Category Archives: Islam

Riba Penyebab Inflasi

Menurut Kamus KBBI, inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya uang yang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang. Akibatnya, harga barang terus meroket sedangkan daya beli masyarakat menurun. Pendapatan masyarakat tidak imbang dengan kenaikan harga barang. Contoh sederhana adalah harga rumah 5 tahun lalu misalnya 200 juta rupiah, harga hari ini bisa naik dua kali lipat menjadi 400 juta.

Mari kita telaah apa itu riba dan sistem kerjanya (penjelasan riba dan kaidahnya dapat dibaca di tulisan sebelumnya). Kita gunakan kaidah riba, yaitu setiap utang-piutang yang ditarik manfaat (tambahan) di dalamnya maka itu riba. Misalnya pinjam uang di Bank sejumlah 50 juta, kemudian Bank mempersyaratkan jangka waktu pengembalian selama 5 tahun dengan total bunga 20 juta, sehingga yang harus dikembalikan debitur kepada Bank yaitu sejumlah 70 juta (komponen pokok dan bunga).

Dalam jual beli rumah, Bank memiliki produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Katakanlah A ingin membeli rumah seharga 400 juta, kemudian ia mengajukan pinjaman kredit ke Bank. Setelah proses verifikasi oleh Bank, akhirnya permohonan KPR A dikabulkan oleh Bank dengan besaran kredit 80% dari harga rumah. Dengan catatan, uang muka telah dibayarkan oleh A sebesar 20%, yaitu 80 juta. Maka, kredit yang diterima A dari Bank sebesar 320 juta.

Dana segar yang diterima A tersebut harus diangsur kepada Bank dalam jangka waktu 15 tahun dengan komponen pokok dan bunga total sebesar 450 juta. Maka, ada tambahan bunga sebesar 450-320 = 130 juta yang menjadi beban A.

Suatu ketika A ingin menjual rumah tersebut, maka harga terendah yang menjadi acuan A adalah harga rumah saat ia beli ditambah dengan bunga riba yang harus dia angsur kepada Bank, yaitu sebesar 400 + 130 = 530 juta. Dari sini sudah terlihat kenaikan harga rumah. Beban bunga tentunya tidak mau menjadi tanggungannya, pasti akan dibebankan kepada pembeli dengan memasukkannya sebagai harga jual. Belum ditambah lagi dengan keuntungan yang ingin diperolehnya. Maka, kenaikan harganya sudah belipat-lipat.

Atau misalnya A membeli rumah tersebut dengan maksud untuk disewakan lagi ke orang. A akan berhitung berapa cicilan per bulan yang harus dibayar ke Bank dan keuntungan yang ingin ia peroleh dari biaya sewa. Dari total pinjaman sebesar 530 juta dengan jangka waktu 15 tahun (180 bulan), katakanlah cicilan per bulan sebesar 2,9 juta. Maka, harga acuan sewa terendah adalah besar cicilan per bulan ditambah dengan keuntungan yang ingin diperolehnya.

Jika rumah tersebut disewakan per tahun, maka harga sewanya adalah 2,9 x 12 = 34,8 juta ditambah keuntungan. Uang sewa tersebut digunakan untuk menutupi cicilannya yang sudah ada komponen bunga di dalamnya. Tidak mungkin A yang akan menanggung bunganya, pastinya akan dibebankan kepada penyewa. Maka, harga sewanya pun menjadi tinggi.

Maka sudah jelaslah bahwa bunga riba itu yang menyebabkan harga barang semakin naik, tidak imbang dengan kemampuan. Uang dianggap sebagai komoditas yang diperjualbelikan melalui sistem kredit pakai bunga, bukan sebagai alat tukar sehingga nilai uang terus merosot (inflasi). Ini berakibat kesetimbangan ekonomi menjadi rusak, dampaknya sangat menzalimi masyarakat. Kalau dulu dengan dengan uang 10.000 bisa beli banyak macam jajanan, hari ini malah untuk ongkos pun tak cukup.

