Fiqih Shalat Bagi Muslim Traveler

# Shalat di atas kendaraan #

Hal yang cukup sulit dilakukan saat melakukan perjalanan dengan transportasi publik adalah shalat. Apalagi saat tinggal di Jepang. Kalau menggunakan kendaraan pribadi kita bisa menepi dan mendirikan shalat, baik dengan cara biasa atau dengan jamak qashar. Tapi, kalau menggunakan kereta atau bis yang mana jadwalnya sangat tepat waktu dan hanya menyisakan sedikit jeda antara jadwal yang satu dengan yang lain, shalat di atas kendaraan kerap menjadi pilihan. Pilihan ini boleh dilakukan hanya jika kita masih berada di atas kendaraan dan khawatir waktu shalat akan habis. Tapi, ada hal yang harus diperhatikan: Pastikan salah satu syarat sah shalat terpenuhi, yaitu menghadap kiblat.

Jikapun saat kita shalat di atas kendaraan tidak menghadap kiblat, menurut madzhab Syafii maka kita harus meng-qadha shalat wajib tersebut sesuai arah kiblat saat kita telah turun dari kendaraan (meskipun di luar waktu shalat wajib tersebut). Malah menurut Madzhab Hanafi, lakukanlah shalat nanti setelah turun dari kendaraan saja. Pertimbangannya adalah syarat sah nya shalat menghadap kiblat dan Rasulullah saw tidak pernah shalat wajib di atas kendaraan. Hanya shalat sunah yang pernah dilakukan beliau saw di atas kendaraan.

Bahwasannya Rasulullah saw shalat (sunah) di atas kendaraannya ke arah timur. Apabila beliau hendak shalat wajib, maka beliau turun dari kendaraannya dan menghadap kiblat.” (HR. Bukhari)

Dari Amir bin Rabi’ah ra. berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW di atas kendaraannya (shalat) dan membungkukkan kepalanya menghadapkan ke mana saja. Namun beliau tidak melakukannya untuk shalat-shalat fardhu.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Apabila di kendaraan tersebut kita sudah memastikan telah menghadap kiblat, maka bolehlah tidak meng-qadha-nya. Namun, untuk kehati-hatian, sebaiknya dilakukan ulang. Kalau kita bisa memprediksi masih bisa melakukan shalat setelah turun dari kendaraan (masih dalam waktu shalat), sebaiknya lakukan shalat sesuai arah kiblat setelah turun.

Bagi yang meniatkan jamak qashar, syarat jama’ taqdim: (1) mendahulukan yang dahulu (Zuhur, magrib); (2) berniat menjama; (3) berturut-turut (tanpa diselingi zikir). Syarat jama takhir hendaknya niat jama dilakukan saat masih dalam waktu shalat yang pertama (zuhur atau magrib). Lihat Q.S An-Nisa [4]: 101 sebagai referensi dalam meringkas waktu shalat.

Bagi yang melakukan jama qashar, hendaknya dilakukan secara berurutan sesuai waktu shalat, yaitu Zuhur dulu kemudian Ashar, Magrib dulu kemudian Isya (berlaku untuk jama taqdim (diawalkan) atau takhir (diakhirkan)). Apabila menemukan jamaah Ashar atau Isya, padahal kita mau men-jama secara berurutan (Zuhur dulu atau Magrib dulu), maka hendaknya mengikuti jamaah tadi, baru lakukan shalat Zuhur atau Magrib setelah jamaah karena shalat jamaah lebih utama.

# Mengusap sepatu dalam wudhu #

Mengusap sepatu saat wudhu merupakan keringanan (rukhsah) yang diperbolehkan. Mengingat berwudhu di toilet umum cukup sulit, apalagi tidak boleh sampai becek, ditambah lagi dengan kesulitan karena khawatir kotor. Adapun dalil yang menjadi dasar:

Pernah saya melihat Nabi saw buang air kecil kemudian berwudhu seraya mengusap sepasang sepatu tingginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tapi, ada hal yang harus diperhatikan:

  1. Hendaknya kedua sepatu itu dipakai sesudah melakukan wudhu dengan sempurna. “Pernah saya menyertai menyertai Nabi saw. Dalam suatu perjalanan. Maka, saya menunduk untuk melepas sepatu beliau, namun beliau bersabda: biarkan keduanya (sepatu), karena aku telah memasukkan kedua kakiku dalam kedaan suci. Lalu beliau mengusap kedua sepatunya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Sepasang sepatu harus menutup semua bagian yang wajib dibasuh dari telapak kaki, karena baru bisa disebut khuffain bila kondisinya seperti itu. Sedangkan kalau pakai sepatu sandal yang tidak menutup bagian yang wajib dibasuh, maka hendaknya dibuka. Makanya, kalau bepergian pakai sepatu saja, selain memudahkan dalam bersuci juga akan lebih melindungi kaki.
  3. Mengusap sepatu tidak lagi diperbolehkan jika: (1) kedua sepatu atau salah sepatu terlepas atau sengaja dilepas.(2) Masa diperbolehkan mengusap sepatu telah habis (sehari semalam bagi yg tidak bepergian; tiga hari tiga malam bagi yg bepergian), maka ia harus berwudhu lagi dengan melepas sepatu. (3) Terjadi hal yang mewajibkan mandi junub.

Demikian agar hal ini menjadi jelas dan bisa melengkapi kajian yang sudah dibahas. Supaya hal ini juga menjadi perhatian bagi para traveler, apalagi ia seorang muslim. Wallahu’alam

4 thoughts on “Fiqih Shalat Bagi Muslim Traveler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s