Rumit Sejak dalam Pikiran

Sepertinya kita itu masih belum bisa membedakan mana yang seharusnya mudah dan yang sesuai prosedur. Dalam kondisi yang seharusnya bisa lebih mudah, eh malah kita mikirnya yang ribet-ribet. Begitu masalah yang dihadapi itu ribet, eh kitanya sendiri yang mengeluh. Jadi, memang kita itu belum bisa menempatkan sesuatu yang mudah sebagai perkara mudah. Sebaliknya, ada problem yang tidak mudah malah inginnya menjadi mudah. Jadilah pola pikir pragmatis dan jalan pintas.

Sebagai contoh sederhana saja; dulu sewaktu mendapat tugas kuliah dari dosen, tugas yang diberikan ternyata lebih mudah dari yang dibayangkan. Eh, setelah tugas itu selesai, kitanya sendiri yang merasa kurang puas karena merasa problem yang kita selesaikan sangat sederhana. Lalu kita mencari-cari pengembangan lain yang dirasa ‘lebih rumit’, supaya terlihat keren. Padahal, solusi awal sudah mencukupi.

Tapi begitu dapat tugas yang lebih rumit, eh kitanya malah protes duluan dengan mengatakan bahwa tugas yang diberikan terlalu rumit. Intinya, dikasih tugas mudah, eh malah kitanya yang mempersulit. Begitu dikasih tugas rumit, malah protes! Sebenarnya kita yang merumitkan diri. Sama saja dengan aktivitas riset. Sejauh pengalaman saya, bahwa ternyata yang dicari dari hasil riset adalah hasil yang menarik, itu bisa dilihat dari kebaruan (novelty). Dan perlu dicatat, hasil yang menarik (plus kebaruan) itu tidak melulu harus rumit untuk dipahami. Meskipun sederhana, tapi ada kebaruan, maka itu menjadi menarik.

Dari sekian banyak paper yang saya baca, paper yang baik itu yang enak dibaca, dalam artian ia mudah dipahami. Banyak dari sekian problem paper tersebut yang justru sangat sederhana. Saya sempat berpikir “cuma kayak gitu” kok bisa masuk jurnal? Ternyata memang bukan dilihat dari tingkat kerumitannya,  tapi dari sisi kebaruan yang membuat paper tersebut menarik.

Ternyata memang yang kita rasakan sulit itu berawal dari pikiran sendiri. Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer yang sudah dimodifikasi menjadi: Kita sudah rumit sejak dalam pikiran. Jadinya, kerumitan itu terbawa-bawa saat kita mau memahami, melaksanakan, atau mengeksekusi sesuatu. Sesuatu yang seharusnya mudah sering dibawa susah. Padahal kebanyakan solusi itu selalu lebih mudah dari yang kita bayangkan sebelumnya. Intinya, think simple saja, setiap hal pasti punya solusi. Hanya pembawaan dan cara penyelesaian masalah yang membuat itu bisa jadi mudah atau sulit. Santai saja, tapi serius. Seloow  tapi narget!

One thought on “Rumit Sejak dalam Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s