Jika kita menyimpan uang 10 juta dalam brankas dan kita kunci, lalu kita diamkan selama 10 tahun. Setelah 10 tahun, uang tersebut masih utuh dengan jumlah yang sama. Namun, ketika akan digunakan sebagai alat tukar (jual beli), ternyata uang tersebut tak mencukupi. Siapakah yang mencuri? Padahal jumlahnya masih sama selama 10 tahun. Karena riba lah yang telah mencuri nilai mata uang tersebut. Karena riba lah yang membuat inflasi itu terjadi. Teramat nyata kezalimannya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً  ۖ  وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 130)

Advertisements

Rumah KPR, Kontrakan, dan Rumah di Surga

Persamaan rumah KPR dan kontrakan adalah yang mendiami rumah tersebut sama-sama bukan pemilik rumah. Yang beli pakai KPR, bukti kepemilikan hak milik (SHM) masih ditahan oleh bank, dan akan diberikan jika sudah lunas. Sedangkan yang ngontrak, jelas rumah bukan miliknya.

Perbedaannnya adalah yang ngontrak bayar secara tunai (per tahun), selesai. Yang beli pakai KPR, pusing bayar cicilan, jangka waktu bisa sampai 15-20 tahun. Ditambah bunga riba sekian persen.

Mari kita renungkan doa Siti Asiyah, istri Firaun dalam Q.S At-Tahrim (66) ayat 11, Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَ ۘ  اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”

Doa ini bisa juga kita dawamkan jika ingin Allah bangunkan rumah di surga, tanpa ngontrak dan tanpa KPR. Allah berikan sebagai bentuk karunia-NYA. Maka, bagaimana mungkin doa ini bisa dikabulkan jika ketika di dunia membeli rumah dengan cara KPR (kredit pakai riba), yang sudah jelas ancamannya neraka yang menyala-nyala?

Manusia hidup di dunia pada hakikatnya juga sebagai kontraktor (pengontrak). Segalanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Menumpuk-numpuk harta dan barang justru akan sangat merepotkan jika masa kontrak sudah habis. Maka, sebisa mungkin bekal yang dibawa adalah yang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat. Tinggalkanlah bawaan yang akan menjadi beban.

Kehidupan di dunia juga tidak lama. Dunia hanya sementara sebagai tempat singgah, akhiratlah tempat kembali kita, selama-lamanya. Maka, jalan yang akan menyelamatkan adalah sebagaimana prinsip kontraktor: mempersedikit beban dan memperbanyak bekal.

Ilustrasi Riba di Keseharian Kita

Sebut saja bunga, bukan nama sebenarnya. Nama aslinya adalah riba, dipoles sedemikian rupa supaya terlihat menarik. Dalam Bahasa inggris disebut interest (kepentingan, minat, keuntungan). Dalam bahasa arab, riba berarti bertambah dan tumbuh. Untuk memahami riba dalam keseharian kita, berikut diilustrasikan sepuluh kaidah umum dalam memahami riba (Referensi: M. Abduh Tuasikal. 10 Kaidah Memahami Riba).

Kaidah #1

Utang yang dikembangkan termasuk riba.

Contoh:
Pinjam uang satu juta rupiah, mesti dicicil 100 ribu tiap bulan dalam setahun, sehingga totalnya menjadi 1,2 juta rupiah. Maka kelebihan 200 ribu ini adalah riba.

Kaidah #2

Tambahan dari transaksi utang sebagai ganti karena adanya penundaan waktu pembayaran adalah riba.

Contoh:
Pengajuan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) ke Bank selama lima tahun sebesar 400 juta. Namun, karena tidak bisa dilunasi selama jangka waktu lima tahun, kemudian Bank mengubah transaksinya (restrukturisasi). Jangka waktu diperpanjang hingga 10 tahun dan harga bertambah menjadi 600 juta sebagai kompensasi atas penundaan pembayaran.

Kaidah #3

Semua utang yang menghasilkan manfaat (apapun bentuknya), statusnya adalah riba.

Contoh:
Ade memberi utang kepada Bude, akibat bantuan yang diberikan Ade kepada Bude tersebut maka Bude mentraktir Ade saat makan siang sebagai “wujud terimakasih”. Maka, traktiran ini adalah serupa manfaat yang didapat akibat memberi utang. Jalan yang lebih selamat adalah menolaknya, kecuali traktiran tersebut sudah menjadi kebiasaan sebelumnya.

Ade sebagai nasabah Bank X, kemudian setiap nasabah Bank X tersebut akan mendapatkan diskon khusus (manfaat) setiap berbelanja di merchant tertentu dengan menggunakan kartu debit atau kartu kreditnya. Maka, diskon ini serupa manfaat akibat nasabah menyimpan uang di Bank, karena pada prinsipnya nasabah memberi utang kepada Bank dan Bank memberi manfaat. Jalan yang lebih selamat adalah tidak mengambil manfaat tersebut.

Kaidah #4

Riba tetap tidak boleh, baik jumlahnya banyak maupun sedikit.

