Kartu Utang

Dulu sempat saya ditawari kartu kredit dengan gimmick yang menarik, mulai dari cicilan 0%, bebas biaya administrasi, sampai diskon pada merchant-merchant tertentu. Sekilas terlihat menarik, maka kemudian saya coba ajukan permohonan pembuatan kartu kredit.

Sebagai pegawai bank (dulunya, sekarang sudah resign), tentu ada fasilitas khusus jika ingin mengajukan kartu kredit ke bank yang bersangkutan. Namun, saat itu kartu kredit milik bank tempat kerja saya dulu masih co-branding (kerjasama) dengan Bank Mandiri. Maka, formulir aplikasi saya kemudian ‘dilempar’ lagi ke Bank Mandiri untuk diproses lebih lanjut.

Sekian lama menunggu, permohonan pembuatan kartu kredit saya tak kunjung disetujui padahal persyaratan sudah sesuai dan lengkap. Setelah ditelusuri ternyata aplikasi saya ditolak dengan alasan nomor telepon yang dicantumkan tidak tersambung. Saya tidak tahu jika pihak Bank ternyata menelepon untuk mengklarifikasi data yang diberikan.

Kemudian saya diminta untuk mengajukan kembali permohonan kartu kredit, dengan catatan harus standby jika pihak Bank menelepon untuk mengklarifikasi. Singkat cerita, saya sudah mengajukan form aplikasi….dan setelah sekian lama menunggu tak kunjung ada jawaban. Ah, sudahlah. Ok, saya putuskan untuk tidak melanjutkan kembali rencana saya untuk membuat kartu kredit itu.

Teman saya (sebut saja bunga, bukan nama asli), saking girangnya punya kartu kredit pertama, ia memotret kartunya dan membaginya di WAG (Whatsapp Group). Hingga beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa kegirangannya itu berisiko, kemudian ia segera menghapus fotonya dan meminta seluruh anggota WAG menjaga kerahasiaan datanya. Belakangan juga ia ternyata memblokir kartu kreditnya dan membuat yang baru.

Waktu berlalu, segala sesuatu ada hikmahnya saat hidayah itu menyapa. Saya merasa bersyukur sekali niat saya membuat kartu kredit saat itu tidak terlaksana. Bagaimana ceritanya punya kartu utang kok bangga? Kartu utang kok dijadikan gaya-gayaan? Dan darimana tolok ukur bahwa kartu utang itu menjadi identitas orang berada? Rasulullah senantiasa berdoa agar terhindar dari utang, ini malah kok bangga punya utang? Seharusnya utang (riba) itu menjadi aib dan untuk menutup aib itu maka caranya ada dua: lunasi utangnya atau berusaha untuk tidak memulai utang baru.

Utang diperbolehkan untuk kebutuhan yang sifatnya pokok, bukan untuk memenuhi gaya hidup, keinginan, dan keserakahan. Meskipun kartu utang tersebut jarang digunakan atau dilunasi sebelum jatuh tempo dan dengan gimmick cicilan 0%, tapi pada prinsipnya adalah pemilik kartu utang menyetujui akad riba pada permohonan aplikasi di awal. Maka, solusi bagi yang punya kartu utang adalah memotong kartu fisiknya (agar tidak bisa digunakan lagi) dan memproses penutupan ke bank. Sungguh hidup tanpa utang itu lebih menenangkan. Lebih baik punya barang lama sejuta kenangan daripada punya barang baru sejuta per bulan.

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Kartu Utang

  1. farid

    oia ka, gimana komentar kaka soal penggunaan kartu kredit syariah? apakah masih boleh dipakai?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s