Orang Jepang kok Natalan?

Menarik kalau kita lihat orang-orang Jepang yang ikut sibuk mempersiapkan hari Natal. Apa mereka benar-benar merayakan Natal? Sedangkan persentase penduduk Kristen hanya sekitar 1% dari total penduduk (Wikipedia). Jepang yang mayoritas penduduknya tidak menganut agama Kristen adalah bangsa yang paling meriah dan paling awal menyambut hari Natal.

Orang Jepang merayakan hari Natal bukanlah karena memeluk agama Kristen. Sebagai penyuka perayaan dan festival, mereka melakukannya karena menganggap hal itu menarik dan merupakan peluang bisnis yang menguntungkan bagi para pelaku usaha.

Sedangkan negara tidak pernah campur tangan dalam urusan agama. Tidak ada pengaturan agama dalam konstitusi Jepang, agama adalah urusan individu. Departemen Agama, Menteri Agama, apalagi hari libur agama tidak diadakan. Hari kemarin (23-24 Desember) adalah hari libur untuk memperingati kelahiran Kaisar Akihito.

Dalam dunia pendidikan, agama tidak diajarkan di dalam kelas. Agama hanya dibahas dalam konteks sejarah. Pendidikan moral diajarkan dengan menanamkan good habits kepada anak didik. Pada dasarnya, agama bagi orang Jepang hanya sekedar budaya, tradisi, atau kebiasaan saja. Jinja dan tera lebih banyak difungsikan sebagai objek wisata ketimbang tempat ibadah.

Sejarah masuknya pengaruh Barat

Jepang pernah memberlakukan proteksionisme sampai tahun 1868. Periode ini kita kenal dengan Periode Edo (江戸時代) dalam rentang tahun 1600 – 1868. Dalam periode ini, orang asing dilarang masuk dan orang pribumi sendiri dilarang meninggalkan Jepang.

Dalam masa isolasi ini, justru ini menjadi masa-masa munculnya kebudayaan asli Jepang: Kabuki, Geisha, dan semacamnya. Dalam masa ini, pengaruh asing (terutama Barat) belum banyak masuk ke Jepang. Baru pada saat Periode Meiji (restorasi Meiji) dalam rentang tahun 1868 – 1912, Jepang membuka diri terhadap dunia luar dan pengaruh Barat mulai banyak berdatangan.

Pada masa itu, pasukan Amerika yang dipimpin oleh Komodor Matthew Perry datang melalui Tokyo Bay dan misionaris pun mulai tumpah ruah ke Jepang. Mutsushito (Emperor Meiji) yang saat itu berusia 15 tahun dan menjadi pemimpin kemudian mengubah nama Edo (江戸) yang artinya ‘pintu teluk’ menjadi Tokyo (東京) yang artinya ‘Ibukota timur’.

Orang Jepang kemudian menyebut orang asing yang masuk ke Jepang sebagai gaikokujin (外国人). Tapi, meskipun setiap orang asing dianggap ‘gaikokujin’, mereka tidaklah sama. Orang Jepang dalam memandang segala sesuatu itu sesuai dengan pemahaman mereka tentang konsep ‘uchi’ dan ‘soto’.

‘Uchi’ merepresentasikan orang dalam; sedangkan ‘soto’ merepresentasikan orang luar. Dalam setiap ‘uchi’, setiap orang menempati kedudukan sesuai dengan hierarki yang sudah ditetapkan. Paham ini juga digunakan dalam lingkup masyarakat yang lebih luas.

Di sekolah, murid yang lebih dulu masuk dan lebih tinggi kelasnya disebut ‘senpai’. Secara bahasa, ‘senpai’ ditulis dari kanji 先(さき – saki) yang artinya terlebih dulu (former)—sama halnya untuk kanji ‘sen’ pada ‘sensei’; dan 輩 (はい – hai) yang artinya orang (fellow). Jadi, ‘senpai’ bisa diartikan orang yang lebih dulu tahu atau lebih dulu berpengalaman.

Sedangkan ‘kohai’ ditulis dari kanji 後 (あと- ato) yang artinya belakangan (later); dan 輩 (はい – hai) yang artinya orang (fellow). Jadi, ‘kohai’ bisa diartikan orang yang belakangan tahu atau masih “hijau”. Hierarki ‘senpai – kohai’ ini secara konsisten terdapat pula dalam lingkungan pekerjaan; siapapun yang berada dalam posisi ‘kohai’ harus menghormati dan mengikuti petunjuk ‘senpai’-nya.

Dalam pergaulan antar bangsa pun, konsep ‘senpai – kohai’ tetap digunakan. Artinya, dalam pandangan orang Jepang, kedudukan bangsa-bangsa itu tidak sama, melainkan sesuai dengan hierarki dalam ‘uchi’. Artinya demikian pula kedudukan seorang ‘gaikokujin’ dalam pandangan mereka.

Bangsa yang pernah mengalahkan mereka, yaitu bangsa Barat, ditempatkan dalam kedudukan yang tinggi. Sedangkan bangsa-bangsa yang pernah mereka jajah, ditempatkan dalam kedudukan yang rendah. Hal itu tercermin dari banyaknya budaya-budaya Barat yang masuk ke Jepang, termasuk dalam perayaan Natal.

Orang Jepang ikut latah merayakan Natal. Many Christmas?!

Orang Jepang ikut latah merayakan Natal. Many Christmas?!

Banyak budaya Barat dalam perayaaan Natal yang diadopsi oleh orang Jepang. Memang sudah merupakan kebiasaan orang Jepang untuk mencari sesuatu yang menarik dari negara-negara Barat dan kemudian memodifikasinya menjadi sesuatu yang khas Jepang (Jepangisasi). Kita kenal istilah いいとこ取り(ii toko tori), yaitu mengambil yang terbaik.

Segala pengaruh dari Barat lebih bisa diterima ketimbang pengaruh dari Timur, karena orang Jepang sendiri menganggap bahwa bangsa Barat adalah ‘senpai’-nya yang harus dihormati dan dituruti; sedangkan bangsa Timur adalah ‘kohai’-nya.

Terakhir, mari kita simak salah satu motivasi berprestasinya Khoirul Anwar sensei. Beliau bilang salah satu motivasinya adalah untuk dakwah (ke orang Jepang), karena orang Jepang baru akan melihat siapa yang bicara ketika orang itu dianggap lebih tahu, lebih berpengalaman, dan lebih berprestasi. Sebagaimana ‘sensei’ atau ‘senpai’ yang berbicara kepada orang di bawahnya.

Saat ini, orang Jepang ikut merayakan Natal meskipun mungkin tidak paham maksudnya. Insya Allah suatu saat nanti, orang-orang Jepang akan ikut sholat; akan ikut shaum dengan memahami maksudnya. Wallahu’alam.

Tulisan ini juga dimuat di Republika, semoga menjadi bahan pembelajaran untuk saudara-saudara kita di tanah air. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s