Riba Penyebab Inflasi

Menurut Kamus KBBI, inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya uang yang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang. Akibatnya, harga barang terus meroket sedangkan daya beli masyarakat menurun. Pendapatan masyarakat tidak imbang dengan kenaikan harga barang. Contoh sederhana adalah harga rumah 5 tahun lalu misalnya 200 juta rupiah, harga hari ini bisa naik dua kali lipat menjadi 400 juta.

Mari kita telaah apa itu riba dan sistem kerjanya (penjelasan riba dan kaidahnya dapat dibaca di tulisan sebelumnya). Kita gunakan kaidah riba, yaitu setiap utang-piutang yang ditarik manfaat (tambahan) di dalamnya maka itu riba. Misalnya pinjam uang di Bank sejumlah 50 juta, kemudian Bank mempersyaratkan jangka waktu pengembalian selama 5 tahun dengan total bunga 20 juta, sehingga yang harus dikembalikan debitur kepada Bank yaitu sejumlah 70 juta (komponen pokok dan bunga).

Dalam jual beli rumah, Bank memiliki produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Katakanlah A ingin membeli rumah seharga 400 juta, kemudian ia mengajukan pinjaman kredit ke Bank. Setelah proses verifikasi oleh Bank, akhirnya permohonan KPR A dikabulkan oleh Bank dengan besaran kredit 80% dari harga rumah. Dengan catatan, uang muka telah dibayarkan oleh A sebesar 20%, yaitu 80 juta. Maka, kredit yang diterima A dari Bank sebesar 320 juta.

Dana segar yang diterima A tersebut harus diangsur kepada Bank dalam jangka waktu 15 tahun dengan komponen pokok dan bunga total sebesar 450 juta. Maka, ada tambahan bunga sebesar 450-320 = 130 juta yang menjadi beban A.

Suatu ketika A ingin menjual rumah tersebut, maka harga terendah yang menjadi acuan A adalah harga rumah saat ia beli ditambah dengan bunga riba yang harus dia angsur kepada Bank, yaitu sebesar 400 + 130 = 530 juta. Dari sini sudah terlihat kenaikan harga rumah. Beban bunga tentunya tidak mau menjadi tanggungannya, pasti akan dibebankan kepada pembeli dengan memasukkannya sebagai harga jual. Belum ditambah lagi dengan keuntungan yang ingin diperolehnya. Maka, kenaikan harganya sudah belipat-lipat.

Atau misalnya A membeli rumah tersebut dengan maksud untuk disewakan lagi ke orang. A akan berhitung berapa cicilan per bulan yang harus dibayar ke Bank dan keuntungan yang ingin ia peroleh dari biaya sewa. Dari total pinjaman sebesar 530 juta dengan jangka waktu 15 tahun (180 bulan), katakanlah cicilan per bulan sebesar 2,9 juta. Maka, harga acuan sewa terendah adalah besar cicilan per bulan ditambah dengan keuntungan yang ingin diperolehnya.

Jika rumah tersebut disewakan per tahun, maka harga sewanya adalah 2,9 x 12 = 34,8 juta ditambah keuntungan. Uang sewa tersebut digunakan untuk menutupi cicilannya yang sudah ada komponen bunga di dalamnya. Tidak mungkin A yang akan menanggung bunganya, pastinya akan dibebankan kepada penyewa. Maka, harga sewanya pun menjadi tinggi.

Maka sudah jelaslah bahwa bunga riba itu yang menyebabkan harga barang semakin naik, tidak imbang dengan kemampuan. Uang dianggap sebagai komoditas yang diperjualbelikan melalui sistem kredit pakai bunga, bukan sebagai alat tukar sehingga nilai uang terus merosot (inflasi). Ini berakibat kesetimbangan ekonomi menjadi rusak, dampaknya sangat menzalimi masyarakat. Kalau dulu dengan dengan uang 10.000 bisa beli banyak macam jajanan, hari ini malah untuk ongkos pun tak cukup.

Jika kita menyimpan uang 10 juta dalam brankas dan kita kunci, lalu kita diamkan selama 10 tahun. Setelah 10 tahun, uang tersebut masih utuh dengan jumlah yang sama. Namun, ketika akan digunakan sebagai alat tukar (jual beli), ternyata uang tersebut tak mencukupi. Siapakah yang mencuri? Padahal jumlahnya masih sama selama 10 tahun. Karena riba lah yang telah mencuri nilai mata uang tersebut. Karena riba lah yang membuat inflasi itu terjadi. Teramat nyata kezalimannya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً  ۖ  وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 130)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s