Segitiga Solusi

Kalau saya boleh menyebut, negeri yang paling “anomali” di dunia ini adalah Jepang. Maksud anomali disini adalah unik dan kadang ada fenomena yang tak bisa kita pahami lewat logika. Bagi yang pernah ke Jepang—sekedar berlibur ataupun menetap, mungkin terasa betul bagaimana keteraturan dan kedisiplinan mereka. Dan hampir pasti ini menyisakan tanya yang besar: “kok bisa siih?” dan ketika pertanyaan ini kita refleksikan ke negeri kita sendiri: “kok gak bisa siiih?”.

Berlanjut ke pertanyaan yang lebih serius, sering yang dikaitkan adalah agama. Misal saja orang Jepang tidak beragama, tapi kok bisa setaat itu? Sebaliknya orang Indonesia beragama, tapi kok gak taat-taat amat? Pertanyaan ini pun pernah menghinggapi saya, bahkan hingga kini pun saya masih gagal memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ini memang susah untuk dicerna logika.

Malah sempat saya dengar sindiran yang lebih mengena lagi saat mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Alwi Shihab, berkunjung ke Jepang. Kata beliau, “Saya lebih merasakan nilai-nilai Islam di Jepang ketimbang di Indonesia”. Kurang lebih seperti itu redaksinya. Saya pun mengamini itu. Tapi sebenarnya saya juga merasa sedih melihat faktanya memang seperti itu. Tentu saja ini membuat saya bertanya-tanya.

Namun, seiring dengan pengalaman dan pengamatan saya sehari-hari, analisis saya mengerucut pada satu kata: kultur. Ya, satu kata itu yang hingga kini masih menjadi analisis kuat saya mengapa Jepang dan Indonesia begitu berbeda dilihat dari sumber daya manusianya. Di satu sisi Jepang tidak beragama, tapi mereka punya kultur yang kuat sehingga kultur itu yang menjaga nilai-nilai dalam berkehidupan. Sebaliknya, Indonesia beragama tapi lemah kultur sehingga tidak ada penjaga nilai ketika aturan atau agama tidak secara eksplisit menjelaskan suatu aturan.

*

Di lain kesempatan, saya pernah menyimak presentasi dari Ridwan Kamil saat akan mencalonkan diri menjadi Walikota Bandung (sekarang sudah menjabat sebagai Walikota Bandung periode 2013-2018). Materi yang membuat saya tertarik adalah tentang metode penyelesaian masalah perkotaan. Ijinkan saya menambahkan dan menyebutnya dengan segitiga solusi.

Mengapa segitiga? Karena terdiri atas tiga titik sudut dan saling berkaitan satu sama lain. Metode penyelesaian masalah tersebut dibagi menjadi tiga titik sudut yang terdiri atas (1) Ilmu; (2) Agama; (3) Kultur. Dan ketiga titik ini saling berkaitan satu sama lain. Jika satu atau dua titik tidak berfungsi, maka akan pincanglah segitiga ini dan membuat metode menjadi tidak efektif.

Segitiga solusi: Ilmu, agama, kultur

Segitiga solusi: Ilmu, agama, kultur

Ilmu

Setiap hal pasti membutuhkan ilmu. Ilmu bagai cahaya yang memberi petunjuk dalam melangkah. Tanpa ilmu, tentu akan sulit menemukan arah, bahkan bisa saja nyasar. Dalam kaitannya dengan metode penyelesaian masalah perkotaan, adanya ilmu merupakan hal yang krusial.

Misal saja dalam mengatasi kemacetan, bangun jembatan, dan infrastruktur. Kita tentu membutuhkan ilmu transportasi, teknik sipil, arsitektur, dsb yang akan membuat konsep  dan implementasinya. Dalam hal ini, jelas ilmu berperan penting dalam segitiga di atas.

