Kebanggaan Sensasional

Saya baca di koran tentang berita peserta pemecahan rekor Muri bakar ikan terpanjang se-Indonesia yang melampiaskan kekecewaannya dengan membanting peralatan untuk membakar ikan. Pemecahan rekor tersebut berjalan ricuh karena sebagian peserta tidak mendapat pasokan ikan laut yang akan dibakar. Pertanyaan saya, kalau sekiranya rekor Muri itu terpecahkan, lantas apa?

Ini juga mengingatkan saya pada kegiatan-kegiatan serupa yang berusaha untuk memecahkan rekor Muri. Dalam pandangan orang awam seperti saya, pemecahan rekor Muri tersebut tidak secara alamiah menunjukkan hal yang unik tercipta. Tapi, ia dibuat dan dirancang sedemikian rupa agar sesuatu yang belum ada dibuat ada dengan memberi kesan yang “wah”.

Awalnya saat menyimak “Guinness World Records”, saya banyak menyaksikan rekor yang secara alamiah tercipta. Misalnya orang dengan tubuh tertinggi, orang terpendek, dan hal sejenis yang sifatnya bawaan (given), ia tidak dibuat-buat. Belakangan baru saya mengerti kalau pemecahan rekor Muri di kita itu merupakan strategi marketing yang diakali. Maksud diakali adalah kita bisa membayar kepada pihak Muri untuk mencatatkan rekor tertentu, lalu rekor tersebut menjadi alat marketing.

Sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Bandung juga menggunakan cara tersebut. Untuk meningkatkan brand awareness, strategi membuat rekor dipilih sebagai alat marketing. Entah itu sebagai penarik minat mahasiswa baru, merilis daftar prestasi, ataupun untuk memperkenalkan PTS tersebut.

Melihat kultur masyarakat kita yang suka terpesona dengan hal-hal yang aneh dan “wah”, kita kadung menganggap bahwa kebanggaan sensasional lebih utama ketimbang kebanggaan substansial. Sebagian diantaranya hanya cukup pada “wah” secara sensasi, tapi sebenarnya tidak “wah” secara substansi. Kita boleh berbangga dengan segala predikat yang melekat pada bangsa Indonesia, tapi apakah itu sudah secara substansi?

Kita boleh berbangga secara sensasi bahwa negara kita punya garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah AS, Kanada, dan Rusia. Tapi apakah itu menjamin kalau negara kita tidak mengimpor garam? Nyatanya, dan mirisnya, kita masih mengimpor garam. Kebanggaan sensasional seperti itu suka membuat kita lupa terhadap hal yang menjadi substansinya. Ditambah lagi dengan suka mengenang kebanggaan di masa lalu yang menghambat #MoveOn.

Kita juga boleh berbangga bahwa Indonesia menjadi negara dengan umat Islam terbanyak sedunia. Bahkan kita punya masjid terbesar se-Asia Tenggara: Masjid Istiqlal. Lalu apa? Apa dengan itu membuat selaras dengan hal yang sifatnya substansial? Perilaku umatnya bagaimana? Jangan-jangan setelah keluar selangkah dua langkah dari masjid malah membuang sampah sembarangan.

Baru saja kota Bandung dinobatkan sebagai The City of Pigs oleh seorang warga Bulgaria, Inna Savova, lantaran kebersihan yang tak terjaga. Bukankah kebersihan sebagian dari iman? Kalau sudah begitu dimana kebanggaan kita sebagai umat muslim terbesar di dunia atau punya masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Jangan-jangan memang masyarakat kita lebih berbangga pada hal yang sifatnya sensasional saja, tapi melupakan hal yang sifatnya substansial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s