(Jangan) Golput

Pemilu sudah dalam hitungan hari, para caleg mengiklankan diri dengan caranya masing-masing. Bakal calon presiden pun melancarkan strategi marketing, “tunggu hasil pileg”, itu kata yang kerap diucapkan kala ditanya wartawan. Sementara capres lain sudah terang-terangan mengajukan diri. Seperti tak ada pilihan, isu golput menjadi ancaman demokrasi kita. Golput menjadi pilihan, padahal satu suara amat berarti untuk perubahan di negeri ini. Berdasarkan kategorinya, golput dibagi ke dalam tiga jenis: golput administratif, golput teknis, dan golput ideologis.

Golput Administratif

Pada dasarnya, tak semua masyarakat menginginkan golput. Hanya saja, ia terkendala masalah administrasi yang mengakibatkan dirinya kehilangan hak suara. Ia tak terdaftar di Panitia Pemungutan Suara (PPS) setempat, padahal usianya sudah masuk kategori pemilih. Dian, adik saya, baru saja memasuki usia 17 tahun di Januari lalu. Bapak saya langsung mengajukan permohonan KTP ke RT/RW, tapi hingga kini Dian belum terdaftar sebagai pemilih di PPS setempat. Ia kehilangan suaranya pada pileg (pemilu legislatif) ini. Semoga pada pilpres (pemilu presiden) sudah terdaftar.

Ini bukanlah kesalahan pemilih, tapi ini kesalahan sistem. Bagaimanapun juga, golput karena hal administrasi yang tak beres ikut menyumbangkan presentase golput di negeri ini. Bahkan, presentase angka golput sudah melebihi presentase partai pemenang pemilu. Kalau seperti ini kenyataannya, benarlah anekdot kalau Partai Golput yang menang.

Golput Teknis

Sama halnya dengan golput administratif, golput karena hal-hal teknis juga disebabkan oleh penyebab di luar kehendak si pemilih. Ia tak bermaksud golput, hanya karena masalah teknis ia bisa kehilangan hak suaranya. Pada aturan pemilu kepala daerah (pilkada), setiap warga negara Indonesia yang berasal dari satu daerah harus kembali ke daerahnya untuk memberikan hak suaranya disana. Namun, karena urusan pekerjaan, dinas, atau tugas belajar, ia terkendala jarak dan waktu untuk kembali ke daerahnya. Apalagi waktu pelaksanaan pemilu cukup mepet sehingga si pemilih urung menggunakan hak suaranya.

Beda halnya dengan pemilu legislatif dan pemilihan presiden, rakyat Indonesia yang berada di luar daerahnya difasilitasi agar tetap dapat menggunakan hak suaranya. Bahkan bagi warga negara Indonesia yang tengah berada di luar negeri pun tetap difasilitasi melalui Kedutaan Besar RI di masing-masing negara, caranya dengan menggunakan sistem online (misal PPLN Tokyo). Dengan demikian golput karena hal teknis dapat diatasi, terkecuali si pemilih tak terdaftar sebagai pemilih.

Golput Ideologis

Golput karena prinsip/ideologis membuat kita miris. Ini disebabkan beberapa hal, diantaranya semakin kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpin di negeri ini. Dan yang lebih menyedihkan, orang yang memilih golput karena prinsip adalah orang yang sudah pesimis. Ia merasa tak ada pengaruh diadakan pemilu, tak ada perubahan. Terlebih lagi rakyat kecil yang sering tak terjangkau program wakil rakyat ataupun pemimpin di negeri ini. Yang mereka tahu para wakil rakyat sudah menghabiskan banyak modal untuk duduk di kursi parlemen dan akan berupaya mengembalikan modal kampanyenya saat menjabat.

Memang tak ada manusia super  yang bisa mengubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik dengan segera. Semua butuh proses, termasuk diantaranya melalui proses pemilu ini. Tak ada manusia yang sempurna, para caleg dan capres pun tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Bukan berarti kita tak mau memilih karena tak ada kandidat yang baik. Tugas kita adalah memilih yang paling sedikit keburukannya dan paling banyak kebaikannya.

Padahal, di era internet dan keterbukaan seperti sekarang ini, kita bisa melacak rekam jejak para caleg dan capres. KPU pun memfasilitasi pemilih dengan menampilkan profil kandidat melalui web KPU. Tugas kita adalah proaktif mencari tahu. Masalah terbesar kita adalah tidak mau tahu, kurang inisiatif. Orang yang memilih golput karena prinsip bisa saya sebut sebagai orang yang tak peduli dengan perubahan. Banyak yang belum melek politik, mereka menganggap politik itu kotor, padahal politik adalah alat mengurus negara.

Coba bayangkan kalau kita memilih golput tanpa mencari tahu rekam jejak para kandidat. Padahal, saya yakin masih banyak orang baik di negeri kita yang punya niat baik dan peduli terhadap perubahan bangsanya. Apa jadinya jika orang baik tak diberi mandat? Yang ada hanyalah orang jahat dan garong saja yang menguasai negeri ini. Jika kamu merasa peduli, proaktiflah mencari tahu. Doronglah orang-orang baik di sekitarmu, jangan tinggal diam. Karena satu suara kita menunjukkan kalau kita peduli terhadap perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Tenanglah jangan pesimis, di balik berita miring yang ada, masih banyak orang-orang baik di negeri kita.

Yuk, memilih dengan cerdas!

One thought on “(Jangan) Golput

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s