Pekerjaan dan Passion

Beberapa waktu lalu saya mengikuti konferensi di Surabaya dan menggunakan jasa kereta api. Di stasiun besar yang saya lewati, para porter (kuli angkut) nampak sibuk berlalu-lalang dan langsung mengerubungi gerbong kereta yang kami tumpangi. Tujuannya satu: menawarkan tenaga pengangkut barang. Saya yang hanya membawa satu gembolan tas punggung merasa tidak perlu menggunakan jasa mereka. Nampak penumpang lain yang membawa barang bejibun saja yang meminta jasa mereka.

Saya melihat para porter ini bisa membawa barang sampai empat item. Kardus dipanggul di pundak, tas dijinjing di tangan kiri, ransel di punggung, sementara tangan kanan menarik koper beroda. Benar-benar luar biasa perjuangan mereka. Sementara saya yang menggendong satu tas berisi laptop dan pakaian saja sudah merasa pegal. Melihat dan merasakan pengalaman seperti ini membuat saya merenungkan tentang pekerjaan dan passion.

Sudah cukup sering saya mendengarkan nasihat bahwa pekerjaan haruslah disertai dengan passion agar kita merasa tak seperti bekerja, tapi sedang menjalankan hobi. Sudah cukup saya dengar cerita bahwa pilihlah karir yang sesuai dengan passion karena akan membuatmu melejit lebih cepat. Ya, saya pun mengamini itu. Saya setuju dengan nasihat dan cerita di atas. Tapi, apa semua orang bisa bekerja sesuai dengan passion-nya? Sementara bagi sebagian orang tuntutan perut lebih darurat daripada mempertimbangkan passion dalam bekerja.

Seperti para porter yang saya lihat di stasiun. Apa mereka pernah terpikir untuk mempertimbangkan passion dalam bekerja? Yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana bisa memberi makan keluarga di rumah. Itu saja. Mereka tidak punya banyak pilihan dalam memilih pekerjaan karena keterbatasan keterampilan. Mungkin jenjang pendidikan mereka hanya tamatan SMP-SMA, mereka terbatas pada kualifikasi. Tidak seperti para lulusan sarjana, mereka lebih bebas menentukan pekerjaan karena (seharusnya) punya keterampilan.

Para porter bisa jadi tidak sebebas para lulusan sarjana berbicara soal passion dalam bekerja. Tapi saya sangat respek kepada mereka yang bekerja dengan jujur dan kerja keras, ketimbang para intelektual yang korup. Saya menarik benang merah yang menjadi sekat, yaitu tingkat pendidikan. Betapa pendidikan menjadi ekskalator tingkat kesejahteraan seseorang. Memang ini tidak mutlak, tapi kebanyakan fakta di lapangan menunjukkan hal ini. Betapa tanggung jawab orang tua menjamin pendidikan anak-anaknya sangat krusial demi masa depannya. Karena kehidupan tanpa bekal ilmu dan keterampilan itu sungguh sangat keras, bung!

One thought on “Pekerjaan dan Passion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s