Kota yang Sakit

Salah satu ciri kota yang sakit adalah warganya merasa tidak nyaman untuk keluar rumah. Bisa jadi karena merasa di rumah lebih baik ketimbang harus bermacet-macet di jalan; atau lebih memilih tidur di rumah saja ketimbang jadi stres di jalan. Tapi karena pekerjaan atau aktivitas, kita tidak mungkin hanya berdiam diri saja di rumah. Mau tidak mau, ya kita harus keluar rumah juga. Itu pun mencari-cari waktu yang tepat untuk menghindari macet.

Kemarin saya harus ke Jakarta untuk sebuah acara jam 09.00. Awalnya saya mencari-cari jadwal travel yang paling pagi, tapi ternyata jadwal keberangkatan yang tersedia dimulai jam 05.00. Mustahil bisa tiba tepat waktu kalau berangkat jam segitu dari Bandung. Lalu lintas Jakarta sudah tak dapat diprediksi (unpredictable); sudah tidak bisa lagi mengira-ngira berangkat jam sekian lalu akan tiba jam sekian. Mustahil! Jakarta memang sudah identik dengan macet.

Akhirnya saya memutuskan untuk bawa kendaraan sendiri (maaf jadi penyumbang kemacetan, hihi). Saya berangkat sejak dari jam 04.00 dan berniat untuk shalat Subuh di KM 97 saja di daerah Purwakarta. Ternyata berangkat sepagi mungkin tidak menjamin kita bisa tiba lebih awal. Saya tiba di daerah MT Haryono (Pancoran) sekitar jam 07.00 dan harus bermacet-macet selama satu jam lebih untuk tiba di daerah Kuningan jam 09.00. Padahal, kalau sedang lancar, jarak segitu bisa ditempuh cuma 20 menitan.

Masyarakat yang sakit

Hal yang tidak dapat terhindarkan dari kota yang sakit adalah perilaku masyarakatnya yang juga ikut sakit. Bermacet-macet di Jakarta harus selalu jaga hati. Maklum, perilaku berlalu-lintas kita sudah sedemikian “ngeri”. Maka, setiap akan berkendara, saya selalu menambahkan doa agar selalu dilindungi dari kotor hati. Perilaku jalanan kita hari ini sudah kian kehilangan rasa santun. Tidak seperti yang orang-orang luar kenal tentang perilaku masyarakat Indonesia yang santun. Memang kita dikenal santun, tapi di jalanan kita seperti “musuh”. Ngeri!

Saat saya di Jepang dulu, setiap saya berlalu lintas selalu terlontar kata-kata spontan berupa tasbih karena merasa kagum dengan kesantunan masyarakat Jepang. Mereka memberi jalan, mereka tidak meng-klakson kecuali darurat, mereka tidak menyerobot, tidak ugal-ugalan, dan yang pasti disiplin, semacet apapun kondisinya. Kalau di kita, kata spontan yang kerap terlontar adalah istigfar, hehe. Hmmm, benar-benar harus minta agar selalu terjaga hati.

Saya punya pengalaman saat mudik Lebaran 2013 kemarin. Kami mudik ke Kudus melewati jalur pantai utara (pantura) pulang-pergi. Saya amati, perilaku berlalu-lintas setiap mobil berbeda-beda tergantung plat nomor mobil mereka, mengingat jalur pantura ini dilewati mobil-mobil dari berbagai daerah.  Mohon maaf, mobil dengan plat nomor B cenderung lebih “keras” saat berlalu-lintas (kebanyakan, tapi tidak semua). Ngeri lah kalau saya harus meladeni mereka, takut kotor hati. Kelakuan pengendara ternyata tidak sebagus mobilnya!

Memang perilaku seseorang ditentukan juga oleh kondisi kotanya. Dalam hal ini berlalu lintas. Coba deh kamu berkendara di Jakarta sebagai riset saja untuk mengenal perilaku orang di jalanan. Ternyata kondisi Jakarta yang sudah sedemikian macet akut telah membuat masyarakatnya juga ikut “sakit”. Kejadian tersebut terus berulang pada saat jam pergi dan pulang beraktivitas. Setidaknya lima kali dalam seminggu. Lama-kelamaan, kondisi tersebut akan mengeraskan hati. Dan yang paling ngeri, rasa kemanusiaan hilang karena hilangnya empati. Masyarakat kita tengah dalam kondisi “sakit” karena kondisi kotanya.

Alhamdulillah pengalaman selama di Jepang turut memengaruhi perilaku berlalu-lintas saya saat di Indonesia. Saya benar-benar belajar dari masyarakat Jepang bagaimana kesantunan harus tetap dijunjung saat berlalu lintas. Jangan karena orang lain yang tidak santun padamu membuat kita juga berlaku tidak santun sama orang lain. Jangan karena orang lain yang ugal-ugalan membuat kita juga ikut terpancing keadaan. Dan yang paling penting, jangan karena perilaku orang lain saat berlalu-lintas membuat kita jadi kotor hati. Tambahkan dalam doa perjalanan agar dijaga dari kotor hati.

Hmmm, jadi mikir-mikir lagi untuk tinggal di Jakarta. Siapa suruh datang Jakarta? hehe.. Benar juga kata orang kalau Ibukota lebih kejam dari Ibu tiri.

3 thoughts on “Kota yang Sakit

  1. meliamex

    Loh.. udah balik dr Jepang ya, Mas?
    Ah, setuju banget sm “kota sakit” itu. Gak cuma di Jkt, di Malang, bahkan di daerah kabupaten skrg pun macet di mana2, jd mls keluar rumah.
    Saya yg gowes srg hrs ngalah sm kendaraan besar lain, akhirnya skrg cr jln alternatif lwt kampung, biar gak ikut2an sakit..😀
    Tawaran kerjaan baru di Jkt akhirnya saya tolak, gak siap hrs hidup di Ibukota.. hehe..
    Jd skrg Mas Rizal udah kelar studi? Mau kerja di Jkt kah?

    Reply
    1. Rizal Dwi Prayogo Post author

      Iya sy udah balik lg ke Indonesia.. Kynya setiap kota besar di Indonesia terindikasi jd kota sakit ya krn macet, hehe..
      Sy jg mikir2 lg untuk tinggal di Jakarta, makanya sy lbh milih utk gak di Jakarta, tp kalo harus di JKT, ya mesti sabar aja😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s