Catatan Perjalanan (5): Masjid

Mengobati kerinduan setelah sekian lama gak mendengar adzan dari menara masjid selama tinggal di Jepang; kini kembali mendengar adzan dari menara Masjid Putra, Putrajaya, KL. Setiap yang akan masuk ke masjid ini diharuskan menutup hijab; tidak terkecuali para turis asing disediakan juga bagi mereka jubah pinjaman untuk menutup auratnya.

Berpose di depan Masjid Putra, Putrajaya, KL>

Berpose di depan Masjid Putra, Putrajaya, KL.

Masjid Putra ini berada di kompleks pemerintahan pusat-nya Malaysia. Ke sebelah kanan dari foto di atas adalah “istana merdeka”-nya Perdana Menteri Malaysia, Sri Mohd Najib. Kemudian, menyusuri jalan utama di Putrajaya, maka di kiri-kanan jalan terdapat gedung-gedung Kementerian. Semisal Jalan Soedirman dan Thamrin di Jakarta.

"Istana Merdeka"-nya Perdana Menteri Malaysia di Putrajaya, KL.

“Istana Merdeka”-nya Perdana Menteri Malaysia di Putrajaya, KL.

Di Kuala Lumpur, sebenarnya terdapat beberapa masjid terkenal, seperti Masjid Jameek di depan Taman Merdeka. Mayoritas masjidnya megah-megah karena Malaysia sendiri yang mayoritas penduduknya muslim.

Berpose bareng keluarga di depan kompleks Masjid Jameek, KL>

Berpose bareng keluarga di depan kompleks Masjid Jameek, KL.

Melanjutkan perjalanan ke kota lain, Penang, maka bisa kita temukan lagi masjid yang dibangun dengan khas. Dalam perjalanan, kami temui masjid terapung menyerupai masjid terapung di Jeddah, yang katanya kerap menjadi destinasi rangkaian perjalanan ibadah haji atau umrah.

Masjid terapung Penang, Malaysia

Masjid terapung Penang, Malaysia

Yang menarik dari sistem perwaktuan di Malaysia sebenarnya termasuk satu daerah waktu dengan WIB (Waktu Indonesia bagian Barat)–silakan lihat timezone, tapi menyamakan standarnya dengan negara bagian Malaysia yang berada di utara Kalimantan yang termasuk WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah). Sehingga jadwal-jadwal sholat nampak tak lazim bagi orang Indonesia kebanyakan; subuh 6 a.m; zuhur 13.22 p.m, Ashar 16.30, magrib 19.22, isya 20.30. Belakangan juga kabarnya sistem perwaktuan di Indonesia akan di-standar-kan menjadi WITA, kabar burung kutengok.

One thought on “Catatan Perjalanan (5): Masjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s