Kultur Berlalu-lintas

“Dosa besar” adalah parkir mobil di pinggir jalan yang lagi macet-macetnya | “Dosa berlipat” adalah pengendara sepeda motor yang “berinisiatif” untuk lewat trotoar dan “menginspirasi” pengendara lainnya untuk melakukan hal yang sama | “Tanpa dosa” adalah kalau ditanya kenapa melakukan “dosa besar” dan “dosa berlipat”, maka jawabnya “Ah, yang lain juga gitu, kok”.

Pernah jadi celetukan, kalau berlalu-lintas di negeri Sakura sono, yang refleks diucapkan adalah tasbih; karena merasa kagum dengan apa yang dilihat dan dirasakan sendiri. Bagaimana etika berlalu-lintas itu benar-benar ada! Budaya antre selalu dijunjung. Meskipun katanya orang Jepang gak megang agama, tapi mereka megang kuat kultur (aturan gak tertulis) yang justru itu jadi penjaga nilai hidup dan etika bermasyarakat.

Kalau berlalu-lintas dimari, yang refleks diucapkan adalah istigfar, hehe; atas apa yang dilihat dan dirasakan sendiri. Jalanan barolong, angkot ngetem, adat berlalu-lintas yang punya motto: senggol bacok, sorodot gaplok, perepet jengkol! Dan berprinsip: asal bisa maju dan gak nyenggol. Meskipun kita beragama, tapi kita minim kultur. Sehingga dalam keadaan gak ada aturan tertulis tentang etika berlalu-lintas, kita gak ada pegangan sama aturan yang gak tertulis (kultur).

Maaf kalau harus membanding-bandingkan… supaya kita bisa belajar dari siapapun dan dari manapun. Cag ah!

Catatan Perjalanan (5): Masjid

Mengobati kerinduan setelah sekian lama gak mendengar adzan dari menara masjid selama tinggal di Jepang; kini kembali mendengar adzan dari menara Masjid Putra, Putrajaya, KL. Setiap yang akan masuk ke masjid ini diharuskan menutup hijab; tidak terkecuali para turis asing disediakan juga bagi mereka jubah pinjaman untuk menutup auratnya.

Berpose di depan Masjid Putra, Putrajaya, KL>

Berpose di depan Masjid Putra, Putrajaya, KL.

Masjid Putra ini berada di kompleks pemerintahan pusat-nya Malaysia. Ke sebelah kanan dari foto di atas adalah “istana merdeka”-nya Perdana Menteri Malaysia, Sri Mohd Najib. Kemudian, menyusuri jalan utama di Putrajaya, maka di kiri-kanan jalan terdapat gedung-gedung Kementerian. Semisal Jalan Soedirman dan Thamrin di Jakarta.

"Istana Merdeka"-nya Perdana Menteri Malaysia di Putrajaya, KL.

“Istana Merdeka”-nya Perdana Menteri Malaysia di Putrajaya, KL.

Di Kuala Lumpur, sebenarnya terdapat beberapa masjid terkenal, seperti Masjid Jameek di depan Taman Merdeka. Mayoritas masjidnya megah-megah karena Malaysia sendiri yang mayoritas penduduknya muslim.

Berpose bareng keluarga di depan kompleks Masjid Jameek, KL>

Berpose bareng keluarga di depan kompleks Masjid Jameek, KL.

Melanjutkan perjalanan ke kota lain, Penang, maka bisa kita temukan lagi masjid yang dibangun dengan khas. Dalam perjalanan, kami temui masjid terapung menyerupai masjid terapung di Jeddah, yang katanya kerap menjadi destinasi rangkaian perjalanan ibadah haji atau umrah.

Masjid terapung Penang, Malaysia

Masjid terapung Penang, Malaysia

Yang menarik dari sistem perwaktuan di Malaysia sebenarnya termasuk satu daerah waktu dengan WIB (Waktu Indonesia bagian Barat)–silakan lihat timezone, tapi menyamakan standarnya dengan negara bagian Malaysia yang berada di utara Kalimantan yang termasuk WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah). Sehingga jadwal-jadwal sholat nampak tak lazim bagi orang Indonesia kebanyakan; subuh 6 a.m; zuhur 13.22 p.m, Ashar 16.30, magrib 19.22, isya 20.30. Belakangan juga kabarnya sistem perwaktuan di Indonesia akan di-standar-kan menjadi WITA, kabar burung kutengok.

