Tentang Pola Hidup Hemat

Dulu sewaktu masih S1 saya suka main ke kost teman untuk mengerjakan tugas atau sekedar ngobrol. Satu-satunya “mainan” yang bisa digunakan adalah komputer. Komputer bagi anak kost-an menjadi barang yang sering digunakan.

Sewaktu kami akan pergi cari makan, teman saya itu tidak mematikan komputer dan lampu kamar kost-an nya. Saya bilang, itu komputer dan lampu kan tidak dipakai, kenapa tidak dimatikan? Terus dia jawab, lah saya juga kan bayar listrik disini, jadi ya terserah saya mau dimatikan atau tidak.

Saya berusaha memaklumi sambil mencoba menjelaskan kepadanya, loh kan listrik yang kamu pakai itu juga kan dipakai bersama seluruh Indonesia. Jadi, listrik yang kamu pakai di kost-an juga bakal pengaruh ke daya listrik se-Indonesia. Dan bakal pengaruh ke konsumsi listrik di daerah tertentu. Jadi, bayar atau tidak, setidaknya latihlah perilaku hidup hemat.

Cerita lain. Sewaktu masuk sholat Dzuhur di masjid Salman ITB, suasanya selalu rame oleh Jamaah. Antrian di tempat wudhu juga penuh. Saya melihat jamaah yang hemat sekali dalam menggunakan air. Keran yang dia buka juga tidak terlalu besar, cukup untuk membasuh bagian-bagian yang perlu.

Sewaktu dia akan membasuh bagian-bagian tubuh tertentu, dia sesekali mematikan keran sambil mempersiapkan bagian tubuh lain yang siap untuk dibasuh. Dan keran yang dibuka pun tidak terlalu besar. Selain untuk berhemat, percikan airnya pun supaya tidak membasahi orang lain.

Ada lagi, orang yang sudah mengocorkan keran meskipun keadaan dia belum siap untuk berwudhu. Dia sudah mengocorkan keran sedari menyingsingkan lengan baju dan menyimpan berbagai peralatan, seperti tas dan kacamata. Air yang keluar menjadi mubadzir.

Bahkan Rasulullah saw pun menasihati agar tetap berhemat meskipun berwudhu di aliran air sungai.

Tanpa sadar perilaku hidup boros telah menjadi kebiasaan. Kalau kata pepatah, practice makes perfect. Hanya saja, kita juga mesti sadar terhadap perilaku apa yang sedang kita latih. Jangan-jangan kita sedang melatih kebiasaan buruk dan gawatnya kebiasaan buruk tersebut telah menjadi perfect. Dan ketika ada orang yang mengingatkan tentang itu maka dia akan melakukan berbagai macam pembenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s