Pelangi Ikhtiar

Apa yang kita peroleh itu tak melulu dari apa yang kita usahakan.

Dulu sewaktu saya tinggal di Jepang dan pada saat keuangan mulai menipis, saya pernah coba mencari kerja paruh waktu (arubaito). Berhubung saat itu menjelang pergantian tahun, jadi cukup banyak juga lowongan yang buka. Ada lowongan dari kampus, ada juga lowongan dari luar kampus. Awalnya saya tertarik untuk ikut lowongan membuat kue persiapan Natal, tapi karena berbagai pertimbangan, saya putuskan tidak mengambil lowongan tersebut.

Saya terus mencari lowongan yang dipajang di papan informasi. Saking banyaknya informasi, saya minta Daichi-san—teman Jepang—untuk memilihkan mana yang cocok untuk saya. Lowongan yang buka ada macam-macam, misalnya jadi tukang cuci piring di restoran, jadi kasir kantin, jadi pelayan, dan semacamnya. Tapi, atas rekomendasi Daichi-san, saya tak jadi mengambil lowongan yang ada.

Continue reading

Pelayanan yang Tak Pernah “Tulus”

Sekarang kalau jalan-jalan ke tempat-tempat keramaian biasanya sudah ada fasilitas Wi-Fi gratis. Seperti di Bandung, kalau singgah di taman-taman kota sudah dilengkapi fasilitas Wi-Fi gratis yang bisa terkoneksi langsung dengan perangkat digital. Tanpa prosedur yang rumit, bisa langsung terkoneksi.

Tapi, hal tersebut tak saya jumpai di mal-mal. Memang ada koneksi Wi-Fi yang berseliweran, tapi saya tak bisa langsung konek karena harus mengikuti beberapa prosedur yang merepotkan. Misalnya saya harus memakai kartu GSM tertentu. Maka, meski ada Wi-Fi yang katanya gratis, saya tak bisa terkoneksi dengan internet. Ujung-ujungnya tetap pakai koneksi internet sendiri. Iming-iming gratis seperti tak diikuti “keikhlasan” berbagi, mesti saja ada prasyarat yang merepotkan.

Continue reading

Perjalanan Panjang Menerbitkan Buku “Pojok Gaijin”

Setelah dua bulan lebih blog ini saya biarkan tanpa tulisan baru, pada kesempatan ini saya ingin melemaskan kembali otot jemari saya untuk berbagi pengalaman menerbitkan buku. Alhamdulillah, di bulan Mei ini buku saya yang berjudul “Pojok Gaijin” sudah terbit. Buku tersebut berisi cerita pengalaman dan pemikiran saya selama tinggal di Jepang dalam rangka melanjutkan studi master di Kanazawa University. Saya ucapkan terimakasih kepada Penerbit Diva Press yang telah mewujudkan salah satu mimpi saya.

Prosesnya terbilang panjang, hampir satu tahun jeda antara kirim naskah hingga penerbitan. Tentu rencana yang saya jalankan tak selalu mulus, sempat mengalami beberapa penolakan. Sebelumnya, saya sempat mengirimkan tulisan saya ke redaksi Semut Merah yang pada saat itu sedang membuat projek buku antar anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia. Namun, tulisan saya tak dimuat. Dalam hati saya berbaik sangka, mungkin suatu saat nanti saya bisa bikin buku dengan penulis tunggal nama saya sendiri. Saya tetap meyakini bahwa naskah saya layak terbit, setidaknya itulah yang jadi penguat tekad.

Continue reading

(Jangan) Golput

Pemilu sudah dalam hitungan hari, para caleg mengiklankan diri dengan caranya masing-masing. Bakal calon presiden pun melancarkan strategi marketing, “tunggu hasil pileg”, itu kata yang kerap diucapkan kala ditanya wartawan. Sementara capres lain sudah terang-terangan mengajukan diri. Seperti tak ada pilihan, isu golput menjadi ancaman demokrasi kita. Golput menjadi pilihan, padahal satu suara amat berarti untuk perubahan di negeri ini. Berdasarkan kategorinya, golput dibagi ke dalam tiga jenis: golput administratif, golput teknis, dan golput ideologis.

Continue reading

Virus Sok-Inggris dalam Berbahasa

Saya pernah makan di sebuah restoran yang menyajikan nama menunya dalam bahasa Inggris. Saya pikir mungkin ada bule yang biasa makan disini. Tapi, kemudian otak sains saya sedikit berkalkulasi, berapa persentase bule yang datang ketimbang yang non-bule (orang Indonesia)? Lantas apa bagusnya jika nama menu makanan tersebut ditulis dengan bahasa Inggris? Malah bisa saja ada orang yang tak mengerti dengan nama menu tersebut, kemudian dipilihnyalah menu dengan nama teraneh.

Saya juga pernah melihat informasi sebuah acara yang ditulis menggunakan bahasa Inggris. Saya pikir awalnya acara tersebut dihadiri oleh pembicara internasional. Tapi, pada kenyataannya hanya dihadiri oleh pembicara lokal saja. Lantas, apa bagusnya pengumuman tersebut menggunakan bahasa Inggris? Sementara acara tersebut hanya berskala lokal dan tak ada keterlibatan pihak asing.

Continue reading