Contoh:
Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang merupakan program bantuan permodalan dari pemerintah dengan bunga kecil, hanya 9% per tahun, tetap tidak boleh dimanfaatkan. Cicilan kartu kredit 0% tetap tidak boleh dimanfaatkan karena sudah menyetujui akad riba saat menandatangani aplikasi.

Kaidah #5

Tidak diperkenankan ada kenaikan harga pada transaksi utang-piutang.

Contoh:
Ade memberi utang di tahun 2010 kepada Bude sebesar 100 juta, hingga di tahun 2018 ini nilai uang tersebut menyusut jauh dengan alasan inflasi, sehingga utang 100 juta tersebut harus dibayar 110 juta. Padahal, penyebab inflasi itu adalah riba (lingkaran setan). Nilai mata uang menurun dan harga barang naik, karena mata uang dianggap sebagai komoditas yang diperjualbelikan bukan sebagai alat tukar atau alat pembayaran.

Kaidah #6

Riba berlaku untuk semua jenis mata uang/alat tukar.

Contoh:
Riba tidak hanya berlaku pada uang kartal (uang logam dan kertas), tapi juga pada mata uang/alat tukar yang dilakukan secara tidak tunai dan ada jeda waktu. Tidak diperbolehkan jual beli emas secara kredit maupun tukar tambah.

Kaidah #7

Saling ridha tidak perhitungkan dalam riba.

Contoh:
Debitur telah menandatangani akad KPR dengan Bank dan beralasan debitur ridha dengan ketentuan memberikan bunga/margin pinjaman kepada Bank sesuai dengan ketentuan Perjanjian Kredit. Meski debitur “ridha” dengan memberi tambahan tersebut, tetaplah terhitung sebagai pemberi riba dan Bank sebagai pemakan riba.

Kaidah #8

Tidak boleh mengajukan syarat tambahan yang menguntungkan pihak pemberi utang.

Contoh:
Ade mau memberi utang kepada Bude dengan syarat Ade boleh menggunakan sepeda motor Bude kapanpun diperlukan.

Kaidah #9

Kredit dengan melibatkan pihak ketiga punya kemungkinan besar melakukan riba.

Contoh:
Jual beli sepeda motor secara kredit, harga pasaran 18 juta rupiah dan transaksinya dengan dealer sebagai penjual, tapi pelunasannya ke lembaga keuangan (leasing) secara kredit dalam jangka waktu lima tahun dengan total 25 juta rupiah.

Kaidah #10

Pengelabuan atau akal-akalan dalam riba tetap tidak diperbolehkan.

Contoh:
Ade menjual sebidang tanah kepada Bude secara kredit sebesar 200 juta dengan jangka waktu dua tahun. Sebulan setelah pelunasan, Ade ingin membeli kembali sebidang tanah tersebut dari Bude seharga 170 juta secara tunai.

Menjalani Hisab Sendiri-Sendiri

​”Saya masih bertahan bekerja di bank konvensional karena mengikuti fatwa fulan, karena kalau bukan kita, maka siapa lagi yang akan mengubahnya supaya menuju syariah … ”

“Saya masih bertahan jadi pegawai bank syariah, karena ada DSN nya, segala aktivitas perbankan diawasi …”

“Saya kira boleh-boleh saja, toh fulan juga sependapat dibolehkannya bekerja di bank konvensional ….”

“Jika bisnismu mau cepat tumbuh, berhutanglah ke bank… Lagian mana bisa mau beli rumah, beli mobil tanpa berhutang ke bank…”

Aturan Allah itu jelas, halal dan haram. Hitam dan putih, tidak ada abu-abu. Pilihannya hanya ada dua, lakukan atau tinggalkan; halalkan atau putuskan (lho..). Jikapun ada yang meragukan hatimu (syubhat), maka tinggalkan. Itu lebih baik bagimu.

Allah senantiasa menjaga kemurnian Al Quran sepanjang masa (Q.S Al Hijr: 9). Maka, aturan, perintah, dan larangannya telah jelas termaktub dalam kitab suci Nya. Jika meyakini ayat Allah yang satu, lantas mengapa meragukan ayat Allah yang lain? Apa hanya ingin ayat yang sesuai dengan hawa nafsu pribadi? Lantas apa Al Quran kita menjadi berbeda?