Agama 

Indonesia memiliki penduduk yang mayoritasnya beragama Islam dan sisanya agama lain. Fondasi agama juga berperan penting dalam segitiga di atas. Misal saja masalah kesejahteraan sosial. Islam menawarkan solusi zakat yang wajib dibayarkan muzakki (pemberi zakat) kepada mustahiq (penerima zakat). Ini bisa menjadi salah satu solusi masalah sosial. Di sisi lain ada infak dan sedekah yang bisa dikategorikan sebagai ibadah sosial.

Pada poin agama ini, saya melihat Jepang tidak memiliki fondasi yang kokoh sehingga membuat segitiga menjadi pincang di salah satu titiknya. Jepang menjadi negara yang rentan stres karena tidak mengenal agama. Kita akui bahwa Jepang termasuk negara maju, tapi di sisi lain juga warga Jepang rentan kasus bunuh diri. Bahkan saking terkenal dengan pekerja kerasnya, dikenal istilah karoushi yaitu tewas karena kebanyakan bekerja. Istilah ini hanya ada di Jepang.

Kultur 

Nah, poin ini yang menjadi analisis saya atas pertanyaan-pertanyaan besar di atas. Menariknya Jepang adalah di satu sisi negara maju dengan teknologi yang berkembang pesat, tapi di sisi lain kita masih bisa melihat orang Jepang pergi ke kuil, menghormati tradisi leluhur mereka, atau bahkan masih memegang kultur nenek moyang mereka.

Poinnya adalah meskipun mereka tergolong negara maju, tapi mereka tidak melupakan kultur mereka. Bolehlah prestasi mereka melesat ke langit, tapi setidaknya kaki mereka masih menginjak bumi. Kultur inilah yang menurut saya membuat orang Jepang lebih juara ketimbang orang Indonesia.

Saya berikan contoh. Misal saja, orang Jepang mengenal kultur “Itadakimasu” sebelum makan. Ternyata itu mengandung filosofi, yakni harus mensyukuri apa yang terhidang di hadapannya, menghargai orang-orang yang telah berjasa membuatnya, dan tidak boleh menyia-nyiakan makanannya. Dan apa yang bisa dipetik pelajarannya? Mereka tidak pernah mem-mubadizir-kan makanan.

Di sisi lain, orang Islam juga diajarkan untuk tidak mubadzir. Namun, pada praktiknya masih ada saja yang mubadzir (coba lihat di undangan/hajatan/resepsi) menyisakan banyak makanan. Saya melihat hal ini karena kita minim kultur, yakni tidak membiasakan hal-hal baik dalam keseharian. Sekian lama kita terbiasa dengan hal-hal yang tidak baik, ketika diingatkan akan sulit berubah dan cenderung membenarkan apa yang selama ini dilakukan. Masalah ini bisa diselesaikan melalui pendekatan kultur.

*

Kembali lagi soal konsep segitiga solusi. Ketiga elemen di atas harus saling menguatkan satu sama lain. Indonesia sebenarnya punya dua elemen yang sudah kuat, yaitu ilmu dan agama. Hanya saja kulturnya masih lemah, mesti sering membiasakan kebiasaan baik dalam keseharian. Dan ini jangan didekati secara program saja, tapi lebih kepada gerakan bersama. Mulai dari hal sederhana saja: mengkulturkan buang sampah pada tempatnya, mengkulturkan antre, mengkulturkan etika berlalu lintas, dsb.

Saya setuju dengan program Walikota Bandung sekarang, Ridwan Kamil, yang membuat program tematik harian, seperti #SeninGratis, #SelasaTanpaRokok#ReboNyunda, #KamisInggris#JumatBersepeda. Saya melihat ini sebagai gerakan bersama yang bisa memperkuat kultur. Melihat kultur orang Indonesia yang lebih senang berkumpul dan bekerja sama, penguatan kultur mestinya bisa menjadi penambal agar konsep segitiga solusi tadi bisa tegak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s