Anak Layangan

Sudah cukup berdiam diri semenjak tulisan terakhir.

Melihat insiden Dul (AQJ), kalau mau ditarik lebih jauh sebenarnya masalah anak-anak sekarang itu kurang fasilitas bermain. Anak-anak sekarang mainannya sedikit, lahan bermain tidak ada, teman-teman seumuran jarang ditemui karena sudah beranjak gede. Lagu anak-anak yang dulu sering tampil di televisi malah sekarang tidak ada sama sekali. Sekiranya ada penyanyi anak-anak, itupun menyanyikan lagu dewasa.

Akibatnya anak-anak sekarang akan beralih main ke jalanan, mulai masuk ke dunia orang dewasa. Dulu kebut-kebutan bisa dilampiaskan dengan bermain Tamiya, dan kalau mau nakal dikit bisa ambil sepeda terus kebut-kebutan bareng teman. Atau kalau mau adu strategi tinggal beli kenur, gelasan, dan layangan, maka jadilah ia anak layangan. Kalau mau sepakbola bisa main di jalan depan rumah, meskipun dongkol kalau ada becak mau lewat, hoho.. Mungkin orang tua sekarang juga merasa khawatir membiarkan anaknya bermain di luar rumah, takut keserempet motor atau ketabrak mobil.

Sekarang anak-anak sudah pada gaul, mainannya gadget, Tamiya-nya mobil Lancer, pergaulannya pacaran, bahasanya aL4y, lagunya lagu cengeng. Padahal Presiden kita, Pak Beye, mahir bikin lagu. Kalau saya menteri pendidikannya, saya akan minta Pak Beye bikin lagu untuk anak-anak. Masa kalah sama Pak Beye yang sudah punya album, sementara lagu anak-anak masih berkutat di “cicak-cicak di dinding…..”, “Balonku ada limaaa….”, “Aku seorang kapiten …. Prok, prok, prok”. -_- Mungkin saja si cicak sudah tak di dinding lagi, atau balonku sudah bertambah, dan pangkatku sudah jadi Jenderal, hohoho.

Padahal pada usia tersebut, anak-anak sedang dalam masa usia emas (golden age). Usia yang men-stimulus tumbuh kembang karakternya. Kalau sedari kecil sudah “dikarbit” dengan menjejal-jejalkan gaya hidup orang dewasa, maka anak-anak sekarang lebih mudah terjangkit ‘dewasa sebelum waktunya’. Maka, tidak heran kalau kita melihat seorang anak tampak lebih dewasa dari umurnya. Yah, saya ikut prihatin dengan kondisi anak-anak sekarang, harus menjadi korban ambisi orang-orang dewasa. Padahal sejatinya dunia anak-anak adalah dunia bermain. Mereka bertindak karena dua hal: ketidaktahuan sekaligus keingintahuan yang besar. Mereka hanya butuh ruang untuk mengekspresikan diri sebagaimana lumrahnya sifat anak-anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s