Seadil-adilnya hisab adalah di yaumil hisab kelak, meski sebesar zarrah pun tak luput dihisab. Manusia sangat sibuk dengan urusan dirinya sendiri, bahkan melupakan anak istri dan keluarganya saat di dunia, saking ketakutannya menghadapi hari penghisaban. Saking sebegitu egoisnya manusia. Tak bisa menolong satu sama lain.

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ مَاۤ اَدْرٰٮكَ  مَا يَوْمُ الدِّيْنِ

“Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari Pembalasan itu?” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 18)

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْــئًا  ۗ  وَالْاَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلّٰهِ

“(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 19)

“Ya Allah…. aku melakukan begini karena aku mengikuti fatwa si fulan ….”

“Ya Allah…. aku mengikuti pendapat si fulan sewaktu melakukan ini itu …”

Maka, tidak diterima lagi semua alasan. Kata Allah,

“Bukankah sudah sampai kepadamu perintah dan laranganku …??”

“Bukankah sudah datang Rasul di antara kalian yang menyampaikan risalah Ku??”

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ يَتَحَآجُّوْنَ فِى النَّارِ فَيَقُوْلُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْۤا اِنَّا كُنَّا لَـكُمْ تَبَعًا فَهَلْ اَنْتُمْ مُّغْنُوْنَ عَنَّا نَصِيْبًا مِّنَ النَّارِ

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?” (QS. Ghafir 40: Ayat 47)

قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْۤا اِنَّا كُلٌّ فِيْهَاۤ   ۙ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ حَكَمَ  بَيْنَ الْعِبَادِ

“Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (QS. Ghafir 40: Ayat 48)

وَقَالَ الَّذِيْنَ فِى النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوْا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ

“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja.” (QS. Ghafir 40: Ayat 49)

قَالُوْۤا اَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيْكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنٰتِ   ۗ  قَالُوْا بَلٰى   ۗ  قَالُوْا فَادْعُوْا   ۚ  وَمَا دُعٰٓـؤُا الْكٰفِرِيْنَ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ

“Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata? Mereka menjawab, Benar, sudah datang. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, Berdoalah kamu (sendiri!) Namun, doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir 40: Ayat 50)

 

Kapan Taaruf

Ini tentang pemuda usia 27 tahun yang tengah berikhtiar ingin menggenapkan separuh agamanya. Dia sudah mengikuti seminar-seminar pranikah, bahkan memberanikan diri mengikuti sekolah pranikah semenjak tingkat 3 di bangku kuliahnya. Harapannya adalah bisa segera menikah selepas lulus kuliah. Setidaknya itulah semangatnya, satu hal yang ia yakini adalah wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Si pemuda pun berupaya hijrah memperbaiki dirinya. Beginilah ceritanya.

Selepas lulus kuliah, wanita idaman yang diharapkan itu belum juga nampak. Diapun kerap merasa baper dengan pertanyaan-pertanyaan, “Kapan nikah? Sudah ada calon?”. Yang kemudian dijawab dengan nada tegar namun sebenarnya ia meronta, “Masih gelap, mohon doanya.” Dijawabnya dengan senyum manis padahal hati meringis.

Si pemuda menghajatkan mendapatkan pasangan hidup tanpa proses pacaran, meskipun ia masih belum terbayang bagaimana jalannya. Ia meyakini jika ingin pernikahan yang berkah maka harus dilalui dengan proses yang berkah. Dan status tak pernah pacaran adalah yang amat disyukuri di kemudian hari. Meski pada masanya ia pernah merasa minder dengan status yang tak laku-laku, namun dengan bangga dan bersyukur bahwa Allah menjaga dirinya dari gejolak masa muda yang tak karuan. Lebih baik menabung untuk melamar dan memberi mahar anak orang ketimbang menghamburkan uang yang malah ternyata hanya untuk menjaga jodoh orang.

Berawallah dari form data diri rekomendasi dari seorang mentor dan profil yang dilihat dari latar belakangnya nampaknya tak pernah beririsan. Bukan teman sekolah, tak juga teman di kampus, belum pernah satu organisasi, secara asal daerah pun bukan dari daerah yang sama dengannya. Si pemuda campuran Sunda Jawa, namun lebih kental Sundanya. Sementara yang diperkenalkan (selanjutnya dipanggil G) berdarah melayu-Pontianak. Apa yang bisa mempersatukan? Kesamaannya, mereka sama-sama tinggal lama di Bandung. Kesamaan lain? Perlu ditelurusuri lewat pertemuan.

