Budaya Konfirmasi

Seringkali prasangka buruk hadir karena komunikasi yang tidak lancar. Atau karena mengabaikan budaya konfirmasi atau minta izin. Padahal, konfirmasi tersebut dibutuhkan oleh orang yang mungkin akan meneruskannya lagi ke orang lain. Semacam pesan berantai, satu orang menunggu konfirmasi dari yang lain. Jadinya, sama-sama saling menunggu.

Nah, kalau orang yang dimintai konfirmasi tidak menjawab dengan segera, ini akan menghambat jalannya komunikasi ke orang berikutnya. Yang ada malah muncul prasangka yang tidak-tidak, dan prasangka buruk itu mengarah pada dosa. Jadi, sebenarnya budaya konfirmasi ini tidak boleh dianggap perkara remeh.

Barangkali kita beranggapan bahwa konfirmasi bisa dilakukan kapan saja, atau kasus yang paling sering terjadi adalah menunggu suara terbanyak dulu, baru kemudian memberikan konfirmasi. Padahal, nyatanya dia sudah mengetahui informasinya dan dia diminta untuk konfirmasi. Tapi, ternyata untuk meng-konfirmasi hal-hal kecil saja susah ya…

Barangkali dia harus berada di posisi yang meminta konfirmasi dulu, sehingga dia bisa merasakan bagaimana rasanya menunggu konfirmasi yang tidak jelas. Betapa tidak mengenakkannya menunggu informasi yang menggantung. Bahkan, kelamaan menunggu konfirmasi bisa menghambat si peminta konfirmasi untuk meneruskan informasi ke orang berikutnya atau memulai pekerjaan.

Jadi, kalau diminta konfirmasi, sebisa mungkin dijawab ya … supaya orang yang menunggu tidak menunggu-nunggu hal yang menggantung dan supaya tidak ada prasangka yang tidak-tidak.

One thought on “Budaya Konfirmasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s