Rating Bukan Segalanya

Di industri televisi (TV), rating menjadi tolok-ukur yang dilihat dari banyaknya penonton program acara di stasiun TV tertentu. Kemudian data jumlah penonton tersebut akan digunakan stasiun TV untuk menjual dan mempromosikan program mereka ke para pengiklan. Makin tinggi rating sebuah program, maka akan makin tinggi juga harga jual spot iklan tersebut.

Rating yang dinilai tinggi ada pada waktu utama (prime time), karena mayoritas orang akan duduk dan menonton TV. Misalnya pada rentang pukul 18.00-22.00 saat mayoritas orang sudah pulang dari aktivitasnya dan kemudian istirahat. Maka, kita sering melihat acara yang tayang pada waktu tersebut dengan diselingi banyak iklan. Jelas iklan mereka akan ditonton banyak orang.

Menurut satu sumber yang saya baca, harga iklan TV dihitung per detik! Di saat prime time saja, harga per 30 detiknya bisa mencapai Rp. 12 juta – Rp. 14 juta! Bahkan untuk acara khusus seperti perayaan ulang tahun stasiun TV atau siaran langsung pertandingan bola, spot iklan per 30 detik bisa mencapai Rp. 150 juta!

Perhitungan rating yang digunakan stasiun TV tidak sepenuhnya bisa mewakili penonton yang ada. Salah satu sebabnya adalah lembaga yang mengeluarkan rating hanya ada satu, yaitu AC Nielsen, yang berasal dari Amerika. Karena hanya ada satu lembaga rating, industri TV tidak punya angka pembanding yang bisa digunakan sebagai acuan. Maka, tentu hasil tersebut tidak bisa diuji kebenarannya.

Sebelumnya Nielsen akan memilih koresponden secara acak dan rahasia, yang mana jumlahnya bisa mencapai ribuan. Koresponden berasal dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Makassar, Banjarmasin, dan Denpasar. Masing-masing TV di rumah koresponden akan dipasang peoplemeter, yaitu alat semacam remote yang terhubung pada mesin penghitung milik Nielsen. Jadi setiap kali masing-masing anggota keluarga menonton suatu program acara, kantor pusat Nielsen akan mencatatnya secara otomatis.

Kekurangannya lagi adalah koresponden tertinggi justru berada di Jakarta yang mencapai 40%. Alasannya karena Jakarta merupakan daerah dengan jumlah pemilik TV yang terbanyak di Indonesia. Rating bisa menjadi bias urban yang menciutkan keragaman. Maka tak heran jika berita yang kita konsumsi sehari-hari tak akan jauh dari Jakarta. Baik itu tentang pembangunan, gaya hidup, transportasi, politik, bahkan kepala daerah.

Tak heran pula Joko Widodo (Jokowi) menjadi media darling yang sering diliput. Konsekuensinya menjadi capres terpopuler versi lembaga survey. Ini kan tidak fair, tidak apple to apple. Padahal saya yakin banyak kepala daerah di Indonesia yang punya prestasi hanya saja tidak terliput.

Kreativitas industri televisi

Karena rating ini pula, antar stasiun TV terlihat saling menjiplak acara. Misal ada satu program acara yang jadi favorit masyarakat di stasiun TV X dan ratingnya tinggi, pasti tak lama kemudian stasiun TV Y membuat program serupa. Ini karena stasiun TV melihat penonton tengah menyukai genre program tersebut dan merasa dengan membuat program serupa mereka bisa menggaet para pengiklan.

Yah masa! Apa setiap orang mesti bisa Joget Sesar gitu?! Apa setiap orang mesti joget semua gitu?!

Ini juga membunuh kreativitas industri TV tersebut, mereka tidak bisa membuat acara yang berasal dari ide mereka sendiri dan hanya membebek. Ya, sebutlah mereka menuruti selera pasar. Bukankah mereka juga harus turut menjalankan amanah konstitusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa? *beuh* Dimana letak pencerdasannya? Ada juga fenomena yang menyebutkan bahwa kaum muda sekarang belajar gaul dari TV. Nah, yang sebenarnya itu seperti apa? Apakah masyarakat kita belajar dari sinetron TV ataukah sinetron TV yang merepresentasikan keadaan sebenarnya dari masyarakat kita?

Nah, sekarang jelas bahwa apa yang tersaji dalam program TV adalah representasi dari “selera” mayoritas masyarakat kita. Orientasi hiburan bagi setiap orang tentulah berbeda. Ada yang berorientasi bahwa hiburan adalah senang-senang tanpa “berpikir”. Ada tipe orang yang malas diajak berpikir agak berat, ia mengelak dan mencari hal yang membuat ia bisa terhibur dan santai, seperti berjoget, musik, nongkrong, dsb.

Tapi ada juga orang yang berorientasi bahwa hiburan adalah sesuatu yang membuat dirinya nyaman dan lebih bernilai. Ia mau diajak berpikir agak berat, yang penting itu memberi kesenangan baginya dan nyaman. Mengapa orang-orang itu tak menganggap kalau membaca buku, menambah pengetahuan, menonton dokumenter, atau mengasah keterampilan juga merupakan hiburan? Setidaknya kegiatan tersebut memberi kesenangan karena tahu ia menjadi lebih bernilai.

*penulis bukan pengamat televisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s