Dan hari untuk bertemu dan melihatnya pun tiba, dengan ditengahi seorang mentornya. Pelataran masjid Istiqomah di Minggu pagi menjadi titik awal pertemuan. Saat dimana keduanya bisa saling mengklarifikasi dan bertanya tentang apa yang sudah disampaikan di form data diri. Tentang visi-misinya, kriteria calon, profil keluarga, kelebihan kekurangannya, dan hal-hal perintilan lain yang bisa memunculkan rasa saling ketetarikan. Keduanya berupaya memahami bahwa tak ada manusia yang sempurna, tapi bisa saling menyempurnakan. Apa yang lemah di satu sisi, dikuatkan di sisi lainnya. Apa yang tak dipunyai, sama-sama saling melengkapi.

G yang pertama kali membuka diri dengan membeberkan pengakuannya, “Saya tidak terbiasa beres-beres, tak bisa masak, dan tak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.” Si pemuda sempat bergumam dan berusaha meyakinkan hatinya bahwa selama bukan hal yang prinsip itu bukanlah suatu penghalang. Dan kemudian si pemuda berupaya meyakinkan, “Itu bukanlah kekurangan, hanya perlu pembiasaan.” Kemudian G malah semakin membeberkan pengakuannya, yang jika didaftar hampir mencapai 10 kekurangannya. Ah tapi ia percaya dibalik 10 daftar kekurangan itu, ada 20 daftar kebaikan yang justru dibutuhkan oleh si pemuda.

Dari pertemuan pertama, si pemuda diminta datang bertemu orang tuanya dua pekan kemudian. Dag…dig…dug. Bukan jeda waktu yang lama untuk mempersiapkan mental. Namun, dua minggu berselang si pemuda merasa masih belum siap mental. Bukan ragu-ragu, hanya perlu selang waktu lagi untuk memanjatkan doanya Nabi Musa ketika akan menghadap Firaun, “Lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.”

Memang yang akan ditemui si pemuda bukanlah Firaun, tapi beliaulah wali yang akan memilih kepada siapa akan menyerahkan tanggung jawab anak perempuannya. Seminggu kemudian dengan modal nekad dan pisang molen kartika sari si pemuda memberanikan diri mendatangi rumahnya, dengan tekad: “Bismillah, mau jomblo seumur hidup atau nikah?” Tentu pilihan kedua yang dibela-belanya.

Menghadap calon mertua lebih mendebarkan daripada interview lamaran kerja oleh Direktur perusahaan. Karena jawaban interview bisa di-set dan dipoles sedemikian rupa, tapi siapa bisa kira pertanyaan calon mertua? Sampai-sampai si G sempat mengingatkan untuk rileks saja, santai kayak di pantai. Namun, si pemuda tak dapat menutupi gurat dan air muka tegangnya. Kurang bisa meyakinkan calon mertua itu artinya memperpanjang tiket terusan menjomblo. Jodoh adalah takdir, sementara jomblo adalah nasib.

Dari pertemuan itu kemudian dilanjutkan dengan pertemuan antar dua keluarga. Saling memperkenalkan. Mempertemukan calon dengan orang tua sekaligus meminta pendapat tentang siapa yang dipilih anaknya akan memperkuat hati untuk memilih. Berselang waktu tiga bulan dari pertemuan pertama, si pemuda memberanikan diri mengajak serta keluarga untuk melamar di tanggal 19 Desember 2015. Di tanggal ini, setahun kemarin, si pemuda menyatakan keseriusan dan komitmen ingin membangun rumah tangga bersamanya.

Tanggalkanlah perasaanmu saat akan memilih pasangan hidup. Karena ketika kamu libatkan perasaan maka disitulah nafsu turut hadir. Nafsu datangnya dari setan, dan ini akan menghalangi kejernihan hatimu untuk berserah.

Memilih pasangan hidup adalah tentang berserah dan menerima. Dan disaat itulah keberserahan si pemuda tadi diuji, menguji saat melantunkan doa istikhoroh, “Jika ia yang terbaik, maka mudahkan… Dan jika ia bukan yang terbaik, maka pilihkan dengan yang lebih baik.” Benarkah hatinya sudah posisi netral saat bermunajat?

Jika kamu menemukan hal-hal yang berpotensi baik darinya, dan kamu bisa berpotensi baik untuknya, maka majulah temui walinya untuk meminta restu menikahinya. Karena lelaki sejati adalah ia yang berani menemui wali pujaan hatinya untuk satu niat mulia: menikah. Alangkah lebih indah menggenggam erat tangannya setelah menggenggam erat tangan walinya untuk berucap qabul.