Catatan Perjalanan (4): Efisiensi

Yang saya tahu, ongkos tenaga kerja di Jepang dan di Malaysia tergolong tinggi. Di KL dan di Penang, tenaga kerja paling banyak dari Bangladesh karena mereka mau dibayar murah. Ongkos tenaga kerja yang tinggi ini memberi efek positif untuk memacu berpikir secara teknologi; bagaimana supaya sistem yang berjalan gak terlalu banyak bergantung kepada tenaga manual (manusia).

Mereka lebih sibuk membangun sistem, dan kemudian membiarkan sistem (mesin) itu bekerja mengatur semuanya. Dan setiap elemen yang berada dalam sistem tersebut manut pada aturan sistem yang dibuat secara kaku, gak seperti diatur manual oleh manusia yang notebene banyak toleransi terhadap kesalahan.

Continue reading

Catatan Perjalanan (3): Bahasa dan Budaya

Bukit Bintang, satu distrik di Kuala Lumpur yang kebanyakan orang di sini dari etnis Arab dan Tionghoa. Kebanyakan tulisan juga ditranslasi dengan huruf Arab dan kanji. Dari tempat bertuliskan simbol agama hingga warung remang-remang bercampur baur di sini. Berjalan sedikit kita bisa sampai di Petronas Twin Towers.

Berpose di depan Petronas Twin Towers

Berpose di depan Petronas Twin Towers. Seperti yang saya janjikan, kita bertemu saat purnama di bawah langit KL.

Katanya, orang dari segala kalangan, baik kalangan atas maupun bawah, semua tumplek-tumbleg di sini. Mulai dari perempuan dengan burqo bercadar, sampai yang seperti kekurangan bahan pun ada. Berbicara dengan penduduk lokal dalam bahasa Malay, mengharuskan saya mengingat-ngingat kembali padanan katanya dalam bahasa Indonesia yang baku.

Bukit Bintang, KL, Malaysia. Semisal Braga atau Dago-nya KL.

Bukit Bintang, KL, Malaysia. Semisal Braga atau Dago-nya KL.

Kadang-kadang, mereka mencampurkan bahasa Inggris dan Melayu sehingga bagi saya agak terkesan janggal. Kuala Lumpur, Malaysia, menjadi semacam tempat percampuran budaya dan bahasa. Harus belajar lagi nih, macam pelajaran bahasa sahaja kutengok.

Restoran-restoran yang didominasi oleh etnis Tionghoa. Yang makan kebanyakan bule dan Arab

Restoran-restoran yang didominasi oleh etnis Tionghoa. Yang makan kebanyakan bule dan Arab

Salah satu Mal di distrik Bukit Bintang. Perusahaan Jepang "Uniqlo" sudah merambah KL.

Salah satu Mal di distrik Bukit Bintang. Perusahaan Jepang “Uniqlo” sudah merambah KL.

Toko-toko yang didominasi etnis Arab.

Toko-toko yang didominasi etnis Arab.

Salah satu sudut jalanan di Bukit Bintang, KL. Kemacetan memang satu masalah besar ibukota.

Salah satu sudut jalanan di Bukit Bintang, KL. Kemacetan memang satu masalah besar ibukota.

Tangga menuju Monorail, transportasi massal andalan KL.

Tangga menuju Monorail, transportasi massal andalan KL.

Catatan Perjalanan (2): Fine City

Saya menemukan souvenir menarik di bandara Changi, sepaket gantungan kunci bertuliskan “Singapore is a fine city”. Redaksi “fine city” disini bisa menjadi ambigu, yaitu kota yang baik (bagus) atau kota (yang penuh dengan) denda. Kedua arti dari redaksi tersebut bisa benar; padahal sebenarnya memiliki arti yang saling bertolak belakang.

Singapore is a fine city!

Singapore is a fine city!

Continue reading