Salah satu masjid di kawasan Otsuka, Tokyo - Masjid Otsuka

Salah satu masjid di kawasan Otsuka, Tokyo – Masjid Otsuka

Jumlah muslim di Jepang memang bertambah, tapi kebanyakan dari mereka adalah para pendatang sebagai salary-man atau pelajar. Saya belum mendengar ada orang Indonesia yang menjadi pengusaha di Jepang. Mungkin karena pengusaha Indonesia kebanyakan terlalu mengandalkan fasilitas (pemerintah) sehingga tidak mampu bersaing di arena terbuka.

Berlainan dengan orang India dan Pakistan (dan sebagian Asia Selatan) yang banyak menjadi pengusaha di Jepang ini. Kecuali restoran India atau Pakistan, banyak juga toko-toko yang dimiliki oleh orang India atau Pakistan. Sebagai wujud hormat kepada tamu, pengurus masjid Hira Chiba sempat mengajak makan siang di restoran India (Yuujin), tapi restoran tersebut dimiliki oleh orang Nepal.

Dalam buku The Lords of The Rim-nya Sterling Seagrave; Jepang (dan Korea) adalah negara sekeliling Pasifik yang ekonominya tidak didominasi oleh kaum Cina perantauan (Hoakiau), sedangkan di negara lain dikuasai oleh mereka.

Memang di Jepang juga ada orang Cina yang menjadi pengusaha, tetapi jumlahnya tidak seberapa. Chinatown di Jepang hanya ada di tiga kota: Kobe, Yokohama, dan Nagasaki. Restoran Cina juga kebanyakan milik orang Jepang, walaupun mempekerjakan ahli masak Cina.

Bagi yang sudah ke Masjid Kobe, tepat di seberangnya ada Toko Halal (Groceries) yang dimiliki oleh orang Pakistan. Dia menikah dengan Japanese muslim, ini saya tahu dari kasir asal Indonesia yang sedang baito disitu. Ini menunjukkan bahwa ada Japanese muslim lewat pernikahan. Meski di Masjid Hira Chiba kemarin, saya diceritakan oleh pengurus masjidnya bahwa ada juga Japanese muslim yang bukan lewat pernikahan.

Beberapa rumah dari Toko Halal depan masjid Kobe, ada lagi sebuah restoran halal “Naan Inn” yang selalu membuka menu Viking pada hari Jumat. Saya yang waktu itu datang hari Jumat kemudian masuk. Baru pertamakali di Jepang, saya masuk ke sebuah restoran disambut dengan “Irasshaimase” dan disambung dengan salam “Assalamu’alaikum”.

Ternyata seorang pelayan yang sedang baito disitu adalah Japanese muslim. Usman Nagasaki namanya, setelah berganti nama yang asalnya Takeshi Nagasaki. Dia termasuk Japanese muslim yang bukan lewat pernikahan. Dia rajin sholat di masjid Kobe, bahkan saya perhatikan dia termasuk yang lama dzikirnya.

Sejenak saya merenungkan bahwa seorang mualaf memiliki tekad yang lebih kuat dibandingkan seorang yang sudah muslim sejak lahir. Bagaimana mereka bisa melesat lebih cepat; bagaimana seorang Anton Medan, Ustadz Felix Siauw, Syafii Antonio (pakar ekonomi syariah). Bahkan ayah Syafii Antonio pernah berkata bahwa akan masuk Islam jika masjid-masjid sudah bersih! Karena ayahnya melihat bahwa orang miskin dan kumuh itu sebagian besar orang Islam.

Padahal, pembesar-pembesar Islam terdahulu adalah orang-orang hebat: Abu Bakar, Umar bin Khatab, Abdurrahman bin Auf. Heran juga, kenapa negara-negara hebat justru bukan dari negeri yang mayoritas penduduknya muslim? Bahkan seorang mualaf Usman Nagasaki saat ditanya bagaimana perasaannya setelah masuk Islam, yokatta katanya. Insya Allah Usman san ini akan jadi agen dakwah Japanese yang hebat.

Good is the enemy of the great. Inikah alasannya kenapa surga itu diciptakan bertingkat-tingkat; yaitu untuk membedakan mana muslim yang hanya “sekedar” baik, dan muslim yang benar-benar hebat selama hidupnya di dunia. Wallahu’alam.

Minna san, otsukare sama desu.

Foto Masjid Hira Chiba

Foto Masjid Hira Chiba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s