Masyarakat Pemaaf

Sudah lama saya ingin menuliskan ini semenjak punya pengalaman yang tidak enak dengan jasa travel yang mengantarkan saya dari Jakarta ke Bandung. Saat itu, jadwal keberangkatan terlambat dari waktu yang seharusnya. Alasannya klasik: macet, jadi mobil terlambat datang. Uniknya (anehnya) jasa travel ini adalah mereka berani menuliskan jadwal keberangkatan, tapi tak pernah ada yang menuliskan jadwal kedatangan.

Dan anehnya, tak ada protes dari penumpang perihal keterlambatan ini. Ya, mungkin ini antara sabar, sudah biasa, atau saling memahami saja #heu. Padahal, nyatanya memang konsumen tidak bisa berbuat apa-apa. Mau protes ke siapa? Yang ada konsumen diminta menunggu “sebentar” yang tak jelas seberapa lama.

Yang menarik untuk saya bahas disini adalah kadar “pemaaf” masyarakat kita menurut saya masih baik. Bayangkan kalau ini terjadi di Jepang, konsumen akan marah, dan pihak travel akan sangat meminta maaf. Karena kata maaf terlalu mahal bagi mereka yang tak terbiasa melakukan kesalahan. Sedangkan masyarakat kita memang dikenal mudah memaafkan dan gampang melupakan.

Silakan tonton sebuah video Youtube di atas tentang acara kuis di Jepang. Topiknya adalah menguji kadar pemaaf orang Indonesia. Dalam video tersebut, pembawa acara (orang Jepang) menjahili orang di sekitarnya, termasuk orang Indonesia dan orang asing. Reaksi yang ingin dilihat adalah seberapa pemaafnya orang Indonesia dibandingkan dengan orang asing lain. Dan ternyata orang kita merupakan masyarakat yang pemaaf.

Hal ini juga mengingatkan saya dengan tulisan Hisanori Kato-san, seorang Jepang yang pernah tinggal di Indonesia. Tulisannya dalam buku “Kangen Indonesia” menyebutkan bahwa ia merasa heran dengan orang Indonesia yang sering bilang “tak apa-apa” untuk hal-hal yang baginya justru “apa-apa”. Mengomentari teman yang tak menepati janji, orang kita biasanya hanya bilang, “Ya sudah, tak apa-apa”. Bis terlambat datang, “tak apa-apa”. Sungguh masyarakat kita terlalu mudah memaafkan dan gampang melupakan.

Mental “pemaaf” yang bukan pada tempatnya justru mengundang masalah. Ia akan berubah wujud menjadi pemakluman dan memaklumi setiap kesalahan sebagai hal yang manusiawi. Maka, kita akan sering melihat kesalahan terjadi di depan kita sebagai kewajaran. Terlebih lagi apabila kesalahan tersebut dilakukan secara berjamaah, maka ia akan dianggap sebagai pembenaran.

Virus mudah memaafkan dan gampang melupakan juga sering menjangkiti masyarakat kita. Betapa hukuman sosial hanya bertahan sebentar saja. Padahal, hukuman sosial adalah hukuman terberat bagi para pelanggar hukum. Maka, tak heran jika para pelanggar hukum itu seperti sudah tak punya rasa malu akan kasusnya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa karena masyarakat kita sungguh mudah memaafkan dan gampang melupakan. Apapun yang terjadi, “tak apa-apa”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s