Kultur Berlalu-lintas

“Dosa besar” adalah parkir mobil di pinggir jalan yang lagi macet-macetnya | “Dosa berlipat” adalah pengendara sepeda motor yang “berinisiatif” untuk lewat trotoar dan “menginspirasi” pengendara lainnya untuk melakukan hal yang sama | “Tanpa dosa” adalah kalau ditanya kenapa melakukan “dosa besar” dan “dosa berlipat”, maka jawabnya “Ah, yang lain juga gitu, kok”.

Pernah jadi celetukan, kalau berlalu-lintas di negeri Sakura sono, yang refleks diucapkan adalah tasbih; karena merasa kagum dengan apa yang dilihat dan dirasakan sendiri. Bagaimana etika berlalu-lintas itu benar-benar ada! Budaya antre selalu dijunjung. Meskipun katanya orang Jepang gak megang agama, tapi mereka megang kuat kultur (aturan gak tertulis) yang justru itu jadi penjaga nilai hidup dan etika bermasyarakat.

Kalau berlalu-lintas dimari, yang refleks diucapkan adalah istigfar, hehe; atas apa yang dilihat dan dirasakan sendiri. Jalanan barolong, angkot ngetem, adat berlalu-lintas yang punya motto: senggol bacok, sorodot gaplok, perepet jengkol! Dan berprinsip: asal bisa maju dan gak nyenggol. Meskipun kita beragama, tapi kita minim kultur. Sehingga dalam keadaan gak ada aturan tertulis tentang etika berlalu-lintas, kita gak ada pegangan sama aturan yang gak tertulis (kultur).

Maaf kalau harus membanding-bandingkan… supaya kita bisa belajar dari siapapun dan dari manapun. Cag ah!

2 thoughts on “Kultur Berlalu-lintas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s