Administrasi (Birokrasi) Bikin Ribet

Apa-apa yang terkait dengan urusan administrasi selalu bikin ribet. Harus ada ini, harus ada itu, harus kesini dulu, harus kesana dulu. Begitu kaku dan terstruktur. Tadi pagi saya mengurus perpanjangan STNK motor, karena sudah lima tahun jadi harus dicek fisik terlebih dahulu. Untuk cek fisik, saya harus membuka sebagian bodi motor saya. Dan ternyata, setelah di depan petugas, skrup-nya tidak bisa dibuka karena sudah aus. Padahal sudah mengantre. Maka saya harus ke bengkel dulu untuk membuka skrup itu.

Setelah bisa dibuka, saya antre lagi dari belakang hanya karena secuil skrup. Baru kemudian motor saya bisa dicek fisik untuk didata nomor rangkanya. Lalu, saya melanjutkan antrean ke bagian lainnya. Beberapa waktu lalu juga saya mengurus SIM. Sama saja ribetnya kalau mengurus administrasi dan yang berhubungan dengan birokrasi. Itulah mengapa, (banyak?) orang alergi dengan birokrasi. Kesannya ribet dan (maaf) rawan kecurangan.

Read the full post »

Lebih Baik Nambah daripada Mubazir

Saya perhatikan, ada orang yang mengambil makanan tapi kemudian malah tidak jadi dimakan karena mungkin kenyang atau hilang selera. Ini biasanya terjadi di acara resepsi atau acara yang ada makan prasmanannya. Padahal, itu akan menjadi mubazir dan kasihan juga orang yang tidak kebagian. Mungkin karena malu bolak-balik mengambil makanan, jadinya malah mengambil banyak sekaligus. Dan belum tentu juga akan habis dimakan.

Merasa malu untuk nambah dan takut dikira aji mumpung, mumpung makan gratisan. Padahal, makanan gratisan juga harus dihargai. Jangan menjadi mubazir. Lebih baik mengambil secukupnya saja, bila kurang, nambah lagi secukupnya juga. Lebih baik nambah daripada mubazir dan menumpuk di tempat sampah. Sesungguhnya para mubadzirin itu saudara setan …(17:27)

Fokus Meningkatkan Kelebihan

Dalam proses belajar, tentunya kita mau apa yang kita pelajari bisa langsung kita kuasai. Setiap menemui hal-hal baru, kita ingin cepat menguasainya. Belajar ini-itu, kesana-kemari, hanya untuk memenuhi hasrat keingintahuan kita. Namun sayangnya, kemampuan manusia itu terbatas, ada hal yang memang bisa dikuasai, tapi ada sebagian lainnya yang sepertinya kita harus “berbagi tugas” dengan orang lain.

Keingintahuan kita memang boleh jadi tinggi. Tapi, kita juga harus ingat dimana letak dan sejauh mana kemampuan kita. Jangan sampai hal yang menyita rasa ingin tahu tersebut malah membuat kita tidak fokus pada kelebihan yang masih bisa dikembangkan lagi. Kita terlena pada hal yang menjadi “bagian” orang lain, lalu kemudian kita lupa pada apa yang menjadi “bagian” kita.

Read the full post »

Mimpi untuk Orang Lain

Menyambung tulisan sahabat saya, Yuma, tentang penguatan visi atas mimpi-mimpi kita, saya pun memiliki pandangan yang serupa. Bahwasannya dalam mengejar mimpi kita masing-masing, visi itu harus ditaruh di garda terdepan yang berfungsi sebagai arah. Visi ini juga yang nanti akan menjawab pertanyaan batin, “Mau kemana saya?”

Mimpi memang identik dengan idealisme. Apalagi bagi seorang pemuda; pasti banyak mimpi di kepalanya yang ingin dia buat menjadi konkrit. Saya pun seperti itu, banyak ini-itu yang ingin saya realisasikan, segera! Tapi ternyata banyak pula realitas yang saling berbenturan dengan mimpi-mimpi itu. Lambat laun, mimpi-mimpi besar itu terkikis pelan-pelan.

Read the full post »

Scholarship Hunter Meeting

Kemarin sore, saya mendapat telepon dari Bu Noi bahwasannya saya dan beberapa teman lain diundang untuk menghadiri orientasi studi di luar negeri (Beeuh, asa keren nya?). Acaranya berlangsung tadi pagi sampai siang ini di hotel Imperium. Ternyata, acara tersebut difasilitasi oleh BPKLN Kemendikbud, yang mana ini adalah kelanjutan dari proses beasiswa DIKTI yang kami terima.

Dalam acara tersebut, banyak juga mahasiswa dari jurusan dan kampus yang berbeda. Kami sama-sama menerima sokongan studi dari beasiswa DIKTI ini. Isi acaranya sebenarnya lebih kepada wejangan-wejangan dan beberapa hal teknis yang harus kami ketahui. Dan juga kewajiban dan hak yang melekat pada sang scholar. Kemudian, acara dilanjutkan dengan diskusi. Berikut dokumentasi setelah acara.

Dilanjutkan dengan makan-makan …

Mozaik-mozaik ini akan menjadi bagian cerita saya di masa yang akan datang …

(Belum) Percaya Produk Lokal

CAFTA memang telah diberlakukan sejak Januari 2010 silam. Ini artinya era perdagangan bebas telah dimulai. Dan ini berarti pula persaingan produk dibuka lebar-lebar. Okelah, kita sering menggaungkan slogan “Cintai produk-produk Indonesia” yang intinya adalah untuk meningkatkan daya jual produk lokal. Tapi slogan itu selalu menjadi antitesis ketika produk-produk made in China malah membanjiri pasar.

Bahkan untuk mainan anak sekalipun. Sejak saya masih usia bermain (dan lucu-lucunya…), saya tidak mengerti apa maksud dari made in China yang tertera di bagian bawah mainan tersebut. Sering saya mengejanya dalam bahasa Indonesa: ma – de – in – chi – na. Baru kemudian saya tahu artinya—dari ibu saya, bahwa itu artinya dibuat di China. Belum paham apa itu ekspor – impor.

Read the full post »

No Such Thing as Free Lunch

Meskipun ungkapan pada judul tulisan ini banyak yang sepakat, tapi free software adalah antitesis dari ungkapan tersebut. Dengan kata lain, pendukung free software (freeware) memiliki satu ungkapan lain: ‘there is such thing as free lunch’. Tentu saja yang dimaksud free lunch disini adalah free software. Dan segala sesuatu itu memang tidak ada yang gratis, yang ada hanyalah ada pihak tertentu yang membayarnya (Someone must pay the price). Kita dapat gratisnya.

Lalu, darimana para perusahaan pembuat freeware mendapatkan dana? Jika mereka tidak memungut biaya dari konsumen. Di beberapa Negara Eropa dan Amerika, pajak mereka begitu tinggi. Salah satu alokasinya adalah untuk pembuatan dan pengembangan software gratisan ini. Jadi, perusahaan freeware tersebut dibiayai oleh pajak rakyatnya sendiri.

Dan Indonesia, sebagai konsumen (user) hanya tahu tinggal pakai saja. Jadi, tidaklah benar sebuah ungkapan ‘there is such thing as free lunch’, because someone has paid the price.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.